Lupa Sandi?

Kipo, Iki Opo?

Aprina Retnaningrum
Aprina Retnaningrum
0 Komentar
Kipo, Iki Opo?

Jogja Jogja tetap istimewa

Istimewa negerinya istimewa orangnya

Jogja Jogja tetap istimewa

Jogja istimewa untuk Indonesia

Baca Juga

(Jogja Istimewa-Jogja Hip Hop Foundation)

Sepenggal lirik lagu tersebut menunjukkan betapa istimewanya Yogyakarta. Sebagai Daerah Istimewa di Indonesia, Yogyakarta memiliki beberapa sebutan yaitu kota budaya, kota pelajar, kota wisata, dan masih banyak sebutan yang lain. Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan Pulau Jawa, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia.

Yogyakarta—dengan sebutannya sebagai kota wisata—merupakan tujuan wisata utama di Pulau Jawa. Banyak pesona terpendam di kota ini. Suasananya yang khas dan sarat budaya ini mampu meninggalkan seberkas rindu di hati para wisatawan yang menyempatkan diri singgah di kota Jogja. Tak hanya menawarkan berbagai objek wisata, Yogyakarta juga menawarkan kekayaan wisata kuliner yang pastinya siap menggoyang lidah para pecinta kuliner Nusantara. Tak lengkap rasanya jika berwisata ke Jogja tanpa menjelajahi Jogja dengan rasa. Berbagai jajanan khas pun bisa kita temukan di sini. Tentunya dengan cita rasa yang menggigit.

Kipo, salah satu kekayaan kuliner unik yang legendaris di Jogja. Kipo adalah salah satu makanan khas yang berasal dari Kotagede, salah satu wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang konon katanya merupakan cikal bakal Yogyakarta. Berbentuk lonjong dengan warna hijau, kipo memunculkan rasa legit dan manis yang khas sebagai kudapan. Tak hanya sekedar nama, kipo memiliki asal usul tersendiri. Menurut Bu Djito—pencipta kipo, awalnya jajanan pasar ini belum memiliki nama sehingga para pembeli yang melihat makanan ini sering bertanya “Iki opo?” (Ini apa?). Karena seringnya mendapat pertanyaan tersebut, Bu Djito menamai jajanan pasar ini dengan sebutan kipo.

Makanan tradisional ini mulai dikenal pada akhir tahun 1980-an, setelah Bu Djito mengikuti pameran jajanan tradisional. Namun hingga kini, kipo masih tetap eksis. Proses pembuatannya pun terbilang sangat sederhana. Terbuat dari bahan ketan, santan, garam, gula, dan pewarna hijau dari daun pandan. Bahan-bahan tersebut dicampur menjadi adonan yang cukup kental. Setelah itu adonan dibentuk lipatan pipih sebesar ibu jari orang dewasa yang di dalamnya diisi enten-enten (parutan kelapa yang berwarna cokelat karena dicampur dengan gula jawa). Setelah itu, kipo dipanggang di atas daun pisang dan diletakkan di atas wajan dari tanah liat. Proses pemanggangan ini menggunakan arang atau kompor. Agar kipo yang dihasilkan bagus dan matang, kipo harus sering dibolak balik. Kipo yang sudah matang akan mengeluarkan aroma khas yang berasal dari perasan daun suji, kelapa, gula jawa, dan daun pisang.

Tidak semua orang bisa membuat makanan khas yang unik ini. Butuh kesabaran dan ketelatenan agar komposisi yang dihasilkan bisa tepat. Ukurannya yang kecil sekali gigit membuat orang ketagihan untuk menikmatinya. Biasanya satu bungkus terdiri dari 5 buah kipo. Kudapan ini juga bisa dijadikan salah satu teman minum teh. Namun karena tidak mengandung bahan pengawet, kipo tidak bisa bertahan lama.

Kipo banyak dicari oleh masyarakat Jogja dan para wisatawan saat musim lebaran dan tahun baru. Saat ini kipo termasuk salah satu jajanan khas Jogja yang langka. Saking banyaknya orang yang memburu makanan ini, mereka biasanya sampai antri dan memesan dahulu pada produsen kipo. Namun saat ini, tidak banyak perajin kipo di Kotagede. salah satu perajin yang masih bertahan hingga puluhan tahun yaitu Bu Djito yang membuka kios di Jalan Mondorakan Kotagede. Harga 1 bungkus kipo pun cukup murah. Kita bisa mendapatkannya dengan harga Rp1.750,00.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG APRINA RETNANINGRUM

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara