Lupa Sandi?

Eksotisme Ethnic Jazz Tanah Air di Amphitheatre Tertinggi Dunia

Renatha Agung Yoga Prasetya
Renatha Agung Yoga Prasetya
0 Komentar
Eksotisme Ethnic Jazz Tanah Air di Amphitheatre Tertinggi Dunia

Seberapa luaskah Kita memahami dunia musik Indonesia? Dunia musik Indonesia adalah dunia yang sangat luas. Dunia musik yang banyak Kita lihat di layar pertelevisian dan radio hanyalah ujung dari fenomena gunung es yang tampak di atas air. Di luar itu, masih banyak seniman yang mendedikasikan hidupnya untuk terus berkarya tanpa ekspos yang besar dari media. Musik karya seniman-seniman ini juga sangat berkualitas dan bahkan banyak diantaranya yang lebih dikenal oleh penikmat musik internasional.

Festival musik dengan seniman-seniman berkualitas seperti inilah yang menjadi konsep dari penyelenggaraan Jazz Gunung Bromo sejak pertama kali penyelenggaraannya. Dan value ini masih dipertahankan hingga penyelenggaraannya yang ke delapan pada 19-20 Agustus 2016 ini. Bertempat di Jiwa Jawa Resort Bromo, Jazz Gunung Bromo 2016 kembali mengundang sejumlah musisi berkualitas seperti Samba Sunda, Ring of Fire, Bonita, Ricad Hutapea, Dwiki Dharmawan Jazz Connection, Peni Candra Rini, Shadow Puppets, Shaggy Dog, dan The Groove yang akan tampil di amphitheatre terbuka tertinggi dunia (2000 mpl).

Diselenggarakan di bulan Agustus, Jazz Gunung Bromo tahun ini mengusung tema “Pesta Merdeka di Puncak Jazz Raya” dan diselenggarakan dengan semangat melestarikan budaya Indonesia melalui sajian musik etnis khas Indonesia yang berpadu dengan musik jazz. Pemilihan lokasi di Gunung Bromo juga salah satu usaha untuk mempromosikan potensi wisata alam Indonesia sekaligus menggairahkan usaha-usaha kecil masyarakat lokal.

Selain pertunjukan-pertunjukan musik di atas, akan diberikan juga penghargaan pada salah satu tokoh jazz ternama Indonesia, Iren Maulana selaku penggagas festival jazz pertama di Indonesia yang dikenal dengan Jack Jazz. Salah satu penggagas Jazz Gunung Bromo, Butet Kertaradjasa menuturkan bahwa penghargaan ini dimaksudkan agar masyarakat lebih menghargai sejarah.

“Kita harus ingat bahwa Iren Maulana dengan penyelenggaraan Jack Jazz mampu menginspirasi penyelenggaraan festival-festival jazz serupa dan memacu musisi tanah air untuk terus berkarya. Ini penting, karena budaya adalah fondasi utama bagi bangsa ini untuk maju.” jelasnya.

Senada dengan Butet, Djaduk Ferianto yang juga salah satu penggagas event ini juga menyebutkan bahwa Jazz Gunung Bromo penting untuk menunjukkan kualitas seni Indonesia. Seniman senior ini menyayangkan masih banyak masyarakat yang lebih mementingkan popularitas dibandingkan dengan kualitas dalam soal memilih musik. Musisi seperti Peni Candra Rini dan Samba Sunda dengan musik etnisnya masih belum banyak diterima masyarakat luas, padahal karya mereka banyak dinikmati oleh penikmat musik di luar negeri.

“Kita ini punya banyak musik dan musisi berkualitas. Janganlah kita meniru musik barat untuk jadi tenar. Kalau bisa kita tunjukkan identitas seni dari Indonesia sendiri.” tutur Djaduk.

Sigit Pramono yang juga menggagas event Jazz Gunung Bromo juga menambahkan bahwa setiap tahun, Jazz Gunung Bromo akan selalu meningkatkan kualitasnya untuk memberikan suguhan musik terbaik kepada Jama’ah Al Jazziyah (sebutan untuk penggemar Jazz Gunung Bromo) dengan latar belakang keindahan alam yang menawan.

Para penggagas Jazz Gunung Bromo berharap dengan semakin meningkatnya kualitas musiknya, event ini suatu saat dapat menjadi kiblat bagi musisi lain di dunia sebagai acuan kualitas. Djaduk menyebutkan bahwa sudah banyak musisi baik dalam dan luar negeri yang memberikan testimoni tentang betapa luar biasanya pengalaman tampil di Jazz Gunung Bromo. Menyebarnya cerita membuat banyak musisi yang ingin tampil di event ini.

Vokalis The Groove, Rieke Roeslan merupakan salah satu musisi yang punya mimpi sejak lama untuk tampil di Jazz Gunung Bromo sebelum terkabulkan pada penyelenggaraan tahun ini.

“Rasanya seneng banget, ini gak sama dengan pertunjukan kami di konser-konser komersial. Tampil di sini itu rasanya seperti ada pengakuan ke kualitas dari musikalitas kami. Dan di sini kami bisa tampil jujur, inilah musik kami apa adanya.” jelasnya.




Sumber : Liputan GNFI
Sumber Gambar Sampul : Dokumentasi GNFI

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RENATHA AGUNG YOGA PRASETYA

Faith, Courage, Honesty, and Passion

... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata