Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Festival Rapa'i Internasional, Kenalkan Budaya Aceh ke Dunia lewat Musik

Isniyah Zulfah
Isniyah Zulfah
0 Komentar
Festival Rapa'i Internasional, Kenalkan Budaya Aceh ke Dunia lewat Musik
Festival Rapa'i Internasional, Kenalkan Budaya Aceh ke Dunia lewat Musik

Aceh International Rapa’i Festival  merupakan acara musik perkusi bertaraf internasional yang diselenggarakan Pemerintahan Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Sejumlah seniman dalam dan luar negeri tampil dalam pentas lima hari tersebut untuk menghibur pengunjung yang datang ke Taman Sultanah Safiatuddin, Taman Budaya, dan Museum Tsunami.

Festival Rapa’i digelar sebagai acara budaya untuk meningkatkan nilai jual seni rapa’i sendiri. Rapa’i adalah alat musik perkusi tradisional Aceh, berasal dari Timur Tengah, yang dibawa oleh seorang penyair Islam ke Aceh bernama Syech Rapa‘i. Dia menggunakannya dulu sebagai salah satu media penyebaran agama Islam.

Perhelatan ini sebagai salah satu langkah dan komitmen Pemerintahan Aceh dalam melestarikan kesenian tradisi yang berkesinambungan sebagai jati diri kebudayaan Aceh. Umumnya kesenian tradisi Aceh bersifat perkusi dan dengan alasan tersebut maka seni musik perkusi menjadi item pilihan di kegiatan Aceh International Rapa’i Festival 2016 sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan beragam khasanah seni perkusi Aceh ke mata dunia internasional.

Aceh International Rapa’i Festival 2016 menjadi gelaran perkusi internasional pertama di Aceh maupun di Indonesia. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh berencana akan menjadikan acara ini menjadi agenda tahunan di Aceh. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi menyampaikan bahwa hal ini sesuai dengan tujuan dari acara tersebut, yakni mempromosikan dan memperkenalkan Aceh sebagai destinasi wisata halal.

Baca Juga

Acara yang dibuka pada tanggal 26 Agustus 2016 itu ditutup pada 30 Agustus 2016 semalam. Selama lima hari, panggung Aceh International Ripa’i Festival diramaikan oleh sederet pemusik. Dari ranah nasional, hadir peserta dari beberapa provinsi yang juga memiliki jenis musik serupa, seperti penampilan Gordang Sembilan dari provinsi Sumatera Utara. Provinsi lainnya yang juga tampil adalah Sumatera Barat, Makassar dan Surabaya.

Perhelatan berskala internasional ini juga menampilkan beberapa kontingen dari lima negara, seperti Ogawa Daisuke (Jepang), Absolutely Thai (Thailand), Miladomus (Tiongkok), Pejman (Mohammad Reza), Jahanara (Iran) dan Fieldflyer (Malaysia) yang akan menunjukkan talentanya sebagai wakil perkusi dunia. 

Artis nasional dan internasional juga akan memeriahkan festival bergengsi ini, seperti Daood Debu, Rafli Kande, Tompi, Gilang Ramadhan, Moritza Taher, dan Steve Thornton.

Aceh Internasional Rapa’i festival juga dimeriahkan dengan kegiatan pendukung menarik lainnya seperti Seminar dan Music Clinic yang dipandu oleh talent artis nasional dan luar negeri serta talent lokal, seperti Syamsuddin Djalil, Tgk Usmani Kandang dan Irwansyah Harahap.

Aceh international Rapa’i festival menjadi salah satu rangkaian acara pendukung dalam branding “The Light of Aceh” atau Cahaya Aceh guna mendukung provinsi paling ujung Sumatera itu, dalam ajang Pemilihan World's Best Halal Cultural Destination 2016. Dipilihnya kategori tersebut mengingat kebudayaan Aceh yang mengakar dari nilai-nilai agama.

Melanjutkan rencana kegiatan ini sebagai agenda tahunan Aceh, Reza Fahlevi menuturkan bahwa akan diadakan evaluasi untuk perbaikan penyelenggaraan di tahun berikutnya. Pemerintah Aceh juga menargetkan lebih banyak undangan peserta dan jumlah negara yang akan andil bagian untuk memeriahkan Aceh International Rapa'i Festival tahun berikutnya.



Sumber : tempo.co tribunnews.com 

 
Sumber Gambar : intipaceh.com 

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ISNIYAH ZULFAH

A learner. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata