Lupa Sandi?

Memberitakan kerukunan Umat Beragama di Indonesia lewat Seminar Pluralisme di Frankfurt

Ketut Adnyana
Ketut Adnyana
0 Komentar
Memberitakan kerukunan Umat Beragama di Indonesia lewat Seminar Pluralisme di Frankfurt

Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, Persatuan Masyarakat Indonesia di Frankfurt (PERMIF) bekerjasama dengan KJRI Frankfurt pernah menyelenggarakan seminar dengan tema pluralisme di Indonesia. Seminar yang diselenggarakan di Ruang Serba Guna KJRI Frankfurt dan menghadirkan tiga orang pembicara yaitu wakil dari organisasi perkumpulan masyarakat bali di jerman atau yang mewakili masyarakat Hindu, wakil dari cendikiwan muslim Bapak. Suratno MA PhD dan wakil dari Gereja Kristen Protestan Pendeta Dr. Martin Lukito Sinaga. Seminar tersebut dibuka oleh Acting Konjen Frankfurt dan dilanjutkan dengan paparan para pembicara yang menyampaikan konsep-konsep toleransi dari masing-masing agama yaitu agama Hindu, Islam dan Kristen Protestan.

Caption (Sumber Gambar)

Adapun alasan diselenggarakannya Seminar Pluralisme itu adalah sebagai tanggapan atas situasi konfilk antar agama di tanah air yang terjadi saat itu, dan masyarakat Indonesia di luar negeri khususnya di Jerman atau di daerah Frankfurt dan sekitarnya, merasa prihatin dan ikut bertanggung jawab menjaga nama baik Republik Indonesia di mata dunia internasional, dan dalam rasa concern terhadap perkembangan politik , ketentraman , dan kebersamaan hidup di tanah air. Seminar ini mendapatkan response yang cukup positive dari tamu yang hadir tidak hanya masyarakat indonesia tapi juga masyarakat Jerman yang concern akan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Secara singkat pemaparan dari peserta seminar tersebut, saya tampilkan disini:

Baca Juga
  • Ajaran HINDU pada hakekatnya mengajarkan umatnya untuk mengakui perbedaan (RWA BHINEDA) dan untuk bertoleransi dengan cara mengamalkan TRI KAYA PARISUDHA (Kelurusan berpikir, berbicara dan bertindak) serta meyakini KARMA PHALA (hukum sebab akibat dari suatu perbuatan). Ketika berinteraksi keluar, umat Hindu di ajarkan untuk mengamalkan TRI HITA KARANA (menjaga hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, manusia dengan Lingkungan alam, dan manusia dengan manusia). Dalam menerapkan ajaran agamanya di kehidupan masyarakat umat Hindu di tuntun untuk selalu fleksibel terhadap tempat, waktu, dan keadaan yang dikenal dengan DESA KALA PATRA.
  • Ajaran ISLAM mempunyai argument-argument yang tertera dalam Al Quran dan Sunnah yang sangat menjungjung tinggi nilai-nilai perbedaan dan basis bertoleransi: Al-Qur’an surat al-Hujurat; 13 menghimbau umat manusia yang berbeda latar belakangan ras, warna, bahasa dan agama agar hidup berdampingan dan saling berta’aruf. Surat yang lain yakni al-Baqarah: 256 tidak membolehkan adanya paksaan dalam perkara agama. Ayat ini menegaskan bahwa keimanan seseorang atas suatu agama didasarkan atas pilihan sadar, bukan karena tekanan pihak luar.
  • Ajaran KRISTEN, sangat jelas dan tidak bisa ditawar-tawar dalam bertoleransi adalah dalil keharusan, dalam kelengkapan INJIL, kepada umatnya bahwa hanya dengan mengasihi sesama manusia yang sama kepada dirinya sendiri, jadi adalah tidak kristen sejati kalau tidak mengikuti dalil-dalil keyakinan tersebut dan dalam kisah Rasul-Rasul diingatkan lagi, kalau kamu memberi tumpangan kepada orang lain yang tidak kau kenal, maka secara tidak diketahui, kita telah memberi tumpangan kepada MALAIKAT, sangat begitu tinggi penghargaan dan sikap toleran kepada orang lain yang berbeda.

Setelah pemaparan makalah, acara tersebut dilanjutkan dengan makan siang dan ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Dari hasil diskusi para pembicara dan peserta sepakat bahwa setiap agama menyarankan umatnya untuk menghormati dan bertoleransi terhadap pemeluk agama lain. Menimbang hal tersebut, maka terjadinya pertikaian antar umat beragama di beberapa wilayah di Indonesia bukan berasal dari ajaran agama namun disebabkan oleh pemanfaatan isu agama oleh oknum-oknum yang berusaha mendapatkan keuntungan dari pertikaian antar umat beragama. Menyadari hal tersebut maka dialog antar para pemuka dan umat beragama di Indonesia dinilai penting untuk meningkatkan sikap toleransi serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pengurus PERMIF sebagai pihak penyelenggara berharap bahwa kegiatan seminar ini dapat memberikan masukan berharga untuk menjaga sikap toleransi antar umat beragama terutama masyarakat Indonesia yang tinggal di Frankfurt dan sekitarnya.

Refleksi

Caption (Sumber Gambar)

Pluralisme berasal dari katal plural yang berati jamak, ragam. Pada kenyataannya, isi semesta ini memang ragam. Pun demikian halnya dengan pandangan ketuhanan, agama. Keragaman, dalam banyak hal, justru menjadi sumber keindahan dan menunjukkan kebesaran Tuhan. Bayangkanlah sebuah taman yang tanamannya sama semua, tentu akan jauh dari kesan indah. Bayangkan semua manusia sama sifatnya, bentuk fisiknya, tentu akan menimbulkan kebingungan dan kekacauan luar biasa.

Peradaban manusia bergerak maju dan manusia semakin menyadari bahwa setiap orang memiliki hak hak dasar yang tidak boleh dirampas dengan alasan apapun dan dalam kondisi apapun. Hak dasar tersebut memungkinkan setiap orang memilih sesuatu yang berbeda dengan orang lain, termasuk salah satunya bebas memilih agama sesuai keinginan dan keyakinannya. Dalam kondisi tersebut, manusia membutuhkan lebih dari sekedar toleransi. Toleransi hanya berarti membiarkan dan tidak mengganggu orang lain yang berbeda. Dunia yang aman, nyaman dan beradab membutuhkan sikap yang lebih mendalam dari toleransi. Manusia membutuhkan kesadaran pluralisme, bahwa perbedaan adalah keniscayaan sehingga tumbuh sikap yang tidak hanya membiarkan dan tidak mengganggu sesuatu yang berbeda, tetapi juga mengakui, menghargai, menghormati dan secara aktif mendorong orang lain tetap pada pilihannya yang berbeda tersebut.

Caption (Sumber Gambar)

Karya sastra Sutasoma begitu populer di Tanah Air. Kepopuleran Sutasoma buah karya Mpu Tantular kemudian menyebar melewati batas sastra. SesantiBhinneka Tunggal Ika sudah menjadi lambang dari persatuan Indonesia. Sesanti itu tertulis di antara dua kaki Burung Garuda yang menjadi lambang negara. Dengan demikian, Bhinneka Tunggal Ika sudah otomatis menjadi simbol negara, yang patut kita junjung tinggi demi tegaknya Republik Indonesia yang didasari oleh keanekaragaman suku dan budaya Indonesia.

Akhir kata, Agama ibarat langit suci yang teduh dan melindungi kehidupan. Masyarakat harus kembali kepada basic value atau basic principle yang merupakan nilai-nilai dasar dalam kehidupan. Nilai-nilai dasar itu bersumber pada agama dan falsafah negara kita yakni Pancasila. Kearifan lokal yang terkait dengan nilai-nilai pluralitas budaya atau multikulturalisme dalam masyarakat perlu kiranya direvitalisasi untuk membentengi diri dari gejala disintegrasi bangsa.

Demikianlah sekapur sirih sumbangsih dari perkumpulan masyarakat Indonesia di Jerman demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salam Bhineka Tunggal Ika

Sumber :
Sumber Gambar Sampul :

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG KETUT ADNYANA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie