Lupa Sandi?

Mengenal dr Roebiono, Perancang Pertama Sistem Persandian Indonesia

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Mengenal dr Roebiono, Perancang Pertama Sistem Persandian Indonesia

Meski sudah menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, situasi Indonesia masihlah kelam karena jejak-jejak Belanda masih membekas jelas di setiap daerah di Indonesia. Terlebih lagi, Belanda masih terus berusaha mengambil alih Indonesia pada tahun 1946 hingga 1949.

Di masa genting inilah, pemerintah Indonesia merasa perlu menjaga informasi rahasia dari musuh. Saat itu, Indonesia yang baru merdeka belum memiliki sistem pengamanan informasi yang baik dan sistem sandi yang mampu mengamankan informasi yang bersifat rahasia.

Kondisi mendesak ini kemudian membuat Menteri Pertahanan Amir Syarifoeddin meminta dr. Roebiono Kertopati untuk membuat sistem sandi atau kode yang akan digunakan oleh seluruh kementerian. Roebiono memang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang persandian. Namun, kecakapannya di dunia intelijen diperoleh berdasar pada pengalaman pribadinya saat bertugas sebagai dokter.

Roebiono yang lahir pada 11 Maret 1914 memulai karirnya sebagai dokter pada tahun 1941 dengan bekerja di GOW Indisch Arts. Kemudian ia pindah ke Sydney, Australia dan bertugas sebaga tenaga medis pada Allied Intelligence Bureau.

Dari sanalah perlahan Roebiono bersentuhan dengan dunia intelijen. Ia berjumpa dengan banyak orang yang sedang melaksanakan operasi yang bersifat rahasia. Hal tersebut membuat pengetahuannya mengenai dunia intelijen makin kaya.

Roebiono dikenal sebagai orang yang amat jenius. Ia menguasai empat bahasa serta mampu menulis dengan dua tangan dalam waktu bersamaan. Meski awalnya ia tidak memiliki banyak pengetahuan soal persandian, namun ia menerima penugasan dari Menteri Syarifoeddin untuk membuat sistem persandian Indonesia.

Hingga akhirnya dengan penuh ketelitian disusun sebuah buku sandi bernama Buku Code C yang berisi sekitar 10.000 kata termasuk tanda baca, awalan, dan akhiran, penamaan, serta bentuk lain yang dijumpai dalam teks berita. Sistem kode yang dipakai adalah sistem kode angka. Sistem kode ini berupa bilangan-bilangan yang dipakai sebagai penjumlah dari kode yang telah ada. Angka dari nol sampai sembilan dan pemakaiannya sebagai penjumlah dapat ditentukan sesuka pemakai.

Buku Kode C yang ditulis oleh dr. Roebiono
Buku Kode C yang ditulis oleh dr. Roebiono

Buku Konsep Naskah Sejarah Persandian di Indonesia terbitan Jakarta 1986 menyebut bahwa sistem sandi bikinan Dr Roebiono dapat dikategorikan sebagai sistem yang kuat dan dikenal sebagai sistem double encipherment

Dibutuhkan sebuah buku acuan untuk membaca sandi-sandi tersebut. Roebiono menulis Buku Kode C, berisi 10.000 kata termasuk tanda baca, awalan dan akhiran, penamaan serta bentuk lain yang dijumpai dalam teks berita.

Buku yang kemudian digandakan sebanyak 6 eksemplar tersebut yang menjadi acuan dalam pembuatan dan pembacaan sandi. Sandi akan sulit terpecahkan, kecuali Buku Code C jatuh ke tangan musuh.

Tak hanya merancang sistem persandian, Roebiono juga merupakan pendiri Dinas Kode pada Kementerian Pertahanan Bagian B yang sekarang dikenal dengan Lembaga Sandi Negara. Ia menjabat sebagai Ketua Lembaga Sandi Negara selama 38 tahun sejak pertama kali berdiri ada 1946. Roebiono sebagai perancang sistem sandi Negara pertama kali ini dianggap paling mampu mengelola persandian di Indonesia dan menjadi penentu kebijasanaan persandian Indonesia.

Roebiono berpulang pada 23 Juli 1984 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Semasa hidupnya, ia telah mendapat 11 bintang jasa dari Pemerintah Indonesia serta pernah menjadi dokter pribadi Presiden Soekarno.




Sumber : kompas.com
Sumber Gambar : kompas.com

Pilih BanggaBangga78%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata