Sendratari Epik di Tepi Tebing Romantik

Sendratari Epik di Tepi Tebing Romantik

Sendratari Epik di Tepi Tebing Romantik

“Cak!Cak!Cak!”

Matahari mulai meredup tanda kembali ke ufuk namun suara lantang puluhan penari terdengar begitu bersemangat di hadapan ratusan penonton Tari Kecak di Pura Uluwatu. Pertunjukan Kecak menjadi daya tarik kami dalam perjalanan Jelajah Indonesia bersama Citilink dan Citilink Cars kali ini.

Tebing Pura Uluwatu
Tebing Pura Uluwatu

Di samping saya seorang wisatawan asal Jepang nampak membaca dengan teliti penjelasan yang diberikan oleh panitia di selembar kertas. Nampaknya ia tak begitu terganggu dengan keramaian amphiteater yang telah dipenuhi ratusan orang dari berbagai macam negara. Matanya tetap lekat melihat selembar kertas yang ditulis dalam huruf hiragana. Selain bahasa Jepang, pihak panitia menyediakan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Seorang turis Jepang sedang asyik membaca
Seorang turis Jepang sedang asyik membaca

“Cak!Cak!Cak!”

Suara penari makin lantang ketika sosok perempuan masuk ke dalam arena amphiteater. Tariannya begitu gemulai. Ia tak datang sendiri namun bersama dengan Rama dan Laksmana.

Tiba-tiba muncullah kijang emas meminta sosok Rama untuk menangkapnya. Rama meninggalkan Sita yang dijaga oleh Laksamana. Tiba-tiba terdengar jeritan meminta tolong.

Menurut Sita, itu pasti datang dari Rama, kemudian ia menyuruh Laksamana untuk membantunya. Namun Laksamana tidak mau karena sudah mendapatkan tugas untuk menjaga Sita. Sita marah karena menuduh Laksamana ingin mencari untung kalau Rama terjadi apa-apa. Karena dituduh hendak mencari untung, Laksamana naik pitam dan pergi meninggalkan Sita seorang diri.

“Cak!Cak!Cak!”

Matahari kian meredup. Deburan ombak di kejauhan nampak bergulung. Tiba-tiba sosok menyeramkan masuk ke dalam arena. Ia adalah Rahwana.

Sang Rahwana hendak menculik Sita
Sang Rahwana hendak menculik Sita

Rahwana muncul hendak menculik Sita namun tak berhasil. Namun ia tak kehabisan akal, dengan ide piciknya Rahwana berubah wujud menjadi Bhagawan atau orang tua yang sedang kehausan dan meminta air kepada Sita.

Sita tak tega melihatnya. Ketika ia memberi air tiba-tiba Bhagawan tersebut membawa lari Sita yang sebenarnya adalah Rahwana yang sedang menyamar. Dasar Rahwana!

Sita lalu menjerit meminta tolong.

Jeritannya tersebut didengar oleh Burung Garuda yang sedang terbang di angkasa. Akhirnya sang Garuda menolong Sita namun sungguh sayang, Rahwana menebas sayapnya. Sita pun dibawa kabur ke Alengka Pura oleh Rahwana.

“Cak!Cak!Cak!”

Di tempat lain, Rama dan Laksamana yang sedang tersesat di hutan Ayodya Pura ingat dengan istrinya yaitu Sita yang dibawa kabur oleh Rahwana ke Alengka Pura.

Tiba-tiba datanglah Twalen yang memberitahu hal tersebut.

Laksamana menyesal telah bertengkar dengan Sita.

Bala bantuan pun datang dari Hanoman, si kera putih yang usil bukan main. Ia masuk ke dalam arena sambil meloncat kesana-kemari. Rama akhirnya memberi tugas khusus untuk Hanoman yaitu membawa cincin ke Alengka Pura untuk diberikan kepada Sita.

“Cak!Cak!Cak!”

Sita ditemani oleh Trijata, keponakan Rahwana di Taman Istana Alengka. Tiba-tiba Hanoman muncul.

Ia berkata bahwa ia adalah utusan dari Rama sambil memperlihatkan cincin yang dibawanya.

Sita pun menyerahkan bunga untuk diberikan kepada Rama sambil memberi pesan agar Rama segera menyelamatkannya. Seketika itu juga Hanoman langsung pergi dari taman Alengka Pura.

Namun malang nasibnya, ia ditangkap oleh raksasa dan diikat. Tak hanya diikat ia juga akan dibakar!

Namun karena kesaktiannya Hanoman berhasil lolos dari maut.

Suara tepukan penonton terdengar menggema di penjuru amphiteater ketika Hanoman menginjak-injak bara api di tengah arena.

Akhirnya Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.

Hanoman di tengah bara api
Hanoman di tengah bara api
Hanoman
Hanoman

“Cak!Cak!Cak!”

Lampu amphiteater sudah dinyalakan. Seorang pemain berada di tengah arena amphiteater sambil menyapa seluruh penonton. Penampilannya yang kocak dan interaktif kepada penonton membuat amphiteater dipenuhi gelak tawa.

Ada sedikit rasa enggan untuk mengakhiri pertunjukkan yang dibawakan begitu apik oleh semua pemain terutama penari kecak yang sejak satu jam yang lalu terus membunyikan suara dari mulut mereka sebagai latar suara pertunjukkan.

Namun malam makin larut dan perjalanan harus terus berlanjut sedangkan badan harus segera beristirahat. Sambil berjalan meninggalkan arena dalam hati pun berujar, senang sekali dengan penutupan perjalanan hari ini, sampai jumpa kembali “Cak!Cak!Cak!”


Sumber Gambar Sampul : Dokumentasi Pribadi

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kophi Senusa Babel 2016 Sebelummnya

Kophi Senusa Babel 2016

Jelang 55 Tahun Perkembangan Teknologi Material Indonesia Selanjutnya

Jelang 55 Tahun Perkembangan Teknologi Material Indonesia

Imama Lavi Insani
@imalavins

Imama Lavi Insani

http://imalavins.blogspot.com

Hidup sederhana yang penting bermanfaat :D

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.