Tulisan ini sedikit membuka kembali riwayatku tiga tahun yang lalu mengenai provinsi paling utara di Indonesia, tepatnya di Sulawesi Utara. Sulawesi Utara adalah sebuah provinsi yang terkenal akan berbagai tempat wisata, seperti taman laut Bunaken yang terbaik akan keindahan alam bawah laut dan bisa dikatakan surganya bagi pecinta diving, Danau Tondano yang terbesar di Sulawesi Utara yang terletak di Desa Remboken yang sangat cocok digunakan sportwater atau sekadar menikmati pemandangan danau dari atas bukit, dan Bukit Kasih di Minahasa, dengan sebuah monumen berupa menara yang tinggi menjulang sebagai simbol persatuan umat beragama, sesuai dengan slogan Sulawesi Utara, “Torang Samua Basudara”, ditandai pada bagian dinding menara dengan sudut pandang kelima agama mengenai keberagaman umat beragama. Mengingat pembahasan tempat-tempat wisata yang sudah mainstream, untuk itu tulisan ini ‘berkutat’ pada trilogi yang menjadi daya tarik lain terkait Sulawesi Utara. Kata kunci dari tulisan ini adalah, BaKuDapa, akronim dari Bahasa, Kuliner, dan Moda Transportasi.

Mulai dengan yang pertama, Bahasa. Bahasa adalah bentuk alat komunikasi manusia secara lisan atau secara verbal yang memhubungkan antar individu sehingga terjadi kesepahaman. Secara umum, berbagai daerah di Indonesia memiliki bahasa daerah sendiri-sendiri. Ini merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang perlu dilestarikan. Seperti di Sulawesi Utara, terutama di wiayah sekitar Manado, Minahasa Utara, dan Bitung, memiliki bahasa tersendiri, Bahasa Manado. Bahasa Manado pada dasarnya hampir mirip dengan Bahasa Indonesia hanya ada perbedaan tertentu pada kata awalan, seperti Mengantuk = Mangato, Menyesal = Manyasal, berbicara = basuara. Kemudian untuk kata-kata tertentu yang memiliki akhiran N maka akan ditambahkan huruf G, seperti pada kata Teman = Tamang, ikan = Ikang, Makan = Makang. Serta ragam Bahasa Manado juga menyerap sebagian dari bahasa asing, Belanda dan Portugis. Seperti pada contoh kalimat ini, “dorang so klar depe karja, mar blum samua oto ada bawa milu”. Jika diartikan “mereka sudah selesai kerjanya tapi belum semua mobil membawa jagung”. Untuk kata so klar, mar, dan oto berasal dari kata Bahasa Belanda, dan pada kata milu berasal dari Bahasa Portugis.

Lanjut ke bagian kedua, Kuliner. Berbicara tentang kuliner di Sulawesi Utara maka sepakat kalau menu yang sudah popular dengan sebutan, Tinutuan atau Bubur Manado. Memang benar kalau Tinutuan atau Bubur Manado adalah makanan khas Sulawesi Utara. Tetapi khusus tulisan ini memperkenalkan makanan khas selain Tinutuan. Secara umum, kuliner Sulawesi Utara identik dengan Cabai atau Rica. Cabai seolah menjadi bumbu wajib bagi setiap masakan apapun, bahkan anggapan orang Sulawesi Utara, belum dapat dikatakan makan kalau belum ada cabai. Seperti pada menu Tude Bakar.

Tude Bakar
Tude Bakar

Tude bakar ini dengan cara pengolahan ikan Tude dipanggang dengan di atas bara api tetapi tidak terlalu dekat. Boleh dikatakan dengan cara diasap. Hasil panggangan ikan tude tesebut tidak terlalu matang, kemudian disajikan bersama dengan bumbu irisan garam, cabai, tomat, bawang merah, dan dituangkan minyak kelapa, serta ditambahkan daun kemangi. Rasanya enak  dan gurih, dan pedasnya terasa. Kemudian kuliner yang lain seperti Ikan Cakalang Fufu.

Pengasapan Ikan Cakalang Fufu
Pengasapan Ikan Cakalang Fufu

Hampir sama dengan Tude Bakar, tetapi ikan Cakalang Fufu dapat diolah dengan bebagai jenis masakan. Apakah dengan bumbu rica-rica goreng, dialuskan, bumbu saus atau sama dengan bumbu-bumbu Tude Bakar. Aku sempat berkunjung ke salah satu tempat pengasapan ikan cakalang yang konon produk ini sampai ekspor ke Jepang atau Amerika. Mulai tahap pemotongan ikan sampai pengasapan ikan Cakalang tersebut.

Satu lagi kuliner khas Sulawesi Utara, Gohu. Mungkin kita lebih mengenal dengan sebutan rujak manis atau rujak buah. Nah, pada Gohu ini bahan dasarnya dari buah papaya yang dipotong kecil-kecil berbentuk batangan, dengan bumbu cabai, asem, terasi bakar, garam, gula, cuka, air, dan jahe. Rasanya memang hampir mirip dengan rujak buah pada umumnya. Hanya saja, perbedaannya pada bumbu jahe. Sehingga rasa dan aromanya sangat khas yang tidak ada pada rujak buah.

Gohu
Gohu

 

Ketiga, Moda Transportasi. Berbagai Moda Transportasi mendukung di Sulawesi Utara, dari udara, laut, dan darat. Dari Moda Transportasi udara, adalah transportasi yang paling efektif untuk perjalanan antar pulau yang relatif jauh. Untuk itu, pilihan transportasi pesawat menjadi pilihan utama jika berkunjung ke sini. Pesawat komersil dengan kapasitas ratusan penumpang dapat mendarat di Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado. Lanjut pada Moda Transportasi laut, Sulawesi Utara memiliki dua pelabuhan besar, di Manado dan Bitung. Pelabuhan Manado dikhususkan pada moda transportasi laut yang menggunakan kapal cepat untuk rute pelayaran jarak dekat, sedangkan di Pelabuhan Bitung, kapal yang besar dengan rute pelayaran cukup jauh dari Indonesia Barat ke timur. Misalkan rute Jakarta – Bitung – Sorong.

Untuk Moda Transportasi darat cukup variatif, karena ada macam-macam moda transportasi, seperti ojek motor, otobus, dan otomikro. Ojek motor paling banyak di semua tempat, dari tempat-tempat umum, maupun tempat yang agak sepi. Selalu ada pangakalan ojek.

Pangkalan Ojek Motor
Pangkalan Ojek Motor

Jadi tidak perlu khawatir jika traveling ke daerah manapun di Sulawesi Utara, selalu ada ojek motor yang siap mengantar. Mengenai tarif, tidak ada yang pasti, cukup dengan tawar menawar dengan si pengojek, karena tarif ditentukan berdasarkan jarak tempuh. Lanjut ke moda transportasi  darat jenis otomikro. Otomikro ini ukuran cukup kecil yang hanya dapat mengangut maksimal 8 orang. Perbedaannya terletak pada interior otomikro ini. Fullmusic dengan pengeras suara ada di dalamnya, yang putar dengar keras-keras, dan sering musik yang diputar oleh Si Supir yang ajeb-ajeb. Lanjut lagi ke moda tansportasi darat jenis otobus. Otobus ini ada perbedaan otobus yang beroperasi di wilayah ini dengan di Jawa, Bali, atau NTB. Di wilayah ini otobus yang beroperasi relatif kecil dengan kapasitas penumpang 20 orang.

Otobus di Terminal Tangkoko
Otobus di Terminal Tangkoko

Persamaan dengan otobus ini dengan otomikro adalah selalu terpampang stiker terkait  besaran tarif sesuai Pergub setempat, jika penumpang penuh tidak diperkenankan masuk sebagai penumpang tambahan dan berdiri, tidak ada pengamen sepanjang perjalanan, dan satu hal yang penting yang berbeda dengan angkutan umum di Jawa, Bali, NTB, misalkan kita naik otobus atau otomikro, apabila kita ingin berhenti dan turun di suatu tempat, cukup bilang “Muka” ke sopir atau kernet, lalu si sopir tersebut akan memberhentikan kendaraannya. Simple!

Stiker Tarif di Kaca Pintu Otobus
Stiker Tarif di Kaca Pintu Otobus

Okay, Mungkin itu saja tulisan ini, dan mungkin ada beberapa hal yang belum lengkap disajikan, dan perlu sedikit catatan mengenai akronim BaKuDapa. Ada rahasia kecil mengenai penggunaan kata itu menjadi kata kunci dari tulisan ini, antara lain:

  • Mendapat inspirasi dari sebuah kata dari ragam Bahasa Manado. Beberapa hari saat aku tinggal di salah satu desa di Sulawesi Utara pada tahun 2013. Aku berkenalan dengan seorang gadis lokal yang masih berusia sekitar 23 tahun, sebut saja Lina. Dari perkenalan itu, kita bertukar nomor ponsel, kemudian berlanjut pada malam harinya kita saling berkirim pesan. Sampai puluhan kali kali berkirim pesan, saat pesanku dibalas dengan kata “besok jo, kita bakudapa di Terminal Tangkoko”, begitu isi pesannya. Lalu aku bertanya dengan me-reply pesannya itu, “apa itu artinya bakudapa, Lina? Kemudian dibalas lagi, “bakudapa itu depe arti Bertemu”. Untuk itu, alasan penggunaan singkatan BaKuDapa di tulisan ini, ada dalam pelafalan pada kata Bahasa Manado, bakudapa. Sehingga mengadaptasikan dengan istilah lokal yang menjadi intisari dari keunikan Sulawesi Utara.
  • Salah satu bagian dari ciri khas masyarakat Sulawesi Utara yang gemar mengakronimkan dua buah kata atau lebih, seperti Girian Permai menjadi Giper, Dia Punya menjadi Depe, Bolaang Mongondow Timur menjadi Boltim, dan seterusnya.

Jadi, tulisan ini sengaja untuk tidak menghilangkan rasa kekhasan akan Sulawesi Utara yang (sepertinya) tidak mungkin sama dengan dengan daerah lainnya. Sebagai perbandingan, aku pernah mengunjungi beberapa daerah, seperti Bali, Jawa, NTB, dan Gorontalo -yang notabene eks pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2000- sangat jauh berbeda. Perbedaan itu yang membuatku kangen untuk mengunjungi Sulawesi Utara. Seperti ada tantangan tersendiri untuk traveling ke sana lagi guna mengeksplorasi hal-hal yang menarik lainnya. Entah kapan kesempatan itu, tapi yang pasti, suatu hari nanti saya akan ke sana. Sambil mengetik tulisan ini, langsung membayangkan pertama kali yang akan aku lakukan saat pesawat yang kutumpangi sudah mendarat di Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, yakni sambil mengetik kata di akun media sosialku menggunakan smartphone-ku yang dulu itu, yang kubeli di salah satu mall di Manado, dan ter-update statusku. “I’m comeback, North Celebes! So lama eh, tamang, nyanda bakudapa deng dorang.” yang artinya Aku datang lagi, Sulawesi Utara! Sudah lama teman, tidak bertemu dengan mereka. Begitu kira-kira..


Sumber : dokumentasi pribadi
Sumber Gambar Sampul :https://www.facebook.com/widdot99

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu