Seingat saya, namanya Mbah Ali. Saya berjumpa dengan beliau tanpa sengaja di sebuah tempat di Surabaya bertahun lalu. Darinya, saya mendapatkan sebuah pelajaran singkat yang berharga, dan cerita sederhananya masih tersimpan dalam-dalam di benak saya.. bertahun lamanya. 

"Saya itu tak punya apa-apa. Saya hanya punya cerita, dan kebanggaan akan Indonesia yang turut serta saya perjuangkan di masa muda saya dulu" Mbah Ali mulai bercerita.

Tubuhnya yang kurus dan mulai ringkih itu tak sedikitpun menyembunyikan semangatnya bercerita tentang banyak hal,  bagaimana dia bertempur melawan Belanda dan sekutu di berbagai medan peperangan di Jawa Tengah dan Timur, atau cerita bagaimana dia harus bersembunyi di di terowongan selama berhari-hari menghindari kejaran Belanda.

 "Kulo niku mboten saget moco tulis (saya tak bisa baca tulis) " lanjutnya. Beliau mulai bercerita betapa sulitnya kondisi saat itu. Menurut beliau, banyak yang sepertinya, tak bisa baca tulis, pun rata-rata kurus-kurus karena terbatasnya makanan yang memadai bagi para petempur sepertinya. 

Beliau bercerita bahwa beberapa anak tetangganya meninggal karena penyakit, dan tak ada tenaga medis yang menanganinya. Ada juga yang meninggal karena memang tak cukup asupan makanan. "Mau kemana-mana jauh" lanjutnya. Jalan aspal yang terbatas, infrastruktur yang sangat minim, kemiskinan dimana-mana, iliterasi yang tinggi, juga hidup dalam penjajahan, membuat banyak orang yang pasrah dan tak tahu harus berbuat apa, katanya. Kondisi yang tak akan pernah bisa kita bayangkan. 

Lalu apa yang membuatnya rela bertempur tanpa dibayar, menyabung nyawa, merelakan semuanya? Inilah pertanyaan yang tak pernah berhenti menggelayuti pikiran saya. Di masa-masa revolusi kemerdekaan, kondisi Indonesia sedang sulit-sulitnya, semua serba tidak punya, semua serba tidak ada. Dan di saat yang sama, ada penjajah yang menggerogoti berbagai sendi bangsa ini, yang harus dilawan..dengan,..peralatan yang minim, dan skill tempur yang tak cukup. 

"Ingkang baku, walandi kedah medal sangking Indonesia" ungkap mbah Ali. Apapun yang terjadi, Belanda harus pergi dari Indonesia, begitu kira-kira. Dia mulai bergabung dengan para pejuang lain mengangkat senjata dan bertempur di garis depan, saat anak pertamanya lahir. 

"Begitu anak saya lahir, hati saya langsung pilu. Saya berpikir, anak saya nanti akan seperti saya, hidup dalam belenggu dijajah bangsa lain, hidup serba sulit, dan ...." tiba-tiba dia berhenti. "Pokoknya saya tidak mau hidupnya seperti hidup saya." tambahnya. "Saya tahu, sulit melawan Belanda yang kuat, saya juga tahu saya bisa saja tertembak dan mati tanpa sempat melihat Indonesia bebas dari Belanda" ungkapnya nanar. "Kulo namung disukani peluru sekawan (saya hanya diberi 4 peluru). Hanya semangat, dan keyakinan yang saya punya" pungkasnya. 

Di sinilah air mata saya tumpah. Mbah Ali tahu bahwa tantangan dan kesulitan sangat besar ada di depan mata, juga resiko tertinggi pun siap merenggutnya, di saat yang sama di tidak tahu apa yang akan menimpanya, pun apakah dia akan bisa menikmati hasil dari perjuangan pertempuran demi pertempuran yang dijalaninya. Namun dia punya keyakinan, bahwa hanya dengan pengorbanan-pengorbanan jutaan mbah Ali-mbah Ali , Indonesia bisa menjadi negeri yang merdeka, berdaulat, dan memakmurkan rakyatnya, memberi sandang pangan dan papan bagi Poniman, anaknya. 

"Pernah takut mati tertembak waktu itu, Mbah?" tanya saya.

"Kalau pun saya diberi dua nyawa, keduanya akan saya persembahkan untuk memerdekakan Indonesia" 

*Di sini kita berdiri, di negeri para pemberani 

Gambar utama : http://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.co.id/

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu