Lupa Sandi?

Pesona Kampung Seko

debbie sutrisno
debbie sutrisno
0 Komentar
Pesona Kampung Seko

-- Merambah Kawasan Terjal --

 Satu per satu deru knalpot mulai memasuki persimpangan terakhir. Pos tempat kami berkumpul memarkirkan kendaraan mulai sesak dipenuhi puluhan Mobil //Four Wheel Drive// (4Wd) yang siap membelah salah satu hutan di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Komplotan penarik mobil 4wd dari Kabupaten Luwu, Bone hingga Makassar saling pamer kendaraan seraya sorak sorai dari warga sekitar. Belasan kuda besi beroda dua pun tak lupa diturunkan dari mobil pengangkut, mereka akan menjadi pemandu jalan demi menelusuri kawasan hutan.

Keramaian ini bukan sekedar demi memacu adrenalin menjelajahi keindahan pegunungan dan lembah di Luwu Utara. Namun kami berniat mengunjungi perkampungan Seko yang berada sekitar 136 Km dari Sabbang tempat kami berkumpul. Demi melihat sejauh apa perbaikan jalan yang telah dilakukan pemerintah daerah. Hal ini karena jalan menuju perkampungan Seko terkenal sangat esktrim.

Puluhan Mobil 4WD terparkir rapih
Puluhan Mobil 4WD terparkir rapih


Tepat pukul 11.30, satu persatu mobil dan motor mulai menyalakan mesin. Pertanda perjalanan menuju Kampung Seko segera berangkat. Saya dan empat rekan jurnalis gagal menunggangi mobil 4Wd. Gantinya, kami harus menggunakan mobil standar yang biasa bermain di jalanan aspal. Tapi tekad menyambagi kampung Seko yang sangat terkenal karena perjalanannya tak membuat kami mengurungkan niat.

Perjalanan pun dimulai. Motor dan mobil 4Wd jalan lebih dulu, sedangkan saya bersama rombongan mobil 'aspal' lainnya berada di bagian belakang. Baru sekitar 1 km dari Sabbang, jalan langsung terasa amat kontras. Jauh dari aspal. Hanya batu kerikil dan tanah berbalut pasir menjadi landasan. Kemarau panjang mambuat jalanan sangat kering. Dengan kecepatan kendaraan yang dipacu sedemikian kencang, kabut debu coklat pun kerap kali muncul dan membuat jalanan sulit dilihat.

Pemandangan di awal perjalanan langsung membuat mata kami berbinar. Hijaunya hutan ditambah kejernihan air sungai yang berada tepat dibawah jalanan yang kami lewati membuat kami sulit mengedipkan mata. Ditambah jembatan kayu yang digunakan untuk menyebrang sungai dengan airnya yang jernih dicampur balutan warna hijau dan biru, menjadikan kami bak berada di negeri dongeng.

Satu jam perjalanan telah kami lalui. Tak terasa permukaan jalan yang awalnya hanya kerikil kecil dan tanah, sekarang telah berubah bentuk. Batu-batu besar melebihi kepalan dua tangan orang dewasa bahkan lebih terlihat jelas di depan mata. Tanjakan, sedikit turunan dan alur berkelok mengitari bukit dan lembah terus dilalui untuk tiba di pos kedua. Pemukiman warga yang asri dibelakang salah satu bukit menjadi tempat peristirahatan sebelum kembali menjelajah.

Nikmati saja perjalannya, ini belum seberapa. Jalan masih panjang dan seru. Nanti baru //kerasa// dinginnya kalau udah mulai ke atas," seru Indah Putri Indriani salah satu perempuan yang ikut dalam perjalanan.

Pemandangan bukit sebelum Seko
Pemandangan bukit sebelum Seko

30 menit kami beristirahat dan bercengkrama bersama warga, mesin kendaraan kembali dihidupkan. Perjalanan masih jauh dan menegangkan masih harus kami lalui.

Perkataan Indah memang benar, hamparan keanekaragaman penghuni hutan menjadi teman sepanjang jalan. Kami seakan tersihir dengan berbagai macam pohon yang tinggi menjulang. Ditambah suara berbagai macam hewan seperti burung hingga serangga.


Sayang kesenangan mata tak sebanding dengan badan. Jalanan yang bisa dibilang sangat hancur karena terbuat dari batu-batu besar, mungkin dar ibatu sungai dan pecahan batu gunung menjadi pelapis tanah. Tak ada jalan mulus sama sekali. Jurang di samping kanan dan tanah longsor di samping kiri menambah kengerian kami kala memasuki hutan pegunungan lebih dalam. Bendera merah tanda jalan mudah rapuh pun kerap kami jumpai sepanjang perjalanan. Beruntung mobil yang tidak layak merambah hutan ini dikendarai supir handal. Meski tak menggunakan kendaraan gunung, dia mampu mengendalikan dan melewati berbagi rintangan di jalan. Mulai dari tanjakan berkelok, sungai dengan bebatuan hingga lumpur basah yang mampu menenggelamkan ban mobil.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 15.30, saat kami tiba di peristirahatan ketiga di kawasan Limbong. Rombongan yang sudah pasti keroncongan dengan sigap menyantap masakan yang disediakan warga setempat. Daging kerbau yang alot dalam mangkuk besar dalam sekejap langsung sirna.

"Ini jadi pos terakhir kita. Setelah ini kita akan menanjak terus menuju Kampung Seko,"  cakap Ketua Indonesia Off Road (IOF) Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu'Mang

Menyebrang Sungai Kedamaian
Menyebrang Sungai Kedamaian



Betul memang, setelah melewati Limbong, perjalanan kami kian mencekam namun meengharukan. Jalanan berkelok menanjak dengan batu besar sebagai aspal membuat kami harus selalu waspada. Terlebih keluar sedikit dari jalur, kami bisa rubuh menuju jurang. Semakin malam, jalur yang dilewati semakin sulit, retakan jalan yang menganga lebar dan panjang harus dilewati dengan kehati-hatian. Jika tidak, mobil akan amblas dan terguling di tengah jalan.

PTO: Pakai Tenaga Orang
PTO: Pakai Tenaga Orang


Tanjakan demi tanjakan terus dijajal. Sungai dan lahan berkas pesawahan di lereng perbukitan pun kami lalui. Cahaya surya telah lama hilang memberikan penerangan. Hanya sorotan lampu menjadi penerang untuk menembus Kampung Seko. Ketegangan pun akhirnya membucah saat sang supir yang diketahui bernama Lenong akhirnya bersua.

"//dah// tinggal sedikit lagi kita sampai. Ini tanjakan terakhir kita sudah masuk Seko," ungkap Lenong menenangkan hati kami yang mulai gusar selama perjalanan.

Hanya lima menit dari tanjakan tersebut, secerca cahaya dari bohlam putih mulai terlihat. Pertanda sebuah perkampungan akhirnya kami temui. Jam di dasbord mobil telah menunjukan pukul 20.20. Artinya hampir delapan jam rombongan melintasi perbukitan yang dihapit pegunungan Tineba dan Quarles.


//Tarian Madero//

Berselang dua jam setelah beritirahat di rumah Sekertaris Desa (Desa), tempat kami merebahkan badan, kami harus bergegas menuju lapangan kampung Seko. Pihak kecamatan telah menyiapkan sebuah acara penyambutan khas kampung Seko.

Tarian Madero. Tarian ini merupakan ciri khas masyarakat Kampung Seko saat mereka melakasanakan acara besar termasuk panen raya dan penyambutan tamu. Hampir seluruh warga Kampung Seko tumpah ruah di lapangan untuk mengikuti tarian Madero

Tarian ini dimulai dengan membuat lingkaran kecil. Bisa beranggotakan 5-10 orang. Mereka semua berpegangan dan menari menggerakan badan dan kaki sambil berputar ke sebelah kanan. Sedikit demi sedikit, warga lain kemudian masuk dan membuat lingkaran semakin besar. Sering kali lingkaran tersebut menyamai setengah lapangan sepakbola. Jika lelah, para penari bisa keluar dengan mudah dan nanti masuk kembali untuk meramaikan tarian. Acara Madero pun disebut bisa berlangsung sampai fajar menjelang. Selain karena jarangnya acara Madero, mereka menganggap kedatangan para tamu harus dihargai sehingga tarian harus dilakukan sampai semua tamu pulang dan beritirahat.

Tarian Madero dilakukan pemuda hingga orang tua
Tarian Madero dilakukan pemuda hingga orang tua


Satu hal lain yang menjadikan tarian ini sangat digandrungi masyarakat khususnya kawula muda, karena dalam kegiatan termasuk tarian Madero, para muda mudi sering kali mencari pasangan atau teman dekat. Pasalnya dengan acara seperti ini, banyak anak muda keluar dari rumah untuk menyaksikan dan mengikuti tradisi Madero.

Tarian ini memiliki banyak fungsi. Selain menjadi tarian penyambut dan kegiatan besar pasca panen raya, Tarian Madero mampu mempertemukan para pemuda untuk mereka menjalin asmara.

--- Ojek Rp 1,5 juta ---

Ojek. Alat transportasi ini sangat lazim dijumpai di negara Indonesia. Terlebih di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, transportasi kendaraan roda dua tersebut seakan menjadi jantung masyarakat dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

Tapi taukah di mana ojek termahal di Indonesia? Jawabannya adalah Luwu Utara. Ojek termahal ini adalah ojek yang melayani perjalanan dari Sabbang ke Kecamatan Seko. Tak tanggung-tanggung, harga satu kali ojek pulang pergi bisa mencapai Rp 1,5 juta. Bahkan angka ini masih terbilang standar untuk mengakses ojek tersebut.

Burhanuddin tengah menyiapkan barang untuk dibawa ke Kota
Burhanuddin tengah menyiapkan barang untuk dibawa ke Kota

Burhanuddin salah satu tukang ojek di Kecamatan Seko mengatakan, harga ini memang telah biasa dibayar masyarakat untuk mengantarkan mereka menuju perbatasan kota terdekat yaitu Sabbang. Dengan jalan yang jauh dan hancur, harga tersebut sudah terbilang sangat murah.

Untuk mengarungi jalanan menuju Sabbang yang jauh dan hancur, setiap pengendara ojek melakukan berbagai modifikasi pada kendaraan mereka. Mulai dari merubah ban menjadi ban gunung, hingga menyediakan tambahan tempat untuk alat perlengkapan perbaikan mesin.

"Pokoknya kalau kita mau jalan, kita siapkan sebaik mungkin mesin kendaraan. Kita juga bawa ban dalam cadangan, alat pompa angin hingga gear dan rem baru, takut di jalan terjadi hal tidak diinginkan," ungkap Burhanuddin.

Dalam bepergian pun, ojek Seko tidak berangkat sendirian. Mereka akan melakukan konsolidasi untuk jalan bersama. Hal ini dilakukan karena pengendara ojek juga takut terjadi kecelakaan yang tidak diduga. Apalagi jika mereka kendaraan mereka benar-benar rusak, mereka akan menumpang ojek lain yang hanya membawa barang jualan.

Burhanuddin menjelaskan, dalam satu kali jalan ke perkotaan, ojek membutuhkan waktu paling cepat mencapai tujuh jam. Waktu ini pun bisa dicapai saat cuaca dalam keadaan kering. Dalam musim hujan, jalan akan sangat sulit dilalui karena lumpur kerap menghambat kendaraan untuk berjalan. Jika kejadian ini berlangsung, mau tak mau para pengendara ojek akan beristirahat dan menginap di persinggahn terdekat.

"Kami pernah bawa tenda saat musim hujan. Kalau jalan jelek, kami mau tak mau menginap di hutan atau rumah pinggir jalan. Ini membuat perjalanan bisa mencapai 1-2 hari," papar Burhanuddin.

salah satu warga pengguna ojek menuturkan, diriya mau tak mau menggunakan ojek untuk membeli barang yang akan dijual di tokonya. Dalam satu kali angkut ,,, biasa merogoh kocek samapi Rp 400.000. Harga ini termasuk murah karena dirinya telah melakukan perjanjian dalam membeli barang melalui ojek yang sama. Namun harga ini bisa berubah saat cuaca hujan. Pengendara ojek akan meminta harga lebih karena jalan yang harus mereka akses lebih sulit dilalui. Tapi, dari pada tidak ada barang dari kota untuk dijual. Mereka tetap menjadi pahlawan bagi daerah Seko karena bisa mengantar orang dan barang keluar masuk Seko.

---- Kampung Mandiri Butuh Perhatian Lebih--

Pintu masuk Kecamatan Seko
Pintu masuk Kecamatan Seko

Di balik kesulitan akses, Kecamatan Seko nyatanya menyimpan berbagai kekayaan alam. Kecamatan Seko yang berada di perbukitan dengan ketinggian mencapai 1.100-1.500 meter di atas ketinggian permukaan laut, membuat Seko memiliki potensi dalam hal pertanian dan perkebunan. 12 Desa dengan jumlah penduduk mencapai 14.000 jiwa, membuat produksi Seko melimpah ruah.

Dua produk utama yang paling terkenal dan menjadi potensi utama Kecamatan Seko adalah beras Tarone dan Kopi Seko. Beras Tarone merupakan beras organik yang dihasilkan para petani Seko. Beras ini diproduski tanpa bantuan pestisida. Hal tersebut membuat beras Tarone mempunyai rasa khas.

Kepala Kecamatan Seko, Andi Bulan menjelaskan, beras Tarone merupakan salah satu beras yang dicari banyak pembeli. Bahkan saking enaknya, beras ini kerap dibeli dan dijual kembali dengan kemasan khusus di super market dengan harga Rp 35.000. Sayang penjualan di super market ini tidak memberikan manfaat banyak kepada petani padi di Seko, karena harga jual beras dari petani tetap di sekitar Rp 6.000-7.000.

Selain beras organik, Kecamatan Seko memiliki produksi kopi yang disebut Kopi Seko. Kopi ini merupakan produk perkebunan masyarakat Seko. Dengan cita rasa, Kopi Seko yang telah diolah secara tradisional sering dibawa ke perbatasan kota untuk dijual dalam bentuk serbuk. Selain produk tinggal seduh, petani pun biasa membawa kopi langsung kepada tengkulak dan dijual dalam bentuk biji.

Tiga gelas Kopi Seko
Tiga gelas Kopi Seko



"Tapi lagi-lagi karena akses yang sangat sulit, harga semua produksi pertanian di Seko dijual dengan harga murah. Tidak sesuai dengan cara mereka menanam dan mendistribusikan produk tersebut ke kota," Andi Bulan menjelaskan.

Bukan hanya produk pertanian dan perkebunan, Seko pun memiliki populasi kerbau dan sapi cukup banyak. Khusus di Desa Padang saja, terdapat sekitar 1.006 kerbau dan 800 sapi. Ini baru dari satu Desa saja.

Namun kekayaan alam ini acapkali terkendala transportasi. Alhasil semua hasil kecamatan Seko baru bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Padahal jika mampu didistribusikan ke luar daerah, masyarakat Seko jelas akan lebih sejahtera ketimbang sekarang.

Dari banyaknya pejabat silih ganti di Luwu Utara maupun Sulawesi Selatan, belum banyak perubahn terjadi di Kecamatan Seko. Jalanan yang masyarakat Seko lalui dari Sabbang tetap saja hancur tak beraturan. Permasalah ini membuat Kecamatan Seko cukup terisolir, padahal dengan perbaikan jalan, banyak investor siap membangun infrastruktur seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dari Suangai Urug, demi menyalurkan listrik di sekitar Luwu Utara termasuk Kecamatan Seko.

Sayang, Investor PLTA telah melakukan survey mengenai keberadaan sumber air. Tapi mereka masih berpikir panjang karena jalan yang digunakan untuk mengangkut alat berat sangat menyulitkan.

Pilih BanggaBangga44%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi22%
Pilih TerpukauTerpukau22%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG DEBBIE SUTRISNO

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara