Lupa Sandi?

Satu Tungku Tiga Batu di Pulau Jawa

Abduh Khoir
Abduh Khoir
0 Komentar
Satu Tungku Tiga Batu di Pulau Jawa

Sebagai bangsa Indonesia, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan bangsa. Karena hanya dengan bersatulah kita bisa bersama-sama mengusir penjajah. Tidak perlu algoritme hebat untuk menjelaskan hal tersebut, tidak pula logika yang kompleks nun sulit dicerna. Sejarah perjuangan bangsa telah mengajarkan kita pentingnya rasa bersatu, dan itu yang harus tetap kita pegang teguh.

Satu tungku tiga batu adalah filosofi masyarakat Papua untuk menyatukan tiga elemen agama berbeda disana. Elemen tersebut meliputi Islam, Katolik dan Kristen Protestan. Tidak perlu jauh-jauh ke Papua, tengok saja Probolinggo, Jawa Timur. Tempat dimana filosofi ini tak bernama dan tak berelemen sama, namun sungguh-sunguh bermakna. Sesuatu yang wajib dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat di negeri ini.

Mari bernostalgia. Ingatan bangsa Indonesia masih segar kala gerakan Reformasi 1998 yang dijalankan mahasiswa di tanah air mengundang peristiwa tidak mengenakkan bagi masyarakat Tionghoa. Pembunuhan, pembakaran, perampokan, penjarahan dan pemerkosaan di Jakarta terhadap kaum Tionghoa yang didasari rasa benci, curiga dan iri terjadi. Hidup mereka pada saat itu sungguh tertekan. Antara tidak diakui dan dikucilkan. Banyak dari mereka harus merubah nama untuk keselamatan.

Tapi lihat! Kala Jakarta membara penuh angkara murka, Probolinggo yang notabene salah satu daerah kantong etnis Tionghoa pada tahun 1998 aman-aman saja. Mengapa? Karena kami merasa saling memiliki. Pun dengan warga keturunan Arab di daerah kami.

Salah satu masjid dengan arsitektur menarik yang berdiri di Probolinggo
Salah satu masjid dengan arsitektur menarik yang berdiri di Probolinggo

Tidak ada tendensi sosial antara kami. Pernikahan warga Pendalungan dengan etnis Tionghoa mapun Arab marak terjadi disini. Dalam urusan ekonomi, kami tidak merasa menjadi budak dan memperbudak. Yang kami lakukan adalah bekerja sepenuh hati, mensyukuri nikmat Tuhan dan menepis rasa iri-dengki. Kami tahu bahwa hampir semua kota yang dilalui sungai bersambung laut di dunia ini memiliki Pecinan (Chinatown). Mereka dikenal ulet, mudah beradaptasi dan berdisiplin tinggi. Kami pun harus meniru budaya kerja keras mereka.

Klenteng Tri Dharma di ujung Pecinan
Klenteng Tri Dharma di ujung Pecinan

Mesranya hubungan kami dapat dilihat dari gelaran Semipro (Seminggu di Probolinggo) setiap tahunnya. Masing-masing etnis berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan yang terbaik. Tema dalam seminggu tersebut pun sudah terjadwal rapi. Setiap etnis punya hari spesial untuk menyuguhkan seni dan budaya masing-masing. Misalnya hari pertama pembukaan. Hari kedua gelaran etnis Pendalungan. Hari ketiga dan keempat diisi oleh etnis Arab dan Tionghoa berturut-turut. Kegiatan yang berpusat di alun-alun ini nyatanya mampu menarik animo masyarakat sekitar hingga turis mancanegara. Di ajang inilah kami saling menghibur dan dihibur. Juga sama-sama mencari rezeki.

Kerukunan yang mengakar kiranya diwakili oleh slogan yang tertulis di gapura salah satu gang kecil seperti gambar berikut ini:

Gapura di salah satu gang kecil di kota Probolinggo
Gapura di salah satu gang kecil di kota Probolinggo

Banyak hal-hal negatif yang dulunya dilekatkan pada mereka. Tapi kami selalu menyadari, tidak ada hal yang sempurna selama hidup. Sebab kesempurnaan hanya milik Sang Pemberi Hidup.

Jaya Indonesia! Bhinneka Tunggal Ika!

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ABDUH KHOIR

Produk Indonesia. Jatuh cinta pada buah markisa. Seorang aneh yang bahagia dengan keanehannya. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara