Lupa Sandi?

Indonesia Berkontribusi Dalam Pembaruan Peralatan Penelitian Nuklir Terbesar di Dunia

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Indonesia Berkontribusi Dalam Pembaruan Peralatan Penelitian Nuklir Terbesar di Dunia

Kemampuan Indonesia dalam bidang sains rupanya telah dipandang oleh dunia. Seperti yang terjadi di Swiss, lokasi infrastruktur penelitian Nuklir terbesar di dunia yang dijalankan oleh European Organization for Nuclear Research (CERN)  baru-baru ini akan melakukan program pembaruan peralatan. Hebatnya, Indonesia diwakili oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menjadi anggota A Large Ion Collider Experiment (ALICE) sejak 2014 terlibat dalam program tersebut.

Seperti dilansir dalam laman resmi LIPI, proyek pembaruan dan peningkatan (upgrade) peralatan CERN yang akan dilakukan mulai tahun 2019 hingga 2020 tersebut akan dijalankan secara bertahap. Dalam proyek tersebut LIPI akan berkontribusi dalam membangun dan mengembangkan teknologi Visual Inspection of Sensor Chip untuk Inner Tracking System (ITS) dan Moun Forward Tacker (MFT) serta teknologi algoritma pemusatan data dalam Online Offline Grid Network (O2). 

Peran LIPI dalam program penelitian nuklir terbesar di dunia ini membuktikan bahwa sejatinya Indonesia tidak hanya berperan dalam mengirimkan anak-anak banga untuk melakukan penelitian bersama CERN tetapi juga mampu untuk membangun infrastruktur penelitian berskala internasional. 

Baca juga: Anak-Anak Bangsa Dibalik Penemuan Partikel Tuhan

Baca Juga

Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI mengungkapkan bahwa kontribusi tersebut tidak terlepas dari kinerja tim peneliti dari Pusat Penelitian Informatika LIPI yang diketuai SUharyo Sumowidagdo. Kontribusi dalam proyek bersama CERN tersebut juga melibatkan peneliti lain dari Pusat Penelitian Fisika LIPI, Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi, dan tentunya lembaga nuklir di Indonesia, Badan Tenaga Nuklir Nasional atau BATAN. 

Tidak hanya mendapat kesempatan untuk berkontribusi, Indonesia juga diberi kehormatan untuk menjadi tuan rumah 7th ALICE ITS Upgrade, MFT and O2 Asian Workshop yang telah digelar pada 26-28 Juli yang lalu. 

"Saya turut senang dipercaya menjadi penyelenggara dan ini yang pertama bagi Indonesia," ujar Handoko bangga.

Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain juga mengungkapkan rasa bangga yang sama atas kontribusi LIPI di ALICE-CERN.

“Walaupun tim LIPI kecil hanya delapan orang, namun mampu menunjukkan kinerja dalam bagian tim besar tingkat global,” jelasnya.

Zulkarnain juga berhadap agar kolaborasi antara LIPI dengan CERN dapat menyentuh bidang yang lebih luas sebab lembaga yang dipimpinnya tersebut dipercaya memiliki kapabilitas dan potensi penelitian yang banyak.

“Kami terbuka dengan kerja sama dalam bidang lainnya melalui kolaborasi riset semacam ini,” ungkapnya.

Berkat dipercayanya LIPI untuk bekerja sama dengan CERN, peluang kerja sama dengan pihak swasta pun berdatangan. Seperti perusahaan dari Korea Selatan yang meminati untuk melakukan kerja sama dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi Visual Inspection of Sensor Chip. Teknologi itu sendiri merupakan teknologi inspeksi yang mampu mendeteksi apakah sebuah chip mengalami cacat atau kerusakan melalui citra foto. 

Tercatat, sejak tahun 2013 Indonesia melalui LIPI telah bekerja sama dengan CERN, dan menjadi anggota dari kolaborasi A Large Ion Collider Experiment (ALICE) pada awal 2014. Kolaborasi ini pun menghasilkan hubungan timbal balik di bidang penelitian yang saling menguntungkan.

Tim ALICE LIPI terbagi menjadi tiga sub tim yang masing-masing terlibat dalam tiga topik berbeda, pertama adalah jaringan grid pengolah big data hasil eksperimen. Kemudian kedua, perangkat keras khususnya sensor dari detektor. Dan ketiga adalah analisa fisika data hasil eksperimen. Sejauh ini ketiga tim bekerja sangat aktif lintas negara dengan para mitra globalnya masing-masing.

Suharyo Sumowidagdo, peneliti Pusat Penelitian Informatika LIPI sekaligus ketua panitia workshop tersebut menyambung, teknologi tersebut berperan dalam mengembangkan sistem inspeksi yang berbasis pengolahan citra/foto. “Contoh penggunaannya adalah pada pemeriksaan chip, teknologi ini mampu melihat apakah chip tersebut cacat/retak dengan memproses melalui citra (foto),” terangnya saat penutupan workshop pada Kamis (28/7).

Haryo, panggilan akrab Suharyo Sumowidagdo menyebutkan, potensi-potensi kerja sama seperti itu bisa dirintis dan mulai dikembangkan berawal dari kegiatan workshop seperti sekarang. “Apalagi workshop saat ini mempertemukan lebih dari 50 ilmuwan dari berbagai negara di dunia,” ungkapnya.

Para peserta sendiri pada kesempatan  tersebut mempresentasikan satu per satu laporan perkembangan teknologinya yang berkontribusi pada pembaruan peralaan CERN. Setiap teknologi dari berbagai negara akan disambungkan satu sama lain hingga menuju proses produksi yang ditargetkan pada 2016 hingga 2017.

Sebagai informasi, Indonesia melalui LIPI telah bekerja sama dengan CERN sejak 2013, dan khususnya menjadi anggota dari kolaborasi A Large Ion Collider Experiment (ALICE) pada awal 2014. Kolaborasi ini pun menghasilkan hubungan timbal balik di bidang penelitian yang saling menguntungkan.

Tim ALICE LIPI terbagi menjadi tiga sub tim yang masing-masing terlibat dalam tiga topik berbeda, pertama adalah jaringan grid pengolah big data hasil eksperimen. Kemudian kedua, perangkat keras khususnya sensor dari detektor. Dan ketiga adalah analisa fisika data hasil eksperimen. Sejauh ini ketiga tim bekerja sangat aktif lintas negara dengan para mitra globalnya masing-masing.


Sumber : LIPI
Sumber Gambar Sampul : youtube.com/FBCFilms

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bertekad untuk mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara