Lupa Sandi?

Selokan Bening Klaten

Reszi Ariefianda
Reszi Ariefianda
0 Komentar
Selokan Bening Klaten
Selokan Bening Klaten

     Wilayah Kabupaten Klaten diberkahi dengan sumber mata air yang deras. Diantara sumber air tanah itu dapat dimanfaatkan untuk irigasi sawah, Keperluan rumah tangga serta dimanfaatkan untuk air minum baik oleh perusahaan milik daerah maupun swasta. Jadi ceritanya daerah sini itu banyak umbul, airnya bening-bening, bahkan air selokan sawah aja bening. Caption (Sumber Gambar)Beberapa umbul mata air di lereng Merapi ini dimanfaatkan sebagai kolam pemandian dan salah satu yang terkenal adalah Pemandian Cokro Tulung Klaten. Pemandian Cokro Tulung memanfaatkan sumber air dari Kali Busur yang terletak di Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten. Saat ini pemandian Cokro tulung menjadi salah satu wisata andalan di Kabupaten Klaten. Caption (Sumber Gambar)Bahkan salah satu Umbul disini dipake untuk ngisi galon salah satu perusahaan air minum kemasan. Hal itu terlihat dari keseriusan pihak terkait untuk membangun kompleks wisata pemandian Cokro Tulung menjadi Obyek Mata Air Cokro Tulung (OMAC).

     Warga sekitar memanfaatkan air ini juga untuk mencuci atau mandi namun tidak memakai deterjen. Hmmm, mungkin itu sebabnya selokan tetap bening. Kejernihan bisa jadi karena kesadaran tinggi warga juga untuk tidak membuang sampah sembarangan di sana. Nah, mental warga Klaten kayak gini patut kamu tiru nih, guys

Caption (Sumber Gambar)

Sumber : Reszi Ariefianda
Sumber Gambar Sampul : Google

Baca Juga
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RESZI ARIEFIANDA

Indonesian. A guy that loves travelling, taking pictures, folk music, and sometimes writing words of meanings ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara