Lupa Sandi?

Cerita 17 Agustus di Baku

astrid septriana
astrid septriana
0 Komentar
Cerita 17 Agustus di Baku

Jauh dari tanah air, bukan berarti semangat mengibarkan merah putih jadi pupus. Justru makna kemerdekaan bisa semakin bergema ketika tengah merantau.

Antusiasme untuk ‘guyub’ bersama para WNI di ibukota Azerbaijan, Baku justru semakin kental. Jauh sebelum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, berbagai kegiatan dilakukan oleh Perwakilan Indonesia di Baku. Uniknya perayaan ini tak hanya diramaikan oleh WNI yang berada di Baku tapi juga warga negara asing yang sudah menjadi sahabat dan menjalin relasi dengan para WNI di sini.

Ini merupakan salah satu upaya KBRI Baku untuk menjadikan momen Agustusan sebagai ajang pemersatu WNI di Baku, sekaligus untuk mempererat hubungan dengan warga lainnya yang tinggal di Baku. Dimulai dengan perlombaan bowling, yang diadakan pada 24 Juli 2016 lalu. Peserta perlombaan bowling ini datang dari berbagai warga negara. Sebagai pemenang pertama kategori pria adalah mahasiswa asal Turkmenistan, sedangkan untuk juara kedua putri dimenangkan oleh mahasiswa Azerbaijan dari Pusat Studi Indonesia, Azerbaijan University of Languages. Pada perlombaan ini, Duta Besar Kerajaan Malaysia untuk Azerbaijan juga hadir sebagai peserta.

Selang seminggu, KBRI Baku mengadakan pertandingan tenis meja juga permainan scrabble, kartu remi, dan domino. Pertandingan ini diadakan selama dua hari berturut-turut di Wisma Duta. Sambil bermain, para peserta tampak akrab dengan saling berbincang-bincang. Tentu hal ini menambah keakraban di antara warga Indonesia sendiri maupun dengan warga masyarakat lainnya yang berpartisipasi.

Baca Juga

Sebagai penutup rangkaian pertandingan dalam rangka semarak HUT RI ke-71 ini, KBRI Baku mengadakan kegitatan permainan rakyat dan turnamen futsal untuk memperebutkan The Ambassador Cup di komplek stadion Futsal Azfar Group.

“Antusiasme warga dan Friends of Indonesia di Baku sangat baik. Partisipasi berbagai masyarakat, tidak hanya dari Azerbaijan tapi juga dari negara-negara lain seperti Malaysia, Turki, Arab Saudi, Chad, Peru dan Yaman menunjukkan persahabatan yang erat antara Indonesia dengan berbagai bangsa di Azerbaijan,” kata Dubes RI untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie. “Hal ini juga nenunjukkan peran aktif Perwakilan Indonesia di Baku dalam people-to-people diplomacy.” 

Pada hari Kemerdekaan RI ke-71, sejak pukul 10 pagi acara dimulai dengan upacara pengibaran bendera Merah Putih. Upacara berlangsung khidmat sekaligus mengharukan, mengingatkan bahwa kami tak sedang berdiri di tanah air yang kami cintai. Pidato Dubes RI pagi itu, menyatakan bahwa kemerdekaan kita sekarang adalah untuk menjawab tantangan zaman dalam konteks global, tiap individu Indonesia harus mampu mandiri dan berkontribusi bagi bangsa.

Acara peringatan HUT RI ini dilanjutkan dengan acara potong tumpeng dan pagelaran panggung rakyat, yang diisi dengan berbagai kesenian khas Indonesia seperti pertunjukan musik dengan angklung dan gamelan, sajian tari-tari khas Indonesia dan semuanya dilakukan oleh para mahasiswa Program Studi Indonesia di Azerbaijan.

Dalam kesempatan ini hadir 9 Duta Besar dari negara sahabat yang ada di Baku seperti Dubes India, Dubes Malaysia, Dubes Palestina, Dubes Afghanistan, Dubes Korsel, Dubes Jepang, Dubes Turki, Dubes Maroko, Dubes Saudi Arabia. Mereka semua mencicipi hidangan makan siang khas Indonesia, lengkap dengan hidangan penutup dan camilan khas. “Camilan yang paling saya sukai adalah ini (kelepon),” ujar Dubes India untuk Azerbaijan, Sanjay Rana di Wisma Duta, Baku.

Selesai makan siang mereka pun menyempatkan untuk menonton berbagai pertunjukan seni dan kebudayaan Indonesia di panggung rakyat yang disediakan.



Sumber : Astrid Septriana
Sumber Gambar Sampul : KBRI Baku 

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ASTRID SEPTRIANA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas