Orang Indonesia dan Caranya Berbahagia yang Sederhana

Orang Indonesia dan Caranya Berbahagia yang Sederhana
info gambar utama

Hari ini, 71 tahun lalu, negeri kebanggaan kita Indonesia Raya resmi memproklamasikan kemerdekaannya. Diburu-buru memang oleh para pemuda kita, tapi dua proklamator kita Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya memanfaatkan kesempatan dari kekosongan kekuasaan atas Indonesia dari para penjajah. Ya, waktu itu pasukan sekutu, termasuk Belanda yang masih menduduki Indonesia, sedang sibuk berdua dengan Jepang pada masa Perang Dunia II. Indonesia yang terlupakan sejenak oleh para penjajah pun segera memanfaatkan momentum ini untuk memerdekakan diri.

Adanya kesempatan emas ini setidaknya menunjukkan pada kita betapa tidak mudahnya merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari para penjajah. Berabad-abad lamanya para pejuang kita melawan para penjajah mulai dari Portugis sampai Jepang. Tak peduli berapa banyak peluh yang membasahi tubuh, berapa banyak darah yang tumpah dalam setiap perjuangan mereka, yang penting seluruh pribumi nusantara ini harus bisa hidup bahagia, tidak tertindas oleh para penjajah. Rupanya Tuhan sudah mencatat semua perjuangan itu dan memberikan bangsa ini kesempatan paling baik untuk bisa merdeka.

Kini, sudah tujuh dekade tambah setahun bangsa kita merdeka. Generasi-generasi penerus pejuang punya tugas yang lebih berat, yakni mempertahankan kemerdekaan. Tentunya kita ingin menjalani kemerdekaan ini dengan kebahagiaan. Maka, setiap peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat kita dari Sabang sampai Merauke serentak mengadakan beragam lomba yang sederhana, namun bisa membuat bahagia dan merasakan persatuan. Mungkin ini cara kita juga untuk mensyukuri kemerdekaan yang berhasil kita raih sampai sekarang.

Lomba-lomba untuk memperingati hari kemerdekaan yang biasa kita sebut dengan lomba tujuhbelasan ini sejatinya baru mulai marak pada tahun 1950 dan membudaya sampai sekarang. Kita mungkin merasakan kebahagiaan tersendiri ketika mengikuti lomba-lomba tersebut, namun menengok ke belakang jauh sebelum merdeka, sesungguhnya perlombaan yang kita lakukan itu punya sejarah kelam.

Lomba-lomba tersebut rupanya adalah comotan dari masa Belanda, seperti lomba panjat pinang dan tarik tambang. Dulu lomba panjat pinang yang pesertanya adalah pribumi menjadi tontonan hiburan dan bahan tertawaan bagi kolonial Belanda. Selain itu, lomba balap karung juga konon mengingatkan kita pada kesulitan hidup di masa pendudukan Jepang, yakni menggunakan karung goni sebagai pakaian.

Tapi Indonesia adalah negeri yang pandai berbahagia. Lomba-lomba dengan kenangan menyakitkan itu bukannya kita lupakan, malah selalu kita adakan setiap 17 Agustus. Justru lomba-lomba tersebutlah yang membuat kita memahami bahwa kita bisa bahagia dari hal-hal yang dulu membuat sengsara. Terbiasa hidup susah membuat kita belajar bagaimana bahagia dengan cara yang sederhana.

k-game.net
info gambar

Kerupuk pada zaman dahulu adalah makanan buat orang-orang miskin. Pada masa pendudukan Jepang, orang-orang Indonesia sengsara sekali hidupnya sampai susah makan. Demi bisa menghemat pasokan makanan, beberapa penduduk pun mengeringkan singkong dan menjadikannya kerupuk. Lomba makan kerupuk yang aturan mainnya tangan kita diikat dan harus memakan kerupuk yang menggantung pada tali konon menjadi bahan ingatan kita pada masa pendudukan Jepang tersebut.

Tapi inilah Indonesia. Kita tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Lomba makan kerupuk kini menjadi satu lomba yang paling ditunggu oleh anak-anak dan ibu-ibu kompleks rumah. Kita begitu antusias memberikan support buat para peserta lomba untuk segera menghabiskan kerupuknya. Tak sedikit dari mereka yang pipinya cemong oleh remah-remah kerupuk atau kecap. Wajah cantik nan rupawan itu kini pudar dengan remah kerupuk, tapi motivasi untuk segera menghabiskan kerupuk dan menang tidak menyurutkan kepercayaan dirinya. Kadang kita tertawa, tapi tertawa bahagia, bukan untuk menertawakan masa lalu.

Para pendahulu kita memperjuangkan kemerdekaan ini agar kelak anak cucunya bisa hidup dengan penuh tawa dan bahagia. Maka mereka tentu tak ingin melihat wajah-wajah sedih dalam paras kita. Mereka ingin kita mensyukuri kemerdekaan ini dengan senyum manis dan kebaikan. Maka mereka tentu tak ingin melihat setitikpun air mata kesulitan di pipi kita.

Siapapun yang memulai lomba-lomba tujuhbelasan itu harus kita ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Karenanya kita bisa bahagia dengan cara yang amat sederhana, kita bisa bersatu tanpa harus berseteru hebat terlebih dulu, kita bisa tertawa dari alasan yang receh sekalipun. Bangsa kita sudah belajar banyak dari kesengsaraan untuk bahagia. Mungkin lomba-lomba tujuhbelasan itu juga yang menempatkan kita pada negara paling bahagia sedunia.

Yang jelas, kita harus mempertahankan kemerdekaan ini dengan bahagia karena pun pendahulu kita memerdekakan bangsa ini dengan penuh kebahagiaan dengan cara yang amat sederhana. Percayalah bahagia akan terus membawa kita pada masa depan yang baik dan tentunya harus percaya bahwa kemerdekaan ini adalah milik kita dan akan selalu menjadi punya kita.

Dengan penuh bahagia,
Dirgahayu Indonesiaku!

Arifina Budi A.

Sumber Gambar :yookberbagi.blogspot.co.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini