Isu tentang disabilitas nampaknya kini telah menyebar dan banyak diketahui oleh semua orang seiring dengan perbaikan dalam bentuk kebijakan maupun aksi sosial yang dilakukan dan dinisiasi oleh pihak pemerintah, NGO, maupun lembaga-lembaga lainnya. Hal tersebut juga seakan diiyakan dan direstui dalam blueprint ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015 silam tentang bagaimana isu mengenai inklusivitas dimana didalamnya terdapat sub bagian tentang disabilitas benar-benar menjadi konsentrasi yang cukup diperhitungkan setidaknya hal tersebut dibantu dengan sebuah inisiatif regional ASEAN yang membentuk sebuah lembaga / forum disabilitas yang bernama ASEAN Disabilities Forum (ADF). Dan untuk di Indonesia saat ini pula, kita telah mendengar sebuah program sekolah inklusi seolah telah mengurai permasalahan mengenai isu disabilitas disamping hal-hal lain yang masih terus ditingkatkan pada periode kedepan.

Di Yogyakarta sendiri, dunia disabilitas nampaknya sudah cukup lumayan mendapat perhatian. Bahkan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogjakarta sendiri pada puncak peringatan hari Disabilitas internasional merintis empat kecamatan sebagai kecamatan inklusi. Yang mana hal tersebut sedang merintis asa bagi Yogyakarta sendiri dalam tahapan mereka dalam menjadi Kota Inklusif di Indonesia.

Banyak dari kita yang mungkin masih menganggap remeh dan memandang dengan sebelah mata tentang apa dan siapa sebenarnya kaum disabilitas, termasuk didalamnya adalah sisi keterbatasan yang mereka miliki didamana didalamnya adalah termasuk kelemahan pada struktur fisik atau mental.

Namun nampaknya hal tersebut bukanlah sebuah penghalang bagi Panti Asuhan Bina Siwi yang beralamat di Komplek Balai Desa Sendangsari Pajangan Bantul Yogyakarta. Panti asuhan swasta ini sudah berdiri sejak 23 tahun silam atau berdiri pada 1993. Panti asuhan Bina Siwi yang mana salah satu diantara pendirinya bernama Ibu Djumilah ini mengakui bahwasanya mereka kurang mendapatkan dukungan finansial yang baik dari pihak pemerintah setempat dengan dibuktikan pada pemberitahuan yang ia (Ibu Djumilah) katakan bahwasanya dalam satu tahun, Panti Bina Siwi hanya mendapatkan bantuan dana Rp.750.000.

Angka tersebut tentunya tidaklah banyak bagi ukuran seorang panti asuhan yang menampung sekitar 30 penyandang disabilitas dengan karakteristik yang berbeda-beda. Dibutuhkan berbagai macam kebutuhan seperti masalah perekonomian dan pendidikan. Namun hal tersebut telah dipatahkan oleh panti asuhan Bina Siwi dengan program kewirausahaan yang mereka miliki untuk menopang perekonomian panti serta mengembangkan keterampilan para penyandang disabilitas dalam bidang kerajinan / creative industry.

Produk yang dihasilkan pada program perekonomian industri kerajinan panti Bina Siwi bisa dibilang kreatif dan terdiri dari berbagai macam produk. Mulai dari sandal, boneka, jepitan, kipas, tas, bunga, asesoris, hingga batik. Hal tersebut bisa dibilang sukses karena dari hal tersebut banyak sekali sisi positif yang bisa dirasakan oleh pihak panti Bina Siwi maupun pihak luar.

Salah satu diantaranya adalah dari bisnis yang dirintis tersebut, kini para anak-anak panti asuhan Bina Siwi bisa mengembangkan kemampuan dalam bidang aplikatif yang membuat mereka mempunyai kemampuan dalam bidang pembuatan produk kreatif. Bagi para disabilitas dan lembaga disabilitas lainnya pula, hal ini menjadi contoh yang dapat ditiru dan dijadikan motivasi tambah unuk lebih melihat sisi positif dari isu disabilitas dari pada hanya bergantung pada suatu pihak tanpa melakukan sebuah inisiasi. Serta tidak lupa bagi pemerintah kota Yogyakarta, hal ini akan membantu pemerintah kota Yogyakarta untuk semakin bersemangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pada isu disabilitas agar cita-cita Kota Yogyakarta menjadi Kota Inklusi di Indonesia benar-benar menjadi sebuah kenyataan.


Sumber :

http://www.hijabersworld.com/2015/07/ekslusif-panti-asuhan-bina-siwi.html

http://www.harianjogja.com/baca/2015/12/03/jogja-kota-inklusi-4-kecamatan-diritis-jadi-daerah-inklusi-667151 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu