Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Saya Kembali lagi ke Surga

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Saya Kembali lagi ke Surga
Saya Kembali lagi ke Surga

 "Salamualaikum. Where are you going, Brother?" tanya seorang berwajah Arab yang saya temui di Gate 3, bandara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Saya cukup terkejut dan terdiam beberapa saat, sambil mengamati dan mencoba mengingat-ingat jika saya pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dan saya yakin saya tak mengenalnya, ataupun pernah bertemu.

"You are Indonesian, right?" dia bertanya lebih lanjut sebelum saya sempat menjawab pertanyaannya yang pertama. "Yes, i am Indonesian, and i am flying back" jawab saya.

Namanya Ibrahim, orang Cairo, Mesir. Dia bercerita bahwa ini adalah kunjungannya yang ke-4 ke Indonesia, dan kali ini dia travelling sendiri. Ibrahim bercerita bagaimana dia telah jatuh cinta dengan Indonesia. "Saya sudah berkunjung ke banyak negara, namun hanya Indonesia yang saya kunjungi lebih dari dua kali" ujarnya dengan bahasa Inggris yang cukup baik.

Kami bercengkerama cukup lama. Dia membanding-mbandingkan negerinya yang tandus, dengan Indonesia yang begitu hijau. "Lihat saja saat anda akan mendarat di Bandara Kairo. Anda melihat sendiri betapa Kairo begitu coklat, kering, dan gersang dari atas" katanya. Saya agak 'malas' sebenarnya membanding-bandingkan Indonesia dengan negara manapun, namun cerita Ibrahim ini menarik juga. "Ketika pesawat anda mendarat di Kairo, anda takkan melihat rumput ataupun pohon hijau. Semuanya coklat dan kering" tambahnya.

Baca Juga
Setitik surga di bumi
Setitik surga di bumi

Ibrahim bercerita bagaimana kondisi negaranya yang masih berusaha pulih dari gonjang-ganjing politik sejak 2011 lalu. Pergolakan dan pertentangan politik memang tak pernah sepi dari negeri Piramid ini sejak 2011, mulai demo besar yang menjatuhkan Hosni Mubarak, naiknya penguasa sipil baru yang terpilih lewat pemilu (Muhammad Morsi), hingga kudeta terhadapnya, dan naiknya penguasa militer Jenderal Abdel Fattah El-Sisi.

"Pariwisata memang terpukul sangat hebat" kata Ibrahim yang memang mengelola bisnis pariwisata. Pariwisata adalah sumber pendapatan terbesar ke-2 Mesir setelah minyak dan gas, sementara nomor 3 adalah pendapatan dari remitansi pekerja mesir di luar negeri, dan dari pajak Terusan Suez. Masih menurut Ibrahim, gonjang-ganjing politik dan beratnya ekonomi juga sangat mempengaruhi psikologi sosial masyarakat Mesir, terutama di kota-kota besar yang tiap waktu bergelut memperebutkan kue ekonomi yang semakin kecil.

"Anda pasti sudah melihat sendiri masyarakat Mesir yang kelihatan sekali makin tidak sabaran, mudah marah, dan cenderung tak menghargai tamu" tambahnya. "Beda sekali dengan orang Indonesia yang selalu ramah, murah senyum, dan tak pernah lelah menghargai tamu"

Saya hanya mengangguk-angguk, sambil mencoba mengingat-ingat pengalaman saya selama beberapa hari di Kairo dan Alexandria. Tanpa saya sangka, Ibrahim mengikuti berita-berita di Indonesia. Menurutnya, secara umum politik di Indonesia memang hingar-bingar, namun amat damai, satu hal yang amat sulit terjadi di Mesir.

Pembicaraan kami terhenti karena dia harus segera terbang ke Jakarta, penerbangannya lebih dulu dari penerbangan saya. "Saya pernah melakukan perjalanan darat di Jawa dan Bali. Negeri anda adalah surga", katanya sambil bersalaman dan pergi.

Percakapan singkat 20 menit yang membuat saya sulit tidur selama perjalanan pulang dari Abu Dhabi ke Jakarta. Saya bangga..saya kembali ke surga.

Gambar utama : Champagnekissesxoxo.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas