Lupa Sandi?

LAMAKERA, DESA PEMBURU PAUS DI PULAU SOLOR

Reszi Ariefianda
Reszi Ariefianda
0 Komentar
LAMAKERA, DESA PEMBURU PAUS DI PULAU SOLOR
LAMAKERA, DESA PEMBURU PAUS DI PULAU SOLOR

     Bila mendengar perburuan ikan paus, pikiran kita biasanya akan melayang ke Desa Lamalera. Maklum, desa yang terletak di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, memang sudah terkenal seantero dunia sebagai desa pemburu paus. Ekpose media dan promosi wisata yang besar-besaran memang membuat nama Desa Lamalera kondang bukan hanya di Indonesia tapi sampai ke berbagai penjuru dunia. Padahal Lamalera bukan-satu-satunya desa pemburu paus di Indonesia. Masih ada satu desa pemburu paus lagi yang konon katanya mempunyai tradisi berburu paus jauh lebih dulu daripada Desa Lamalera, namanya Desa Lamakera. Memang hanya beda satu huruf, yaitu L dan K tapi dua desa ini mempunyai karakteristik yang sangat berbeda. Lamakera merupakan sebuah perkampungan berbasis islam di pesisir Pulau solor yang juga menjadi bagian dari Kabupaten Flores Timur, terletak di ujung timur pulau solor menjadikannya sebagai daerah yang cukup strategis karena menjadi tempat pertemuan arus dan mudah menjangkau laut sawu.

     Orang Lamakera merupakan nelayan ulung yang memulai tradisi perburuan paus biru dengan hanya bermodalkan “gala”(Tombak) dengan bertelanjang dada melesat diatas ganasnya samudera. Laskar Lamakera nama gelar untuk para penangkap paus desa Lamakera seajak dahulu. Laskar lamakera inilah yang memulai tradisi perburuan paus yang kemudian ditiru desa serumpunnya Lamalera disebelah selatan pulau lomblen (Lembata) yang bermayoritas Katolik dan Kristen protestan, anehnya hanya Lamalera yang selalu terekspose oleh media, hal ini pelak memicu protes warga Lamakera yang menduga adanya diskriminasi atas dasar agama oleh  Pemkab Flores Timur. 

Caption (Sumber Gambar)

     Menurut Dahlan Paing Ebang yang juga pensiunan PNS Departemen Penerangan RI Kabupaten Flores Timur, nelayan Lamakera ini memiliki keahlian khusus atau keunikan tersendiri, yaitu menangkap ikan paus sejak zaman dahulu, yaitu jauh sebelum 1225 Masehi. “Pekerjaan menangkap ikan paus ini membawa resiko tinggi yang selalu menelan korban jiwa, tetapi pelaut Solor (Lamakera) tidak gentar menghadapinya. Mengingat pekerjaan ini menghasilkan pendapatan keluarga untuk menyekolahkan anak-anak mereka,” tulis Dahlan, mantan Ketua Bidang Da’wah dan Pendidikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Flores Timur (1973-1985). Masyarakat Lamakera adalah sekelompok kecil penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya di laut indonesia. Walaupun banyak kecaman dari dunia tentang tradisi berburu paus, penduduk lamakera tetap mempertahankan tradisi nenek moyang mereka yang sudah ada sejak abad ke 16. Karena bagi mereka laut adalah segalanya dan ajaran nenek moyang mereka yang ternyata adalah bukti mampu menyelesaikan permasalahan mereka sehingga ereka tidak mau meninggalkan tradisi ini dan mencari – cari solusi lain yang lebih cenderung menduga – duga dalam menyelesaikan permasalahan.

Baca Juga

Caption (Sumber Gambar)

     Paus Sperma adalah buruan satu-satunya yang dijalankan masyarakat Lamakera. Ikan paus biru (Balaenoptera musculus) pun sering berlalu di hadapan mereka sebagai mamalia air terbesar yang ada (cetacean). Namun paus itu tak pernah diburu, karena selain untuk menjaga kelestarian satwa laut besar ini, tradisi menyebutkan bahwa Lamakera dan Lembata pada umumnya pernah diselamatkan paus biru dulu kala.Pantangan lain bagi mereka selain membunuh ikan paus biru, ialah membunuh paus sperma betina yang sedang hamil, anak paus, dan paus yang sedang dalam suasana musim kawin. Kadang-kadang nelayan harus berjuang sampai enam jam dalam menangkap ikan paus. Ini mungkin tampak kejam, tetapi jika ditelaah jauh lebih manusiawi dari armada penangkapan ikan paus Jepang, yang menggunakan perahu besar dan tombak granat melampiaskan pembantaian pada skala industri. Secara tradisi, ikan paus yang didapat dikonsumsi untuk masyarakat desa dan tidak melebihi dari kebutuhan hidup secara keseluruhan secara sosial. Terkadang jumlah paus yang ditangkap berfluktuasi sesuai ketersediaan dan keperluan masyarakatnya.

Caption (Sumber Gambar)

     Berbagai projek dan program dari berbagai lembaga internasional pun telah turun tangan untuk menangani serta mengurangi aktivitas yang dapat menghabiskan satwa langka liar tersebut. Seperti dengan memberi penyuluhan serta memberi berbagai pengetahuan kepada nelayan bahwa satwa seperti paus, lumba-lumba serta manta sangat dilindungi karena sudah mulai berkurangnya dalam kehidupan di laut. Memang Lamakera adalah suatu pulau yang dapat saya bilang adalah dengan sejuta keanekaragaman dan potensi yang sangat luar biasa dari kehidupan di perairan. Nelayan dapat dengan mudah menangkap ikan ikan karena laut di sana adalah potensi yang sangat luar biasa.

Caption (Sumber Gambar)

     Walau masih menuai kritik dari beberapa kalangan, tradisi masyarakat Lamakera berburu ikan paus diberi izin oleh lembaga konservasi dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Aktivitas kultural ini juga diakui sebagai tradisi secara internasional. Perburuan paus di Desa Lamakera, merupakan bagian budaya turun temurun dan dilakukan secara tradisional. Walaupun menuai kritik dari para pemerhati lingkungan, namun budaya ini sah di mata internasional. Perburuan paus tradisional sudah diakui dunia internasional, hanya ada di Kanada dan Indonesia saja. "Dalam perburuan paus ini, ada seluruh rangkaian budaya dan dimensi sosialitas rakyat. Menghilangkan budaya ini, sama dengan membunuh seluruh rakyatnya,". Begitulah, Lamakera memang tidak bisa dipisahkan dari laut dan paus. Alam rupanya juga senantiasa berpihak kepada masyarakat Lamakera dengan mengantarkan paus ke lautan di hadapan tanah air mereka. Sebab setiap tahun, ikan-ikan paus itu bermigrasi antara Samudera Hindia dan Pasifik selama bulan Mei sampai Oktober.

Caption (Sumber Gambar)
Sumber : Reszi Ariefianda & Google
Sumber Gambar Sampul : Google

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RESZI ARIEFIANDA

Indonesian. A guy that loves travelling, taking pictures, folk music, and sometimes writing words of meanings ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata