Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Pesona Belimbing Unggul Hasil Inovasi Warga Desa Karangsari, Blitar

Widya LestariN
Widya LestariN
0 Komentar
Pesona Belimbing Unggul Hasil Inovasi Warga Desa Karangsari, Blitar
Pesona Belimbing Unggul Hasil Inovasi Warga Desa Karangsari, Blitar

Produk pertanian yang berdaya saing tinggi tidak melulu datang dari produsen besar. Belimbing Karangsari merupakan belimbing varietas unggul yang dikembangkan Kelompok Tani Margo Mulyo. Berawal dari pemanfaatan halaman rumah, warga Desa Karangsari, Blitar kini mampu menghasilkan sekitar 70 ton belimbing tiap minggunya.

Nama Belimbing Karangsari diambil dari nama desanya, desa Karangsari. Usaha budidaya belimbing awalnya dilakukan oleh Ketua Kelompok Tani Margo Mulyo Imam Surani pada tahun 1985. Lalu pada 1990 warga desa mulai mengikuti jejak Imam dengan menanam pohon belimbing pada pekarangan rumah mereka.  

Pembibitan belimbing dilakukan dengan cara okulasi, yaitu menempel mata tunas ke batang bawah. Mata tunas ini diambil dari pohon induk varietas unggul. Kelompok Tani Margo Mulyo memilih okulasi karena lebih hemat dan praktis. Cara pembibitan dengan cangkok dinilai pemborosan mata tunas.

belimbing unggul karangsari. foto: belimbingkarangsari.com
belimbing unggul karangsari. foto: belimbingkarangsari.com

Sekarang ini Kelompok Tani Margo Mulyo mempunyai ratusan anggota petani belimbing dan ada 14 pengepul. Pengepul ini berfungsi untuk menampung hasil panen dan mengelompokkan belimbing ke dalam kelas-kelas. Hal ini dikarenakan pengepul ada yang memasok belimbing ke pasar, ada yang ke supermarket. Berkat buah ketekunan para anggota kelompok tani, saat ini belimbing Karangsari berhasil mengisi supermarket di seluruh Pulau Jawa.

Baca Juga

Belimbing menjadi tanaman wajib, oleh karena itu pekarangan rumah warga, lahan kosong, hingga sawah di desa Karangsari dialihkan untuk menanam belimbing. Saat ini, jumlah pohon belimbing di Karangsari telah mencapai 30.000 pohon. Semenjak tahun 2007, di Karangsari berdiri agrowisata belimbing dan menjadi salah satu destinasi wisata di kota Blitar.

Melimpahnya produksi belimbing di desa karangsari juga mendorong warganya untuk memasarkan produk dari belimbing dalam bentuk lain. Misalnya, buah belimbing yang terlalu matang akan dibuat opak gambir, cemilan khas kota blitar. Belimbing afkir daripada dibuang percuma diubah menjadi produk lain sehingga bernilai ekonomis. Selain opak, warga juga mengolah belimbing afkir menjadi berbagai olahan lain seperti keripik belimbing, manisan kering belimbing, dan pure belimbing.

Perbaikan kualitas belimbing terus dilakukan oleh Kelompok Tani Margo Mulyo, seperti dengan melakukan persilangan bunga. Persilangan ini menghasilkan buah yang besar dan manis. Hasilnya dinamakan belimbing F3 yang beratnya dapat mencapai 8 ons.

Imam Surani, Ketua Kelompok Tani belimbing Karang Sari saat menerima Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2013 kategori produk segar. foto: kompas.com
Imam Surani, Ketua Kelompok Tani belimbing Karangsari saat menerima Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2013 kategori produk segar. foto: kompas.com

Terkait berhasilnya belimbing Karangsari, berbagai penghargaan telah berhasil didapat. Seperti penghargaan Ketahanan Pangan pada 2010 di Istana Negara, penghargaan dari Gubernur Jawa Timur dalam Inovasi Teknologi Produk Unggulan 2013, serta Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2013 di Jakarta.

Inovasi dari desa karangsari tidak berhenti disitu, sekitar tiga tahun lalu Klinik Agrobis didirikan di desa ini sebagai sarana belajar petani atau masyarakat yang mau budidaya belimbing.



Sumber : kompas.com Merajut Asa Trans7
Sumber Gambar Sampul : belimbingkarangsari.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG WIDYA LESTARIN

i am happy ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara