Belajar Kehidupan di Pantai Kusamba

Belajar Kehidupan di Pantai Kusamba
info gambar utama

Bali, tidak pernah kehabisan pesona. Selain alamnya yang indah, ada banyak pelajaran tentang kehidupan di sana.

Matahari belum terlalu tinggi, saat saya menjejakkan kaki di Pantai Kusamba. Rumah penduduk diselingi lahan kosong yang ditanami pepohonan, membuat pantai berpasir hitam ini sedikit terhalang dari jalan raya yang menghubungkan Denpasar dan Klungkung. Tidak ada petunjuk apapun. Sebuah papan kecil bertuliskan ‘Natural Sea Salt Farmer’ hanya terlihat bila berkendara dari arah Klungkung menuju Denpasar. Dari arah Denpasar, keberadaan Pura Goa Lawah dapat dijadikan patokan. Pantai Kusamba berada di sebelah kanan sekitar tiga kilometer setelah Pura Goa Lawah.

Pasir pantai yang hitam itu terasa panas menusuk kaki saat saya mencoba berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Air laut yang berwarna biru gelap, langit biru dengan gumpalan awan putih dan pasir pantai yang hitam menghasilkan paduan warna yang kontras. Di hadapan saya, Pulau Nusa Penida berdiri gagah.

Pantai Kusamba
info gambar

Di tengah suasana sepi dan angin bulan Desember yang cukup kencang, Saya asyik mengamati para pembuat garam yang tengah beraktivitas.

Saya sempat terkecoh, saat mengira sosok yang tengah memikul tempayan berisi air laut itu adalah seorang laki-laki. Ternyata pikulan kayu itu berada di pundak seorang perempuan. Disiramkannya air laut yang dibawanya ke pasir yang ada di pantai. Panas matahari membuat pasir yang basah itu mengering meninggalkan kristal garam yang berkilau.

menyiramkan air laut ke pasir
info gambar

Pasir ini kemudian diambil, dan dibawa ke dalam bangunan sederhana beratap ilalang. Di sana, pasir dimasukkan ke dalam batang pohon yang sudah dilubangi bagian tengahnya. Pasir ini kemudian dialiri dengan air laut dan airnya ditampung dalam wadah kayu. Tumpukan pasir diganti dengan yang baru. Air yang sudah mengandung kristal garam tadi digunakan untuk mengaliri pasir yang baru. Air inilah yang akan diuapkan di batang-batang pohon kelapa yang sudah dilubangi bagian tengahnya. Setelah air menguap, yang tertinggal adalah garam kasar berwarna putih bersih. Saya sempat mencicipinya. Rasanya asin tanpa menyisakan rasa pahit.

proses pembuatan garam
info gambar

Air inilah yang akan diuapkan di batang-batang pohon kelapa yang sudah dilubangi bagian tengahnya. Setelah air menguap, yang tertinggal adalah garam kasar berwarna putih bersih. Saya sempat mencicipinya. Rasanya asin tanpa menyisakan rasa pahit.

Saat angin bertiup cukup kencang, batang-batang kelapa berisi air garam itu ditutupi dengan daun-daun kelapa. Tujuannya agar air yang sedang diuapkan tidak terkena pasir pantai yang terbawa angin sehingga garam tetap bersih. Sungguh sebuah pekerjaan yang memerlukan kesabaran dan keuletan.

menutupi air garam
info gambar

Karena mengandalkan panas matahari, hasil pembuatan garam di Pantai Kusamba tidak selalu dapat diprediksi. Bila hujan sering turun, tentu hasilnya akan sedikit. Tidak heran bila jumlah petani garam semakin menyusut. Saat saya berkunjung hanya tinggal tiga keluarga yang menekuni pembuatan garam.

Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana para petani garam itu bisa hidup, hanya dengan menjual garam. Saat saya bertanya, mereka hanya memberi jawaban sederhana, bahwa Tuhan sudah mengatur rezeki makhluknya.

Jauh dari hiruk pikuk, Pantai Kusamba bukan hanya menawarkan keheningan namun juga pelajaran. Bukan hanya tentang pembuatan garam namun juga tentang keuletan, kesederhanaan dan kepasrahan kepada Tuhan.

Compose writing..


Sumber : dokumen pribadi
Sumber Gambar Sampul : akun facebook pribadi

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini