Bincang-Bincang Bersama Pak Ilham Habibie

Bincang-Bincang Bersama Pak Ilham Habibie
info gambar utama

Ketika Pak Dr. Ilham Habibie (putra sulung dari mantan presiden B.J. Habibie) berkunjung ke kota Stuttgart, pak ilham pernah memberikan seminar di hadapan mahasiswa indonesia dan karyawan indonesia yang bekerja di Jerman atau khususnya di Stuttgart dan sekitarnya. Acara seminar / ceramah itu bukanlah satu satunya seminar yang dilakukan oleh Pak Ilham. Beliau setiap kali mengunjungi Jerman selalu melakukan hal yang sama di kota-kota yang berbeda di Jerman di hadapan masyarakat indonesia, selain mempresentasikan rencana beliau untuk menghidupkan industri nasional pesawat terbang, juga memotivasi masyarakat indonesia yang ada di jerman untuk kembali ke tanah air.

Caption (Sumber Gambar)

Dari presentasi Pak Ilham yang saya hadiri tersebut, tentu saja tidak melulu seputar produk terbaru dari perusahannya yaitu pesawat R80 (pesawat berkapasitas 80 kursi) yang merupakan turunan dari pesawat CN-235 (pesawat berkapasitas 64 kursi). melainkan juga dimulai dari penjelasannya mengenai rencana pengembangan SDM di Indonesia dengan potensi Demografi Indonesia yang popularitasnya 250 juta, hingga ke SDA sumber daya alam Indonesia, serta perbandingannya dengan negara di ASEAN, ASIA, dan US serta EUROPE.

Mungkin karena pak Ilham terlahir dan besar di Jerman, jadi yang saya tangkap dari konsep dan visi dari Pak Ilham kurang lebih sama dengan penekanan budaya (etos) kerja Jerman yang sering saya jumpai di Jerman pada umumnya, yaitu menekankan disiplin, visinya yang longterm untuk menghidupkan industri manufakturing di tanah air dengan membuat perusahan “Prinsipal” yang pada akhirnya akan menumbuh kembangkan usaha kecil dan menengah (sejenis UKM, koperasi, dll).

Caption (Sumber Gambar)

Beberapa perusahan “Principal” di Jerman seperti perusahan mobil Mercedez yang berpusat di Stuttgart, BMW yang berpusat di Munchen, Porsche yang berpusat di Stuttgart, VW yang berpusat di Wolfsburg (dekat Hannover), Opel yang berpusat di Ruselheim (dekat Frankfurt) dan di Bochum, Audi yang berpusat di Ingolstadt, Ford yang berpusat di Sarbrucken dan di Koln, sangat membantu menumbuh kembangkan industri industri kecil yang tersebar di seluruh pelosok pedesaan yang ada di Jerman. Tidak hanya perusahan yang bergerak di bidang komponent penunjang perusahan prinsipal tersebut yang berkembang, melainkan perusahan penunjang lainnya ikut tergerakkan sesuai dengan ilmu ekonomi, yaitu restaurant, catering, perhotelan, pakaian, alat tulis kantor , dan lain lain. Sepertinya konsep yang ada di Jerman inilah yang ingin di kembangkan oleh Pak Ilham di Indonesia di masa datang, dan masyarakat indonesia tidak perlu lagi berbondong bondong berurbanisasi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Lebih lanjut yang menarik yang ingin saya sampaikan disini, Pak Ilham mengharapkan setiap daerah juga bisa menghidupkan “Cluster-Cluster” sebagai wadah kerjasama ABG (bukannya Anak Baru Gede) , melainkan “Akademisi + Busines + Goverment” dimulai dari lingkup pemerintahan paling kecil seperti kabupaten, sehingga tercipta “Ekosistim” yang tentunya akan bersimbiosis mutualisme. Yang pada akhirnya potensi daerah bisa di tingkatkan tidak hanya melalui tradisi turun menurun melainkan dengan dukungan penerapan “inovasi teknologi” dan sentuhan “entrepreneuership”, atau dalam bahasa sederhananya produk kerajinan masyarakat atau produk pertanian / perkebunan kualitasnya bisa di tingkatkan dengan dukungan para ahli dari akademisi / peneliti dan produknya bisa di jual keluar daerah hingga kemanca negara.

Menghubungkannya dengan para mahasiswa indonesia dan karyawan Indonesia di Stuttgart yang menghadiri seminarnya saat itu, Pak Ilham mengharapkan setiap individu masyarakat Indonesia bisa berkontribusi sesuai dengan keahlian dan minatnya untuk bisa menciptakan “cluster” nya masing masing, sehingga ilmu yang dipelajarinya bisa diamalkannya dan bermanfaat buat orang lain dan negara.

Refleksi

Caption (Sumber Gambar)

Mengakhiri sharing cerita ini, saya ingin mengajak para pembaca untuk mengikuti jejaknya Pak Ilham Habibie yang gemar berbagi informasi, karena berbagi informasi layaknya berbagi kebahagiaan yang tidak akan pernah berkurang bila di bagi bagi.

Seperti apa yang tertuang dalam kitab suci agama: “Seorang guru yang berbagi ilmu adalah lebih terhormat ketimbang seorang petapa yang berdiam diri.” Menyebarkan ilmu yang bermanfaat adalah kewajiban dan suatu kemuliaan. Pada hakekatnya, manusia memiliki kapasitas sebagai guru, karena dia adalah guru pertama untuk anak dan keluarganya. Seorang petapa juga tak kalah penting karena ia meninggalkan keduniaan utk mendekatkan diri pada Yang Kuasa dan berdoa untuk kebaikan manusia. Namun demikian seorang guru memiliki nilai kehormatan yang lebih karena kedekatannya kepada manusia yang diajarnya dan kebaikan nyata yang akan dihasilkannya.

Akhir kata, Jika kita tidak bisa menjadi guru di lingkungan masing-masing, setidak-tidaknya menjadi guru di keluarga sendiri. Inilah cahaya kecil yang bisa kita wariskan saat kita meninggal. Kita memang tidak mungkin pada saat ini menjadi cahaya besar. Namun jika cahaya-cahaya kecil itu banyak, akan terang juga. Lilin itu bercahaya kecil, tetapi jika 2 miliar batang, apakah tidak akan menerangi semesta? Selamat berbagi…


Sumber :
Sumber Gambar Sampul :

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini