Lupa Sandi?

Dugong, Sang Putri Lautan yang Pemalu

Maulinia Maulinia
Maulinia Maulinia
3 Komentar
Dugong, Sang Putri Lautan yang Pemalu

 

Dugong yang memiliki nama ilmiah Dugong dugon (Müller, 1776) adalah mamalia air lucu nan jinak. Hewan ini sangat pemalu. Namun, walau memiliki kecenderungan bersembunyi kala didekati, beberapa dugong yang sudah mulai mengenal manusia terkadang justru mengajak para penyelam bermain dan berenang bersama.

Dugong berada pada kingdom animalia, phylum chordata, kelas mammalia, ordo sirenia, famili dugongidae, genus Dugong. Di Spanyol, hewan ini disebut ‘dugon’ sementara di Inggris dikenal dengan sebutan ‘sapi laut’ atau ‘onta laut’ (Reeves, 2002). Pastinya itu karena tubuhnya yang gempal dan imut-imut.

Dugong memiliki kekerabatan yang jauh dengan mamalia laut lain seperti lumba-lumba atau singa laut. Dugong justru berkerabat lebih dekat dengan gajah. Kita tentu bisa melihat kemiripan keduanya dari warna yang abu-abu kecoklatan, bahwa dugong satu-satunya mamalia laut yang makanan utamanya tumbuhan segar, bentuk tubuh membulat-gemuk, dan bagian atas bibir berupa jaringan otot yang menutupi bawah mulut sehingga sedikit menyerupai belalai namun jauh lebih pendek. Dogong juga memiliki gading. Namun, seperti gajah, gading itu terlihat mencuat keluar hanya pada jantan yang sudah dewasa (Nowak, 1991). Dugong juga memiliki usia hidup yang panjang yaitu sekitar 70 tahun.

Sebagaimana mamalia lain, dogong melahirkan anak dan memiliki dua puting untuk menyusui. Masing-masing puting terletak satu di bawah setiap siripnya. Sirip depannya mirip gayung untuk mengayuh, buntutnya pipih melintang berpinggiran lurus atau cekung yang digunakan sebagai hempasan tenaga pendorong saat ia berenang. Dugong bukanlah ikan. Ia tidak memiliki sisik melainkan rambut kasar yang tumbuh jarang dan menyebar di seluruh tubuh namun lebih terkonsentrasi pada bagian mulut (Macdonald, 2006).

Hewan ini tidak memiliki ingsang. Dugong bernafas dan memiliki paru-paru yang sangat panjang sehingga sesuai dengan perairan asin (Marsh, 2016). Saat berenang, lubang hidungnya akan tertutup katup sehingga tidak dimasuki air. Itulah sebabnya mereka lebih sering berada di perairan dangkal. Dugong hanya dapat menahan nafas selama enam menit (Louise dkk., 2004) sehingga harus sesekali mencuat ke permukaan untuk mengambil udara. Pada saat tidur, mereka akan beristirahat dengan kepala muncul di permukaan. Wah, bisa tidur nyenyak atau tidak yah kalau gelombang laut sedang tinggi?

Suatu hal yang pasti, dugong juga bisa kedinginan pada saat badai karena mereka adalah hewan berdarah panas yang tidak bisa menyesuaikan suhu dengan lingkungan. Dugong umumnya berada pada perairan bersuhu 15-17 °C (Hines dkk., 2012; Marsh dkk., 2011). Mereka hidup di air asin atau payau dan jarang berada di air tawar; menyukai daerah dengan letak geografis yang terlindung dari ombak besar, jernih, tidak terkontaminasi limbah; dan perairan tersebut memiliki vegetasi padang lamun yang luas.

Lamun (ganggang laut) adalah makanan utama mereka, terutama lamun dari famili Potamogetonaceae dan Hydrocharitaceae yaitu genus Halophila dan Halodule. Dugong mempunyai kebiasaan makan yang rakus. Dugong dewasa dapat menghabiskan 25 – 30 kg lamun basah setiap hari (Azkab 1998). Meskipun demikian, jika terjadi kelangkaan lamun, mereka bisa mengonsumsi alga (Marsh, 2016). Dugong hampir merupakan herbifora secara penuh, namun mereka terkadang memakan invertebrata seperti ubur-ubur, tunicarte, dan kerang (Lawler dkk., 2002).

Untuk menemukan dugong, penyelam bisa turun ke kedalaman 10 meter (Fox, 1999) yang masih ditumbuhi lamun. Jika beruntung, dugong juga bisa ditemukan pada kedalaman 2-3 meter sehingga tidak perlu alat selam dan cukup menggunakan snorkel.

Dugong adalah hewan yang bersikap tenang, mudah diikuti, tidak berbahaya, dan tidak memiliki kecenderungan menyerang manusia. Mereka pemalu dan akan melarikan diri apabila merasa terancam atau ketakutan.

Salah satu lokasi dimana dogong dapat ditemukan adalah di Kepulauan Seribu. Kotamadya yang merupakan bagian Provinsi DKI Jakarta ini merupakan kawasan konservasi laut dimana dugong adalah salah satu hewan yang dilindungi.

Untuk pergi ke kepulauan seribu sangatlah mudah dan murah karena kini sudah ada subsidi dari Kementrian Perhubungan. Harga tiket ke Kepulauan Seribu hanya Rp. 15.000.- dengan keberangkatan dari Pelabuhan Sunda Kelapa menggunakan KM Sabuk Nusantara 46 yang berangkat setiap harinya pada pukul 07.00 WIB. Adapun rute perjalanannya melewati Pulau Untung Jawa, Pulau Tidung, dan Pulau Kelapa. Kalian bisa singgah di salah satu pulau tersebut untuk satu hari untuk kemudian berpindah ke pulau lainnya untuk menikmati keindahan bawah laut terumbu karang; menikmati kuliner lokal seperti dodol rumput laut, ikan bakar atau ikan asin; menikmati keindahan pantai, ataupun wisata sejarah peninggalan jaman Belanda.

Pada sekitar pulau-pulau tersebut, ada sisi yang lebat dipenuhi tumbuhan lamun. Ini tempat yang tepat untuk ‘berburu’ dugong. Tapi hati-hati, di sekitar vegetasi lamun juga sering disinggahi ikan pari yang buntutnya bisa menyengat jika mereka merasa terganggu. Selalu waspada, karena alam perlu untuk dihargai.

Tantangan dari ‘berburu’ dugong adalah selalu ada kemungkinan bahwa kita tidak bertemu hewan ini meskipun kita sudah mencari jauh dengan sungguh-sungguh. Terutama di Kepulauan Seribu yang merupakan kawasan konservasi laut, dugong mungkin tidak akan muncul di pulau yang kita singgahi.

Pada kawasan konservasi laut ada yang disebut zona inti untuk pelestarian sumber genetik dan perlindungan proses ekologi yang tidak memperbolehkan aktivitas manusia, zona perlindungan sebagai penyangga zona inti yang dapat dilakukan pemanfaatan tidak langsung secara terbatas seperti pendidikan dan penelitian, zona pemanfaatan wisata, dan zona pemukiman.

Dugong kemungkinan besar menghindari zona permukiman dan hanya berenang di sekitar zona inti. Padahal, wisatawan dan peneliti sekalipun tidak bisa masuk ke zona ini karena dilindungi secara ketat oleh pemerintah Indonesia. Semata-mata untuk menjaga kelestarian alam.

Selain di Kepulauan Seribu, dugong juga bisa ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon. Hanya saja, bagi wisatawan yang belum begitu jago berenang atau masih pemula, untuk menyelam serta snorkling di kepulauan seribu akan lebih aman. Arus di Kepulauan Seribu tidak teralu kencang dan ombaknya tidak teralu tinggi dibandingkan Taman Nasional Ujung Kulon.

Adapun secara umum, dugong tersebar dari bagian barat Laut Pasific hingga pantai timur Afrika dan ditemukan pada 37 wilayah perairan negara yaitu Australia, Bahrain, Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, Pulau Cocos (Keeling), Comoros, Djibouti, Mesir, Eritrea, India (Pulau Andaman, Pulau Laccadive, Pulau Nicobar), Indonesia, Jepang (Nansei-shoto), Yordania, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mayotte, Mozambik, Kaledonia Baru, Palau, Philipina, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Seychelles, Singapura, Pulau Solomon, Somalia, Sri Lanka, Sudan, Tanzania, Thailand, Timor-Leste, Papua Nugini, Vanuatu, Vietnam, dan Yaman (Socotra) (Marsh & Sobtzick, 2015).

Sumber: The World Conservation Union (IUCN)
Sumber: The World Conservation Union (IUCN)

 

Berdasarkan data tahun 1994, populasi Dugong di Indonesia diperkirakan sekitar 1.000 ekor saja yang tersebar disepanjang hamparan lamun di Indonesia yaitu antara lain (WWF, 2012):

  1. Sumatera (Riau, Bangka, dan Kepulauan Belitung).
  2. Jawa (Kepulauan Seribu, Taman Nasional Ujung Kulon, Pantai Cilegon, Pantai Labuhan, Cilacap bagian selatan, Segara Anakan, dan Blambangan (Banyuwangi) bagian tenggara.
  3. Perairan Kalimantan (Teluk Balikpapan, Kotawaringin, Kepulauan Karimata, Teluk Kumai, Kepulauan Derawan).
  4. Sulawesi Utara (Arakan Wawontulap, Kepulauan Bunaken, Kepulauan Sangihe).
  5. Sulawesi Tengah (Kepulauan Togian, Wakatobi, dan Taman Nasional Takabonerate).
  6. Bali (Bali Selatan, Pantai Uluwatu, dan Padang-padang).
  7. Nusa Tenggara Timur (NTT) (Sikka, Semau, Sumba, Lembata and Kepulauan Flores, Teluk Kupang, dan Taman Nasional Pulau Komodo).
  8. Maluku (Kepulauan Aru termasuk Aru Tenggara, Kepulauan Lease (Haruku, Saparua, Nusa Laut, Seram), dan Halmahera bagian selatan.
  9. Papua Barat (Kepulauan Biak dan Padaido, Sorong, pesisir Fakfak, Taman nasional Teluk Cendrawasih, dan Taman Nasional Wasur).

Untuk bisa bertemu dan bermain dengan dugong memang tidak mudah. Selain karena selalu berpindah, populasi dugong semakin sedikit dengan tingkat penurunan populasi di seluruh dunia berkurang dua puluh persen dalam sembilan belas tahun terakhir. Hal ini dikarenakan umumnya Dugong hanya melahirkan satu ekor anak saja setiap 9-10 tahun (Skalalis, 2007). Ditambah lagi ketika ketersediaan makanan Dugong kurang, Dugong akan menunda musim kawin.

Dugong sudah menghilang dari perairan Hong Kong, Mauritius, Taiwan, serta sebagian wilayah Kaboja, Jepang, Philipina, dan Vietnam. Menurut WWF (2012), di Indonesia, Dugong kini sudah tidak lagi ditemukan di perairan Kalimantan.

Dugong adalah hewan langka yang dilindungi dimana digolongkan rentan menuju kepunahan dan masuk daftar merah The World Conservation Union (IUCN) (kategori Vulnerable, kriteria A2bcd+4bcd ver 3.1, Marsh, H. & Sobtzick, S.)

Sumber data: The World Conservation Union (IUCN)
Sumber data: The World Conservation Union (IUCN)

 

Dugong semakin langka. Kabar baiknya, Indonesia masih memiliki dugong yang hidup bebas di beberapa perairan. Hewan ini sudah lama menjadi ‘incaran’ penggemar wisata alam baik dari dalam maupun luar negri. Suatu keistimewaan yang negri ini miliki sekaligus tanggung jawab untuk terus melestarikan.

Selain di Kepulauan Seribu dan Ujung Kulon, dugong juga sering muncul di Pantai Mali, NTT. Suatu kawasan eksostik nan indah di timur Indonesia. Daerah ini memiliki pasir putih dan pantai yang tenang berombak kecil jernih. Pantas saja dugong senang bermain di sini. Tempat ini begitu damai dan mampu membuat kita menghilangkan segala penat.

Faisal Umar, seorang fotografer lokal, juga pernah mengabadikan gambar tujuh ekor dugong juga yang muncul secara bersamaan sedang asyik makan lamun di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Dugong pada umumnya berenang sendirian atau berkelompok berdua. Karena dugong menyusui, maka anaknya akan selalu mengikuti ibunya hingga berusia 13 atau 18 bulan. Namun demikian, terkadang mereka bergerombol untuk mencari makan bersama.

Sangihe adalah salah satu pulau-pulau terluar Indonesia yang masih terjaga keasriannya. Penduduk di pulau ini mayoritas menganut Agama Katolik yang hidup dengan toleransi dan harmoni tinggi dengan penganut Protestan dan Islam.

Sumber: dokumentasi pribadi
Sumber: dokumentasi pribadi

 

Hamparan pasir putih, keramahan penduduk, lautan yang sejernih kaca dengan jarak pandang penyelaman hingga 50 meter pada kedalaman 40 meter. Waw sobat, ini adalah situs penyelaman yang sangat ideal. Suhu air hangat, arus pelan hingga sedang, dan terumbu karang yang indah di beberapa titik.

Sumber: dokumentasi pribadi
Sumber: dokumentasi pribadi

 

Untuk mencapai Sangihe cukup mudah. Dari Kota Manado, kita bisa menggunakan pesawat Wings Air yang berangkat dua kali dalam seminggu dengan waktu tempuh setengah jam, menggunakan kapal cepat dengan harga tiket Rp. 135.000.- hingga Rp. 250.000.- berangkat dua kali dalam seminggu dengan waktu tempuh empat jam, atau dengan menggunakan KM Metro Teratai yang berangkat tiga kali dalam seminggu setiap pukul 18.00 WIT dengan waktu tempuh dua belas jam.

Jika kalian berencana melakukan backpacking, menggunakan KM Metro Teratai adalah yang paling baik. Selain karena harganya yang paling murah, kapal ini akan melakukan perjalanan semalam penuh sehingga bisa menghemat biaya penginapan. Disediakan kasur untuk beristirahat lengkap dengan makan malam juga. Kalian akan tiba di Sangihe pada pagi hari dan siap melakukan aktivitas.

Sumber: dokumentasi pribadi
Sumber: dokumentasi pribadi

 

Di Sangihe, daerah ruaya dugong meliputi Mala, Naha, Enemawira, Kuma, Manalu, Binebas, Bowone, Hangke, Mihune, Tenehe, Palareng, Kendong, dan Nipa. Di pulau Nipa inilah Putri Indonesia tahun 2005 sekaligus aktifis lingkungan WWF, Nadine Chandrawinata pernah terjun menyelam mencari dugong. Saat itu tahun 2014, namun sayangnya Nadine belum bisa bertemu hewan yang gendut lucu ini. Meskipun begitu, tidak akan disesali karena Pulau Nipa yang berjarak sekitar 30 menit berperahu dari pulau Sangihe Besar ini memiliki terumbu aneka warna yang indah. Belum beruntung ya Nadine, tapi tetap akan menjadi perjalanan yang tidak terlupakan.

Meskipun demikian, pada tahun 2015, kami beruntung bisa bertemu dengan keluarga (yup satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak) dugong sedang bermain-main di Pantai Enemawira, Sangihe.

Pantai Enemawira sendiri bukanlah daerah yang memiliki terumbu karang masif. Namun, kelebihan yang dimiliki adalah pasir putih terbentang luas di perairan yang sangat jernih. Berada di kedalaman 10 meter membuat kita merasa berada di dunia lain yang serba hening, terpisah dari dunia luar yang hiruk pikuk. Beningnya air turut menjernihkan pikiran kita dan membuat kita merasa begitu kecil di semesta ini sekaligus begitu terpana oleh besarnya cinta dalam keindahan alam. Ketika cahaya jatuh dari permukaan ke dalam perairan lalu memantul nakal, layaknya kaledoskop prisma yang sering kita mainkan saat kanak-kanak dulu.

Bertapa sangat antusias karena semenjak di atas kapal kayu yang membawa sedikit jauh ke arah lautan, bayangannya sudah terlihat di bawah kami. Maka saat didekati pelan, ia mulai meliuk indah mengitari. Sesekali memutar tubuh dengan nakal dan menghambur-hamburkan pasir sambil bermain-main. Pengalaman yang sangat langka dan juga menyenangkan untuk diabadikan menggunakan kamera bawah air.

Organ otak dugong berkisar 0,1% dari bobot tubuhnya hingga maksimal 300 gram saja. Matanya kecil dan penglihatannya terbatas namun memiliki pendengaran yang akurat. Oleh karena itu, jangan mendekat teralu cepat dan ssssttt.... jangan berisik supaya dia tidak terkejut.

Jaga jarak aman. Dugong dewasa bisa mencapai panjang 3 meter dengan berat sekitar 420 kilogram. Dugong memang tidak memiliki kecenderungan menyerang manusia. Tapi kalau mereka merasa terancam, siapa yang mau dihantam mahluk seberat setengah ton? Yup, semoga bukan kita yang diseruduk.

Oleh karena itu, dalam jarak aman, diam dan berhentilah. Jika dugong tersebut menginginkan, maka mereka yang akan berenang mendekati kita sambil mengajak bermain.

Sumber: dokumentasi pribadi
Sumber: dokumentasi pribadi

 

Gerakan dan suara yang sampaikan dugong bisa jadi merupakan tanda komunikasi. Dugong dikenal sebagai hewan yang bisa berkomunikasi satu sama lain melalui ringkikan, siulan, salak, dan suara lain yang bergema di bawah air. Suara yang berbeda memiliki aplitudo dan frekuensi berbeda yang menunjukkan arti yang berbeda pula. Induk dan anaknya sering saling senggol. Sirip anak dugong sering disentuhkan kepada induk dan itu membuatnya merasa tenang (Fox, 1999).

Sumber: dokumentasi pribadi
Sumber: dokumentasi pribadi

 

Bukan tidak mungkin, dugong juga memiliki cara-cara khusus untuk berkomunikasi dengan manusia. Berusaha membuat manusia memahami dirinya. Dugong yang tertangkap nelayan dan dibawa ke daratan sering menangis mengeluarkan air mata dan mengeluarkan suara rintihan.

Seringkali, air mata itu ditadah dalam botol kecil dan dalam beberapa kepercayaan tradisional diyakini dapat menambah kecantikan. Namun, belum ada bukti pasti mengenai khasiat itu.

Beberapa memang tertarik dengan mistisme hewan ini. Mereka memiliki kelenjar di dada yang mirip kelenjar menyusui pada manusia. Struktur tulang dugong juga sangat mirip dengan bentuk tulang manusia. Tengkorak membulat, memiliki tulang punggung dan rusuk seperti manusia, serta siripnya tidak seperti ikan namun berupa telapak yang dilapisi daging dengan empat jari yang sangat mirip jari manusia.

Dari bentuk tubuhnya yang seperti inilah lahir mitos bahwa mereka setengah manusia dan setengah ikan di bagian ekor. Terlebih, suara mereka yang melengking sehingga nelayan kadang saru seakan ada nyanyian perempuan yang memanggil di sisi lautan.

Secara etimologi, nama ‘dugong’ berasal dari Bahasa Tagalog yang merupakan adaptasi dari ‘duyung’ di Bahasa Melayu. Adapun makna dari ‘duyung’ itu sendiri adalah ‘putri lautan’ (Shoshani, 2005). Oleh karena itu, bisa bertemu dan berenang bersama mereka di perairan Indonesia adalah suatu pengalaman istimewa.

 

Sumber: dokumentasi pribadi
Sumber: dokumentasi pribadi


Penulis:

Maulinia

#menuliskabarbaik

Read More: https://www.goodnewsfromindonesia.id/tag/menuliskabarbaik
#menuliskabarbaik

Read More: https://www.goodnewsfromindonesia.id/tag/menuliskabarbaik
#menuliskabarbaik

Read More: https://www.goodnewsfromindonesia.id/tag/menuliskabarbaik


Sumber :

Azkab, M.H. 1998. Duyung sebagai pemakan lamun. Oseana Volume XXIII, Nomor 3 & 4, 1998: 35 – 39. P3O-LIPI, Jakarta.

Fox, David L. 1999. Dugong dugon: Information. Animal Diversity Web. University of Michigan Museum of Zoology. Retrieved 29 April 2007.

Lawler et al. 2002. Dugongs in the Great Barrier Reef: Current State of Knowledge. Cooperative Research Centre (CRC) for The Great Barrier Reef World Heritage Area. April 2002.

Louise Chilvers, B.; Delean, S.; Gales, N. J.; Holley, D. K.; Lawler, I. R.; Marsh, H.; Preen, A. R. 2004. Living behaviour of dugongs, Dugong dugon. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 304 (2): 203. doi:10.1016/j.jembe.2003.12.010.

Macdonald, D.W. 2006. The Encyclopedia of Mammals. Oxford University Press, Oxford.

Marsh, H. & Sobtzick, S. 2015. Dugong dugon. The IUCN Red List of Threatened Species 2015: .T6909A43792211.

Marsh, Helene. 2016. Chapter 57: Dugongidae. Fauna of Australia: Vol. 1B Mammalia. CSIRO. ISBN 978-0-644-06056-1.

Müller, O. F. 1776. Zoologiae Danicae Prodromus seu Animalium Daniae et Norvegiae indigenarum characteres, nomina, et synonyma imprimis popularium. Hafniae, Typiis Hallageriis. xxii + 274 pp.

Nowak, R.M. 1991. Walker’s Mammals of the World. The Johns Hopkins University Press, Baltimore and London.

Reeves, R. R. 2002. National Audubon Society Guide to Marine Mammals of the World. Knopf. ISBN 0-375-41141-0. pp. 478–481

Shoshani, J. 2005. Order Sirenia. In Wilson, D.E.; Reeder, D.M. Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (3rd ed.). Johns Hopkins University Press. p. 92. ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494.

Skalalis, Diana. 2007. Karya Tulis : Model Konservasi Dugong (Dugong dugon Muller). Universitas Padjajaran.

Winger, Jennifer. 2000. What's in a Name: Manatees and Dugongs. National Zoological Park. Archived from the original on 2007-10-13. Retrieved 22 July 2007.

WWF. 2012. Mamalia laut langka di Pantai Mali, kabupaten Alor. Dwi Ariyogagautama. http://www.wwf.or.id/?25301/Mamalia-laut-langka-di-Pantai-Mali-kabupaten-Alor


Sumber Gambar Sampul :

Dokumen Pribadi. 2015. Kabupaten Kepulauan Sangihe

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MAULINIA MAULINIA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata