Karya Gemilang Sang Jenderal Besar : dari Indonesia untuk Militer Dunia

Karya Gemilang Sang Jenderal Besar : dari Indonesia untuk Militer Dunia
info gambar utama

Perang adalah suatu hal yang sangat dibenci dan sebisa mungkin dihindari, namun terkadang tak jarang pula peperangan tak dapat dielakkan. Lantas, bagaimana strategi dalam menghadapi suatu peperangan tersebut agar mencapai kesuksesan?. Beberapa ahli strategi peperangan dahulu seperti Sun Tzu dari Cina telah membukukan strategi tersebut kedalam sebuah buku babon “The Art of War”, selain itu di daratan Eropa ahli strategi lainnya Machiavelli juga membukukan seni perangnya. Beberapa abad kemudian strategi-strategi perang tersebut diadopsi dan dikembangkan oleh Napoleon Bonaparte dalam menaklukan jajahannya.


Indonesia juga pernah memiliki salah satu seorang ahli strategi perang terbaik, dia adalah Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Nasution lahir pada 3 Desember 1918 di Kotanopan, Sumatera Utara dari pasangan H. Abdul Halim Nasution dan Hj. Zaharah Lubis. Sebagai saksi serta pelaku dalam perang gerilya merebut kemerdekaan, Nasution menuliskan pengalaman serta pengetahuannya ke dalam buku “Pokok-pokok Gerilya”. Perang gerilya merupakan salah satu faktor kunci bagi kita menghadapi musuh yang memiliki keunggulan teknologi dan persenjataan dalam memperjuangkan kemerdekaan kala itu.

Kata “gerilya” sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang secara harfiah berarti “perang kecil”. Sebagai seorang tokoh militer nasional, Nasution dikenal peletak dasar perang gerilya. Taktik gerilya diadaptasi untuk kemudian diterapkan oleh Nasution dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam buku “Pokok-pokok Gerilya” yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1953, Nasution menuliskan bahwa “Perang gerilya adalah perang rakyat semesta”. Untuk mencapai kemenangan dalam sebuah peperangan diperlukan pula dukungan dari rakyat, karena itu sinergi antara tentara dan rakyat sangatlah diperlukan. Sejarah mencatat, kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II disebabkan pula tidak adanya dukungan dari rakyat Jerman sendiri.

Gagasan dan pengetahuan gemilang Nasution yang tertuang dalam buku “Pokok-pokok Gerilya” tidak hanya digunakan kalangan militer Indonesia saja. Buku tersebut telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa asing, dengan judul “Fundamentals of Geurilla Warfare” untuk digunakan sebagai buku wajib militer di sejumlah negara. Bahkan, buku ini menjadi buku wajib di sekolah elite militer dunia, West Point, Amerika Serikat. Selain itu, konon tentara Vietkong dan North Vietnam Army (NVA) atau tentara Vietnam Utara berhasil mempecundangi tentara Amerika Serikat dalam Perang Vietnam berkat mempelajari buku “Pokok-pokok Gerilya”.

Para komandan Vietkong mempelajari gagasan Nasution tersebut kemudian diterapkan dalam perang yang berlangsung sejak tahun 1965 hingga 1973 ini. Mereka tidak melakukan peperangan frontal, namun bertahan ditengah hutan dengan perlawanan-perlawanan kecil. Dengan berbekal senapan serbu AK-47, perlahan perlawanan gerilyawan Vietkong membuat frustrasi tentara muda Amerika Serikat yang tidak berpengalaman di dalam hutan. Bebragai peralatan canggih tentara Amerika Serikat tak berfungsi dalam hutan. Mengalami kondisi demikian tentara Amerika Serikat mulai menggunakan narkoba untuk menenangkan situasi, pada saat mereka dalam pengaruh obat-obatan itulah para gerilyawan menyerbu mereka. Sebagai puncaknya, pada Maret 1973 Amerika Serikat meninggalkan Vietnam Selatan, dan tak lama kemudian Saigon jatuh ketangan Vietnam Utara.

Dari ulasan tersebut dapat kita lihat bahwa militer kita tidak kalah dengan militer negara lain. Salah satu bukti nyata adalah hasil karya gemilang Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution yang tertuang dalam buku “Pokok-pokok Gerilya”. Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution tutup usia pada 6 September 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Sang Jenderal Besar telah tiada, namun karyanya akan selalu dikenang dunia.

Sumber :

Sumber Gambar Sampul : https://en.wikipedia.org/wiki/File:FundamentalsGuerrilaWarfare.jpg

A.H Nasution dalam Seragam Militer Tahun 1960 Read More: https://www.goodnewsfromindonesia.id/dashboard/newpost
info gambar

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini