Mahakarya Suku Kamoro Papua untuk Indonesia

Mahakarya Suku Kamoro Papua untuk Indonesia
info gambar utama

Papua di ujung timur Indonesia adalah mutiara. Selain karena alamnya yang serupa potongan surga, juga karena budayanya yang khas.

Ratusan suku yang mendiami tanah Papua memang telah mewariskan ragam budaya, adat dan serta berbagai bentuk kearifan lokal yang luar biasa. Masyarakatnya pun dikenal tangguh dalam merawat dan mempertahankan budaya mereka. Salah satunya adalah Suku Kamoro.

Masyarakat Kamoro yang jumlahnya kurang lebih 18.000 orang hidup secara seminomaden di daerah Mimika. Tempat tinggal mereka tersebar di sekitar 45 kampung. Budaya meramu dan mengumpulkan hasil alam masih melekat pada suku Kamoro. Hutan dan rawa di sekitar tempat tinggal menjadi “supermarket” yang menyediakan semua kebutuhan hidup mereka. Ikan, sagu, daging dan lain sebagainya bisa dengan mudah diperoleh. Tak heran jika orang-orang Kamoro memiliki keahlian yang sangat baik dalam memancing dan berburu.

Oktavianus Etapuka, salah satu pengukir kayu dari Suku Kamoro, Papua.
info gambar

Selain itu, Suku Kamoro juga melahirkan mahakarya berupa seni ukir kayu yang sangat unik. Beberapa waktu lalu hasil ukiran kayu khas Kamoro dipertontonkan di Pusat Kebudayaan Keosnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Seorang pengukir kayu asal Kamoro bernama Oktavianus Etapuka juga hadir. Ia yang tinggal di kampung Kekwa telah menekuni seni ukir kayu Kamoro selama 15 tahun. Dari pria berusia 55 tahun itu saya mendapat cerita tentang seni ukir kayu khas Kamoro.

Menurut Oktavianus dahulu orang-orang Kamoro sering membuat ukiran di peralatan sehari-hari. Hasilnya ukiran kayu Kamoro bisa dijumpai dalam berbagai bentuk. Antara lain lain Oteka yang berbentuk tongkat dan Yamate yang berupa perisai. Ada juga Pekaro (piring) dan Waki (alat pukul). Kayu yang digunakan biasanya adalah jenis kayu besi.

Ukiran kayu Kamoro pada sebuah wadah makanan.
info gambar

Kebiasaan dan keterampilan mengukir orang Kamoro diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, tidak semua orang Kamoro bisa mengukir. Biasanya hanya keluarga pengukir yang mewarisi keahlian tersebut. “Kalau ke kampung, lihat saja rumah-rumahnya. Kalau banyak ukiran, berarti dia pengukir”, kata Oktavianus.

Seiring berjalannya waktu, seni ukir kayu khas Kamoro nyaris tenggelam. Jumlah pengukir berkurang karena generasi penerus Suku Kamoro kurang berminat menekuni seni ukir kayu. Di sisi lain pengukir Kamoro yang tersisa hanya membuat ukiran untuk sekadar mengisi waktu senggang.

Berkat edukasi dan dorongan sejumlah pihak, orang Kamoro kemudian mulai menyadari arti penting ukiran kayu suku mereka. Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, ukiran kayu Kamoro juga bisa dijual dengan segala keunikannya. Orang-orang Kamoro, termasuk para anak mudanya pun kembali tertarik menekuni seni ukir yang diwariskan leluhurnya.

Seni ukir kayu Suku Kamoro berhasil bangkit dan semakin dikenal. Selain membuat bentuk ukiran baru, para pengukir juga “menghidupkan” lagi beberapa perkakas tradisional Kamoro yang sudah lama ditinggalkan. Contohnya adalah ukiran kayu pada sebuah perkakas menyerupai piring yang lebar. Sisi cekung para perkakas tersebut dahulu digunakan sebagai tempat makan, sementara sisi cembungnya digunakan sebagai pengganjal kepala saat tidur. Kini pengukir Kamoro membuatnya sebagai cenderamata.

Kehidupan Suku Kamoro yang sangat dekat dengan alam dan menghormati leluhurnya menjadi sumber inspirasi utama dalam membuat ukiran. Bentuk binatang seperti ikan, biawak, burung, dan buaya banyak dijumpai dalam ukiran kayu buatan orang Kamoro. Ukiran Yamate berbentuk ikan layar dengan wujud menyerupai manusia di dalamnya menjadi salah contoh. Ukiran tersebut memuat cerita seorang ibu yang berubah menjadi ikan layar. Cerita ini merupakan latar belakang mengapa orang Kamoro menjadikan ikan layar sebagai hewan yang sangat dilindungi dan tidak boleh diburu.

Ukiran Yamate menggambarkan seorang Ibu yang berubah bentuk menjadi ikan layar.
info gambar

Ukiran lainnya menggambarkan kebiasaan orang Kamoro berburu biawak. Ada juga ukiran berbentuk seekor ikan dan buaya yang sedang bersetubuh. Hal itu menunjukkan aturan pernikahan antar marga yang dianut oleh orang Kamoro.

Ukiran Yamate menggambarkan kebiasaan Suku Kamoro berburu biawak.
info gambar

Dahulu pengukir kayu Kamoro hanya membuat ukiran dengan corak dan bentuk sesuai dengan marga keluarga. Oktavianus mencontohkan ia yang memiliki marga api tidak membuat ukiran dengan corak marga ikan. Alasannya untuk menjaga kekhasan setiap ukiran. Namun, batasan itu kini tidak ada lagi. Setiap orang Kamoro bisa mempelajari dan membuat semua ukiran kayu dari marga apapun.

Ukiran kayu Suku Kamoro berbentuk tongkat (Oteka).
info gambar

Seni ukir kayu Kamoro memang beradaptasi dengan zaman sehingga tidak lagi kaku. Hasilnya lahir sejumlah bentuk ukiran kontemporer seperti burung Garuda Pancasila. Bahkan, Oktavianus sedang mencoba memadukan sentuhan corak budaya daerah lain seperti Bali untuk dimasukkan ke dalam ukiran kayu Kamoro. Teknik mengamplas yang dulu tidak digunakan, kini juga diterapkan untuk meningkatkan mutu hasil ukiran.

Ukiran kayu berbentuk burung Garuda Pancasila buatan orang Kamoro.
info gambar

Meskipun demikian, unsur budaya lokal tetap menjadi elemen utama dalam seni ukir khas Kamoro. Orang-orang Kamoro tetap mempertahankan ciri utama ukiran mereka. Salah satunya, mereka tidak menggambarkan bentuk tubuh secara telanjang. Dalam seni ukir Kamoro organ vital selalu ditutup atau disamarkan dalam bentuk lain. Itulah yang membedakan ukiran Kamoro dengan ukiran Papua lainnya.

Ukiran kayu khas Kamoro bukan hanya milik suku yang melahirkannya. Namun, juga telah menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa yang sangat berharga. Sekali lagi, Papua telah mewariskan mahakarya yang tak ternilai untuk Indonesia.




Sumber : teks dan foto dokumentasi pribadi.
Sumber Gambar Sampul :dokumentasi pribadi.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini