Lupa Sandi?

Tradisi Gembayangan: Tidak Hanya Mahasiswa yang Butuh Wisuda

Agustina  Suminar
Agustina Suminar
0 Komentar
Tradisi Gembayangan: Tidak Hanya Mahasiswa yang Butuh Wisuda

Bagi banyak masyarakat, wisuda merupakan ceremony symbol untuk mengesahkan seorang dalam suatu jenjang proses. Tidak hanya mahasiswa, seorang waranggono(ronggen atau klede) juga harus melewati prosesi wisuda atau Gembayangan. Di daerah Kabupaten Nganjuk JawaTimur, tepatnya di daerah Ngrajek, terdapat tradisi turun-temurun yang disebut Wisuda Waranggono.

Waranggono sendiri adalah sebutan dari pekerja seni Tayub. Tidak mudah untuk menjadi seorang waranggono. Sebelum diwisuda, mereka harus mampu menari lebih dari 10 gendhing Jawa, karena tari merupakan modal utama profesi waranggono.

Jika mahasiswa harus datang ke aula atau convention centre kampus untuk diwisuda, begitu juga dengan tradisi Gembayangan ini. Untuk disahkan menjadi Waranggono, mereka harus melewati prosesi amek tirto atau pengambilan air suci di air terjun. Air terjun yang digunakan dalam prosesi wisuda berada di Air Terjun Sedudo, yang terletak sekitar 30 kilometer arah selatan Ngrajek. Pada tahapan ini, calon waranggono harus dipapah untuk menemui juru kunci Sedudo.

Prosesi ini bertujuan untuk menyerahkan sesajen sekaligus meminta restu. Hal ini hampir sama seperti ketika mahasiswa menaiki panggung untuk memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Dalam wisuda, perlu adanya pengesahan dari tokoh yang diagungkan.

Tidak berhenti disitu, setelah restu dari juru kunci air terjun didapat, para calon waranggono harus menari di dalam air terjun yang berketinggian 137 meter. Prosesi ini merupakan suatu bentuk penghormatan peserta wisuda terhadap kesakralan ritual.

Kemudian adalah tahapan pengambilan air suci yang dilakukan oleh perantara Sedudo. Selanjutnya, air yang telah dimasukkan ke klenteng atau wadah tadi diserahkan kepada sesepuh seni Tayub untuk kemudian dipercikkan ke kepala mereka. Percikan air klenteng menandakan para gadis tadi resmi menjadi waranggono.

Tidak banyak yang tahu, khsususnya masyarakat Jawa Timur yang mengenal tradisi Tayub. Tayub sendiri merupakan kesenian Jawa yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Tarian ini biasanya diiringi dengan gedhing atau musik Jawa dengan tempo yang lebih lambat dari musik Campursari. Tayub hampir sama dengan Jaipong di Jawa Barat atau tari Gambyong dari Jawa Tengah.

Waranggono saat tampil dalam pagelaran Tayub.   Sumber : marvelsip.blogspot.co.id
Waranggono saat tampil dalam pagelaran Tayub. Sumber : marvelsip.blogspot.co.id

Wisuda Waranggono atau Gembayangan dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada bulan Suro. Ketika waktu itu tiba, maka masyarakat di sekitar maupun diluar desa Ngrajek akan berbondong-bondong menyaksikan wisuda para Waranggono.



Sumber : viva.co.id
Sumber Gambar Sampul : ngliman.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AGUSTINA SUMINAR

We write to taste life twice. ... Lihat Profil Lengkap

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara