Lupa Sandi?

Jemparingan, Gaya Panahan Asli Indonesia

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Jemparingan, Gaya Panahan Asli Indonesia

Indonesia punya sejarah yang membanggakan di kancah olah raga panahan, yakni pada tahun 1988 di ajang Olimpiade di Seoul, tim panahan Indonesia dari cabang panahan menjadi tim yang pertama kali mempersembahkan medali buat Indonesia. Di samping itu, Indonesia juga punya satu tradisi panahan tradisional yang berbeda gaya dengan olah raga panahan pada umumnya.

Adalah jemparingan, seni memanah tradisional khas gaya Mataram Yogyakarta. Jemparing dalam bahasa Jawa sendiri artinya adalah panah. Yang membuatnya berbeda dengan olah raga panahan modern adalah bentuk busur panah atau biasa disebut dengan gendowo-nya yang sangat sederhana, terbuat dari kayu dan bambu. Selain itu, para pemainnya harus mengenakan busana tradisional, yakni kebaya jarit untuk wanita serta blangkon dan surjan untuk pria dan duduk bersila ketika menembakkan panah ke sasaran.

Konon, dahulu kala jemparingan hanyalah kegiatan latihan para prajurit keraton, namun ini telah berubah menjadi sebuah kegiatan olah raga dan seringkali dilombakan. Sejak 1934, jemparingan telah dilombakan di Keraton Yogyakarta dan diikuti oleh mayoritas abdi dalem dan penghuni keraton lainnya. Adu jemparingan ini selalu ramai disaksikan oleh masyarakat setempat.

Jemparingan ini sarat dengan filosofi, yakni pamenthaning gendewa, mujudake pamenthenging cipta yang artinya jemparingan bukan sekadar olah raga namun juga seni mengolah rasa di mana seorang pemanah dalam membidik mereka juga melibatkan sehingga dibutuhkan ketenangan saat bermain. Pemain harus fokus pada bandul putih dengan warna merah di atasnya yang digantung dengan tali sebagai sasaran tembaknya. Anak panah harus tertancap pada bandul tersebut dan untuk menandainya, lonceng pada tali penggantungnya akan berbunyi.

Baca Juga

Aturan main jemparingan ini pun sederhana. Pemain harus duduk dengan posisi bersila dengan jarak 30 meter dari sasaran, kemudian pemain harus menembakkan anak panah ke bandul putih yang menggantung dengan panjang kira-kira 30 centimeter. Biasanya, pemanah diberi kesempatan menembak dalam 20 rambahan (ronde) dengan empat anak panah pada setiap ronde. Poin tertinggi akan diperoleh jika anak panah menancap pada bagian merah bandul.

Di Yogyakarta ada banyak sekali perkumpulan atlit jemparingan. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan jemparingan sebagai bagian dari wisata budaya. Salah satunya ada di Desa Karang Nongko, Sleman, Yogyakarta. Di sini para wisatawan akan diajak mengeksplorasi jemparingan mulai dari pembuatan jemparing hingga dapat mempraktikkannya langsung.


Sumber Gambar Sampul :blog.hulaa.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara