Batu Bidak Peninggalan Zaman Megalithikum Ditemukan

Batu Bidak Peninggalan Zaman Megalithikum Ditemukan
info gambar utama

Warga Kampung Onclang, Kecamatan Ciemas, Sukabumi, Jawa Barat menemukan batu-batu yang berbentuk seperti bidak catur pada bulan Juni lalu. Awalnya, Arkeolog menyebut batu-batu itu peninggalan budaya Hindu atau Budha pasca abad 5 Masehi dan ada yang menyebutnya peninggalan sebuah candi.

Ketika ditelusuri lebih lanjut, artefak ini unik dan terbilang langka. Usianya juga jauh lebih tua yakni berasal dari Zaman Megalithikum, periode Prasejarah saat manusia belum mengenal tulisan. Jadi batu-batu ini bukan peninggalan budaya Hindu Budha atau candi.

Disparbudpora Kabupaten Sukabumi untuk sementara menyebutnya Situs Batu Bidak. Jumlah batu yang ditemukan sekitar 100 buah. Bisa dikatakan batu-batu ini tidak ada yang memiliki bentuk yang sama, namun secara umum dapat digolongkan ke dalam 3 tipe:

Tipe 1, berbentuk seperti bidak catur. Memiliki 4 bagian, bagian paling bawah untuk menancapkan batu ke dalam tanah, sedangkan tiga bagian lainnnya berada di atas permukaan tanah.

batu bidak tipe 1. foto: detik.com
batu bidak tipe 1. foto: detik.com

Tipe 2, berbentuk seperti papan yang lebarnya relatif sama mulai dari atas sampai bawah. Seperti tipe 1, tipe ini juga terdiri atas 4 bagian.

Tipe 3 merupakan bentuk-bentuk lain, seperti bulat, oval atau lonjong, dan lainnya. Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan Tipe 1 dan 2.

Batu-batu ini ditemukan di kawasan perbukitan. Di masa lalu mungkin terkubur dan baru ditemukan kembali setelah kawasan perbukitan ini mengalami longsor. Arkeolog yang meneliti menduga artefak ini mempunyai kaitan dengan budaya maritim. Hal ini dilihat dari letak situs yang berada di punggungan bukit dan dari bukit tersebut dapat melihat laut selatan tanpa terhalang apapun. Situs-situs megalitik yang berada di Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukanagara, dan Gunung Padang juga berada di bukit atau di ketinggian dan berorientasi ke laut.

situs batu bidak di foto: detik.com
situs batu bidak di ciemas, Sukabumi. foto: detik.com

Mengingat situs-situs megalitik tersebut berasal dari masa Prasejarah, maka tidak ada tulisan apa pun untuk mengetahui manusia pembuatnya, nama kerajaan atau nama rajanya. Namun arkeolog memperkirakan pembangun batu-batu bidak catur ini adalah Bangsa Kekar Tiang.

Bangsa ini menggunakan batu kekar tiang (columnar joint) untuk membuat bangunan, mampu mengetahui potensi emas, dan memiliki relasi dengan laut serta kemampuan untuk berinteraksi lebih luas lagi melalui laut. Singkatnya, Bangsa Kekar Tiang merupakan Penguasa Jalur Pegunungan Emas dan Perekat Laut Lepas. Kekar Tiang misalnya ditemukan di Kerajaan Kutai di Kalimantan, Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, Kerajaan Pajajaran dan Majapahit di Jawa, bahkan terdapat sampai di pulau-pulau di timur Indonesia.




Sumber : detik.com
Sumber Gambar Sampul : detik.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini