Golan-Mirah, Perpecahan Bermuara Legenda

Golan-Mirah, Perpecahan Bermuara Legenda

Golan-Mirah, Perpecahan Bermuara Legenda

Legenda ini terletak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tepatnya di Desa Golan dan Desa Mirah, Kecamatan Sukorejo. Berkisah tentang dua desa yang tidak bisa bersatu karena terbentur adanya kisah leluhur yang entah mitos atau fakta dari zaman dahulu hingga sekarang.

Kisah dimulai antara Ki Ageng Honggolono dan Kyai Ageng Mirah yang hendak mencarikan anaknya pasangan, yakni putra dari Ki Ageng Honggolono bernama Joko Lancur dan putri dari Kyai Ageng Mirah yang bernama Kencono Wungu. Kedua anak saling jatuh cinta sama lain dan berniat melanjutkan ke jenjang pernikahan. Joko Lancur, putra dari Ki Ageng Honggolono yang terkenal dengan watak yang suka berjudi dan berwatak buruk dan Kencono Wungu, putri dari Kyai Ageng Mirah, sosok yang santun dan taat beragama.

Kyai Ageng Mirah yang tidak suka dengan watak dan sifat Ki Ageng Honggolono tidak rela jika putrinya menikah dengan Joko Lancur, sehingga membuat persyaratan yang sangat sulit supaya pernikahan tersebut tidak terwujud. Kyai Ageng Mirah meminta dua persyaratan. Pertama, Ki Ageng Honggolono harus membuat bendungan yang mengaliri di Desa Mirah. Kedua, Ki Ageng Honggolono harus membuat seserahan berupa lumbung berisi padi yang harus berjalan dengan sendirinya menuju tempat pernikahan. Syarat-syarat tersebut sulit dipenuhi Ki Ageng Honggolono karena Kyai Ageng Mirah meminta pertolongan Kluntung Waluh untuk menghambatnya, namun akhirnya diketahui oleh Bajul Kowor, anak buah Ki Ageng Honggolono. Keduanya bertempur dan dimenangkan oleh Bajul Kowor.

Ilustrasi pertarungan Ki Ageng Honggolono dengan Kyai Ageng Mirah (Sumber: elzhito.wordpress.com)
Ilustrasi pertarungan Ki Ageng Honggolono dengan Kyai Ageng Mirah (Sumber: elzhito.wordpress.com)

Mendekati hari pernikahan, Ki Ageng Honggolono belum sanggup memenuhi persyaratan yang diajukan, akhirnya tidak ada jalan lain selain berbuat curang dengan ilmu hitam yang dimilikinya. Saat hari pernikahan, Kyai Ageng Mirah mengetahui bahwa Ki Ageng Honggolono berbuat curang. Akhirnya Ki Ageng Honggolono marah karena pernikahan gagal terjadi dan terjadilah pertempuran sengit antar keduanya. Melihat hal tersebut, kedua mempelai, Joko Lancur dan Kencono Wungu bunuh diri. Melihat putranya mati, Ki Ageng Honggolono bersumpah serapah 5 hal:

  1. Warga Desa Golan dan Mirah tidak boleh menikah
  2. Segala jenis barang dari Desa Golan tidak boleh dibawa ke Desa Mirah dan sebaliknya
  3. Segala jenis barang dari kedua Desa Golan dan Mirah tidak bisa dijadikan satu
  4. Warga Desa Golan tidak boleh membuat atap rumah berbahan jerami
  5. Warga Desa Mirah tidak boleh menanam, membuat hal apapun yang berkaitan dengan bahan kedelai

Percaya atau tidak, kelima hal tersebut sampai sekarang masih berlaku di sana dan menjadi tata krama yang tidak ada berani melanggarnya. Sudah beberapa contoh yang melanggar hal tersebut secara sengaja ataupun tidak sengaja berujung pada tertimpa masalah. Salah satunya saat ada seorang warga desa lain yang mengadakan upacara pernikahan dimana peralatan yang dipinjamnya berasal dari Desa Golan dan Mirah hingga akhirnya nasi yang ditanak tidak bisa matang. Contoh lain adalah, seseorang yang mencampur hasil panen padi di sebuah mobil dari kedua desa hingga akhirnya tidak bisa menemukan jalan pulang.

Air yang tidak bisa bercampur dari Sungai Golan (biru) dan Sungai Mirah (coklat)
Air yang tidak bisa bercampur dari Sungai Golan (biru) dan Sungai Mirah (coklat)

Selain kejadian yang ganjil, terdapat fenomena aneh yang memperkuat bahwa kedua desa tidak bisa bersatu hingga sekarang adalah tidak mau bercampurnya air yang bersumber dari Sungai Golan dengan Sungai Mirah, dari hal tersebut semakin memperkuat rasa untuk tidak bisa bersatu dari kedua desa.

Nilai-nilai yang terdapat pada legenda tersebut sampai sekarang masih dipegang utuh oleh warga di sana dan tetap dipatuhi agar petaka tak menimpa. Meskipun demikian, belum ada penelitian lebih lanjut yang mencari tahu kebenarannya entah bisa dipecahkan dengan ilmu sains atau tidak, atau justru tetap dibiarkan begitu saja supaya menjadi keragaman budaya yang ada di Indonesia. Wallahu alam bis shawab


Sumber : Observasi Langsung Lapangan
Sumber Gambar Sampul : Buatan Sendiri

Pilih BanggaBangga21%
Pilih SedihSedih8%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau38%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Potensi Kopi Indonesia dan Upaya Edukasi Dari Singosari, Malang Sebelummnya

Potensi Kopi Indonesia dan Upaya Edukasi Dari Singosari, Malang

Tahukah Kamu? Pohon Terbesar Dunia Ada di Indonesia! Selanjutnya

Tahukah Kamu? Pohon Terbesar Dunia Ada di Indonesia!

Adzkiya Brama N,
@adzkiyabrama

Adzkiya Brama N,

nafarofi.blogspot.com

Generasi Bakti Negeri - Find us at Facebook: Generasi Bakti Negeri | Twitter: @genbaktinegeri | Instagram: @genbaktinegeri | Website: generasibaktinegeri.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.