Mengenal Lebih Dekat Kontes Kecantikan Sapi Madura

Mengenal Lebih Dekat Kontes Kecantikan Sapi Madura
info gambar utama

Jika membincangkan tentang kebudayaan Madura, yang paling diingat dalam benak kebanyakan orang barangkali adalah Karapan Sapi. Karapan Sapi merupakan budaya masyarakat Madura yang namanya sudah mendunia. Karapan Sapi sudah dilangsungkan di Madura selama ratusan tahun dan masih terus dilestarikan hingga sekarang.

Selain dikenal sebagai pulau penghasil garam, Pulau Madura memang sangat dikenal sebagai pulau penghasil sapi unggulan. Terdapat satu jenis sapi yang merupakan endemik pulau Madura. Berkenaan dengan sapi, sebenarnya ada budaya lain di Madura selain Karapan Sapi namun belum dikenal banyak orang, yaitu Kontes Sapi Sonok.

Kontes Kecantikan Sapi

Kontes Sapi Sonok merupakan kontes kecantikan sapi di Madura. Di Madura, bukan hanya manusia yang memiliki kontes kecantikan, tapi kecantikan sapi juga dilombakan. Berbeda dengan Karapan Sapi yang merupakan lomba adu kecepatan untuk sapi jantan, maka Kontes Sapi Sonok hanya diikuti oleh sapi betina saja. Kontes Sapi Sonok ini tidak menilai kecepatan sapi saat berlari, namun yang dinilai adalah keserasian penampilan sapi saat berjalan di lintasan peragaan seperti model yang berjalan di catwalk.

Istilah “Sonok” merupakan singkatan dari “Sokona Nongkok”, yang merupakan Bahasa Madura yang berarti kakinya berpijak. Gerakan sapi yang menaikkan kakinya di ujung lintasan disebut Sokona Nongkok (kakinya berpijak) yang kemudian disingkat menjadi Sonok, inilah asal nama kontes kecantikan sapi di Pulau Madura ini.

Sapi Sonok Memijakkan Kaki di Garis Finish
info gambar

Dalam Kontes Sapi Sonok, sepasang sapi betina akan berjalan berpasangan di lintasan yang sudah disediakan, mereka harus berjalan dengan langkah kaki yang serasi dan seirama, tidak boleh saling mendahului satu sama lain, dan tidak boleh keluar dari garis tepi arena lintasan. Di lintasan sepanjang 50-80 meter inilah keserasian sepasang sapi tersebut dinilai. Di ujung lintasan peragaan terdapat gapura kayu dengan lebar dan tinggi sekitar dua meter. Pada gapura itulah sepasang sapi akan masuk dan memijakkan kakinya pada balok kayu tepat di bawah gapura. Puncak dari keserasian dan peragaan tersebut adalah ketika sepasang sapi betina memijak atau menaikkan kakinya pada balok kayu di ujung lintasan, yang dapat diandaikan sebagai garis akhir.

Pernak-Pernik Kontes Sapi Sonok

Syarat untuk mengikuti Kontes Sapi Sonok adalah, selain harus sapi betina, sepasang sapi yang diikutsertakan harus memiliki bentuk tubuh dan berat yang sama atau hampir sama, juga dengan wajah yang hampir sama pula. Kenapa begitu? Karena keserasian merupakan penilaian utama di kontes ini.

Selain harus memiliki bentuk tubuh yang serasi, sepasang sapi betina yang mengikuti kontes kecantikan ini juga diberi pernak-pernik agar mereka tampil cantik dan lebih menawan. Pada punggung sepasang sapi akan diikat sebilah kayu melengkung yang disebut dengan pangonong. Pangonong inilah yang menyarukan atau mengikat kedua sapi berina. Selain diberi kayu hias, badan sapi juga akan diberi hiasan kain berwarna merah dan warna emas agar sapi semakin terlihat cantik dan mempesona. Pada kepala sapi-sapi peserta juga diberi hiasan berupa mahkota.

Sapi Sonok diarak sebelum masuk lintasan
info gambar

Sebelum masuk ke arena lintasan kontes, biasanya pasangan sapi peserta kontes akan diarak mengelilingi lapangan terlebih dulu, sebelum kemudian masuk ke arena lintasan peragaan. Ketika diarak keliling lapangan, sapi peserta kontes akan berjalan berlenggak-lenggok diiringi tetabuhan kendang, gong, dan saronen (alat musik tiup khas Madura dengan pangkal berbentuk pipih yang suaranya cempreng dan melengking).

Memilih Sapi Istimewa

Sapi-sapi betina yang diikutsertakan di Kontes Sapi Sonok adalah sapi-sapi unggulan dan istimewa. Perawatan sapi betina yang akan diikutkan dalam Kontes Sapi Sonok tentu berbeda dengan perawatan sapi betina biasa yang digunakan untuk membajak sawah. Sapi-sapi itu sudah mendapat perawatan yang istimewa, baik itu dari segi makanan, kebersihan, dan kesehatannya. Dari segi makanan, misalnya, selain diberi makan rumput dan dedaunan, sapi unggulan tersebut juga diberi asupan seperti susu, telur, dan madu. Bahkan untuk makanan sehari-hari, sapi-sapi tersebut cenderung lebih banyak diberi makan pisang dan pepaya dibandingkan rumput dan dedaunan.

Sapi Sonok berlenggang di lintasan
info gambar

Berbeda dengan Karapan Sapi yang pemenangnya adalah sapi tercepat, di Kontes Sapi Sonok tidak ada pemenang karena kontes ini adalah untuk ajang pameran sapi-sapi dengan kualitas istimewa. Jadi secara tidak langsung, dewan juri dalam kontes ini adalah para juragan yang akan membeli sapi dengan kualitas terbaik. Harga sapi yang mengikuti Kontes Sapi Sonok dan berhasil menunjukkan kecantikan dan keserasiannya akan naik berlipat lebih mahal daripada sapi biasa karena banyak orang yang mencari sapi betina yang nantinya bisa melahirkan sapi-sapi terbaik dan unggulan. Berhubung kontes ini bertujuan untuk memilih indukan sapi dengan kualitas yang unggul, maka waktu penyelenggaraannya pun lebih lentur, bisa dua bulan sekali atau tiga bulan sekali. Namun setidaknya, Kontes Sapi Sonok diselenggarakan setahun dua kali.

Dari sapi-sapi betina yang sehat, unggul, dan tentu saja “cantik” inilah akan lahir anakan sapi terbaik. Sapi-sapi jantan yang diikutsertakan dalam Karapan Sapi kebanyakan lahir dari indukan sapi yang diikutsertakan dalam Kontes Sapi Sonok. Maka ajang kontes Sapi Sonok akhirnya bukan hanya sekadar menjadi ajang silaturahmi antar juragan sapi atau ajang memilih indukan sapi-sapi unggulan, namun penyelenggaraan Kontes Sapi Sonok secara lebih luas juga merupakan ajang untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat Madura, khususnya para juragan sapi, agar dapat melestarikan keberadaan sapi endemik Madura dengan kualitas unggul, sehingga keberadaan sapi Madura yang dikenal karena kualitasnya dapat terus lestari.

Hal yang lebih penting adalah, diselenggarakannya Kontes Sapi Sonok secara rutin akan melestarikan budaya lokal yang ada di Madura. Ingin melihat sapi berlenggak-lenggok seperti model di catwalk? Yuk, datang ke Pulau Madura. (*)

Sumber : Pengalaman Pribadi
Sumber Gambar Sampul :Dokumentasi Pribadi

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini