Zaman Boleh Berganti, Budaya Asli Pesisir Sumenep Ini Tetap Lestari

Zaman Boleh Berganti, Budaya Asli Pesisir Sumenep Ini Tetap Lestari
info gambar utama

Hidup bekerja di tengah perkotaan memang kadang membuat saya seringkali teringat kampung halaman. Masa-masa kecil yang menyenangkan, bermain-main di sawah atau sungai, maupun sebatas guling-guling di pasir bersama teman-teman sedesa. Hal itu jugalah yang membuat saya selalu antusias mengunjungi beragam pedesaan di Indonesia.

Bagi saya, desa adalah tempat di mana budaya masih bisa disaksikan langsung. Tempat di mana tradisi masih lestari. Juga tempat yang selalu menyimpan keunikan tersendiri. Salah satu desa unik yang pernah saya tinggali beberapa hari adalah Desa Legung, Batang-Batang, kabupaten Sumenep.

Gapura kampung kasur pasir desa Legung Barat yang tampak lebih maju daripada Legung Timur. Dari luar memang tampak seperti perkampungan biasa, tapi di dalamnya setiap kamar hampir ada kasur pasirnya
info gambar

Kendati bahasa ibu saya, Bahasa Jawa, berbeda dengan Bahasa Madura, namun saya tetap mendapatkan keramahan khas masyarakat pedesaan dari penduduk Desa Legung. Begitu datang, mereka langsung menyambut saya. Hal yang saya kagumi, mereka tidak rasis. Tidak terlalu mementingkan apa suku saya maupun kepercayaan saya. Justru agar memudahkan percakapan, mereka selalu tanya dari mana asalnya dan bisa Bahasa Madura atau tidak. Jika memang tidak bisa, mereka akan berdialog dengan suka rela menggunakan bahasa Indonesia, bahasa pemersatu negeri ini.

Mulanya belum ada sesuatu yang terlihat unik dari desa ini saat saya kali pertama datang. Seperti halnya perkampungan zaman sekarang, beberapa rumah penduduk sudah tak lagi didirikan dari pilinan bambu atau atap rumbai daun kelapa, melainkan sudah berbentuk gedung dengan atap genting. Layaknya perkampungan pesisir, sekeliling halaman rumah dipenuhi pasir pantai. Namun, saat tahu ada ibu-ibu yang rebahan di tumpukan pasir di teras rumah dengan santainya, saya mulai berpikir ada hal yang berbeda dengan desa ini.

Padahal, tujuan saya ke sana, sebatas mencari tumpangan tempat tinggal, selama penelitian kearifan lokal di kawasan pesisir utara Sumenep, termasuk pantai Lombang yang berada tepat di depan perkampungan ini. Saya ke sana bersama seorang teman asli Sumenep, tetapi dia juga baru kali pertama ke Desa Legung. Sampai akhirnya, kami bertemu seorang bapak yang mengenakan sarung yang digulung selutut dan berkemeja pendek. Sebut saja namanya Pak Ghofur. Menurutnya, tak ada penginapan khusus di kampung ini. Sebaliknya, Pak Ghofur justru mengajak saya ke rumahnya.

Setibanya di sana, saya terkejut melihat seisi rumah dipenuhi pasir berceceran. Sekali lagi saya melihat beberapa lelaki seumuran Pak Ghofur yang mengenakan sarung digulung selutut di dalam rumah. Ternyata orang di desa ini biasa bertamu kapan saja sambil tidur-tiduran di atas pasir di dalam rumah. Soal pakaian, belakangan saya mengetahui, bila cara berpakaian mereka merupakan bentuk kelestarian budaya yang diwariskan nenek moyang. Tak berselang lama, istri Pak Ghofur datang menyambut saya sembari bilang, “Selamat datang di kampung kasur pasir.”

Bu Ghofur dan anaknya terbiasa tidur bahkan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan di atas kasur pasir
info gambar

Kasur pasir? Dua kata ini sempat memunculkan pertanyaan bagi saya, sebelum akhirnya Pak Ghofur memperlihatkan sebuah kamar tidur ukuran 3×3 meter. Tak ada kasur kapuk apalagi ranjang, yang ada hanya petak berukuran 1,5×1,5 atau 1×2 meter berisi pasir setinggi 15 cm dengan pembatas semenan batu bata. Sekilas mirip ‘kolam pasir’ di taman bermain. Namun, petak berisi pasir itulah yang oleh masyarakat sekitar disebut kasur pasir. Menurut Pak Ghofur, kebiasaan tidur di atas pasir ini ada sejak zaman dulu dan dilakukan secara turun-temurun.

Pasir yang digunakan sebagai ‘kasur’ pun bukan sembarang pasir. Teksturnya lebih lembut, bahkan menjadi pasir terlembut yang pernah saya pegang. Rupanya, sebelum dijadikan alas tidur, pasir-pasir diayak terlebih dulu, berulang kali hingga lembut. Keunikan lainnya, pasir yang digunakan bukan dari pasir pantai yang ada di sekeliling rumah, melainkan pasir yang diambil dari sumber air tawar yang berjarak sekitar 5km dari perkampungan mereka.

Menurut istri Pak Ghofur, sumber mata air tersebut dikeramatkan, sehingga tetap terjaga kelestariannya. Biasanya setelah diambil, pasirnya dijemur sampai kering. Kemudian, diayak berulang kali hingga lembut dan nyaman untuk tidur. Selain itu, Bu Ghofur juga menyampaikan, alasan lain kenapa mesti jauh-jauh mengambil pasir dari sumber mata air, karena pasirnya tidak lengket di kulit. Kenyatannya, saat saya pegang memang pasir lembut tersebut tak ada satu pun yang menempel. Mungkin karena mineralnya lebih sedikit dibandingkan pasir pantai.

Pasir super lembut berwarna keemasan, cukup bersih dan tidak berbau, serta tak mudah menempel di kulit seperti pasir pantai
info gambar

Sekalipun hampir ditiduri setiap hari dan ada kemungkinan terkena ompol atau keringat, kasur pasir ini tak sampai berbau. Alasannya karena setiap hari rajin dibersihkan dan dijemur secara rutin. Selain itu, mereka akan mengganti pasir yang lama jika dirasa diperlukan atau minimal sebulan sekali dengan pasir baru. Dengan begitu, semua anggota keluarga dari bapak, ibu, hingga anak-anak tetap bisa istirahat dengan nyaman di atas kasur pasir setiap hari.

Seperti kebanyakan hal-hal yang dikeramatkan dapat memberikan manfaat tertentu, pasir yang diambil dari sumber mata air tersebut juga dipercaya oleh masyarakat sekitar dapat menghilangkan rasa lelah hingga rematik dan beragam penyakit kulit, seperti gatal-gatal. Hal itu mereka buktikan dengan langsung membuka baju dan merebahkan begitu saja tubuhnya di atas kasur pasir, sehabis melaut untuk mencari ikan. Sugesti yang mereka yakini pun memang terbukti mampu menghilangkan rasa lelah tersebut. Bahkan, beberapa penyakit gatal dan rematik yang sempat mereka rasakan, berangsur-angsur membaik setelah menimbun tubuh di kasur pasir. Setidaknya itulah yang mereka yakini sebagai sebuah tradisi.

Setelah Pak Ghofur menjelaskan panjang lebar tentang sisi budaya di balik penggunaan kasur pasir ini, beliau lantas menjelaskan tujuannya memperlihatkan langsung kasur pasir ini kepada saya dan teman saya. Menurut Pak Ghofur, sebelum saya, ada juga beberapa orang yang bertanya tentang penginapan saat ke Pantai Lobang. Namun, setelah tahu seisi kamar di rumah-rumah penduduk sini hanya berisikan kasur pasir, mereka akhirnya tidak jadi menginap dan memilih kembali ke pusat kota Sumenep untuk bermalam di sana.

Pak Ghofur dan keluarga yang sudah berbaik hati membolehkan saya menginap lima hari dan merasakan langsung tidur di kasur pasir di desa Legung
info gambar

Berbeda dengan pelancong yang diceritakan Pak Ghofur, saya justru memilih mencoba tinggal di sana walau hanya lima hari saja. Bagi saya, cara terbaik untuk memahami suatu budaya adalah merasakan dan mencobanya langsung di tempat asalnya. Berkat kebaikan Pak Ghofur, saya pun akhirnya bisa memahami sekaligus menyelami keunikan budaya tidur di kasur pasir ini. Saya akui keluarga Pak Ghofur sangat ramah dan begitu peduli dengan orang asing. Malah, Bu Ghofur sengaja memberikan kamar yang ada kasur pasir dan dipan berisi kasur kapuk. Tujuannya, agar saya dan teman saya bisa langsung pindah di kasur kapuk, jika tak bisa tidur karena tak terbiasa dengan kasur pasir.

Kami dapat dua kamar berbeda. Pak Ghofur menyarankan untuk melepas baju saat tidur di kasur pasir, agar lebih terasa. Benar saja, setelah saya mencobanya saat tidur di malam hari yang dingin karena semilir angin laut, tubuh saya justru merasakan kehangatan. Bahkan, dengan menimbun diri dalam kasur pasir, tubuh rasanya terselimuti. Begitu juga saat di siang hari, di tengah terik matahari Madura yang menyengat, tubuh saya justru merasakan kesejukan saat di rebahkan di atas kasur pasir. Saya pun jadi bisa membuktikan langsung bila pasir super lembut tersebut memang tak menempel sama sekali saat saya bangun dari kasur pasir. Unik bukan?

Tidak jauh dari Desa Kasur Pasir terdapat Pantai Lombang yang cukup populer dengan atraksi island hopping-nya dengan menunggangi kuda di Sumenep.
info gambar

Lima hari di Desa Legung tak hanya keindahan Pantai Lombang yang saya nikmati. Meski mulanya hanya iseng mencari tempat tinggal sementara, ternyata ada banyak kearifan lokal yang bisa saya pelajari di perkampungan pesisir ini. Dari sana pula saya bisa memahami bila selain karapan sapi, Madura juga masih punya budaya pesisir unik yang menarik untuk dikenali. Budaya tidur di atas kasur pasir yang penuh filosofi dan sudah mentradisi, cara berpakaian ala leluhur, hingga mengeramatkan sumber mata air tawar untuk mengambil pasir agar tetap lestari. Keramahan penduduknya menjadi nilai tambah tersendiri. Karena sifat keragaman yang mereka miliki, saya jadi semakin yakin bila perbedaan suku, ras, bahasa daerah dan agama bukanlah pantangan untuk tidak mengenal budaya yang berbeda. Sekali lagi, keragaman budaya Indonesia berhasil saya pahami.


Sumber: Iwan Tantomi (kredit)
Sumber Gambar Sampul: iwantantomi.wordpress.com (kredit)

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini