Lupa Sandi?

Startup Ini Merevolusi Berdonasi Lewat Kotak Amal Menjadi Donasi yang Kekinian

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Startup Ini Merevolusi Berdonasi Lewat Kotak Amal Menjadi Donasi yang Kekinian

Kepedulian sosial saat ini menjadi sangat dibutuhkan ketika kesenjangan sosial semakin melebar. Melalui kotak-kotak amal yang umumnya di salurkan dari tangan ke tangan ataupun di titik-titik strategis kita biasanya menyisihkan sebagian rezeki untuk peduli. Namun ternyata cara tersebut dipandang tidak efisien oleh seorang anak muda visioner bernama Alfatih Timur Founder dari fundraising digital, Kitabisa.com.

Cara tradisional dalam berdonasi mungkin terbilang bisa cukup lama untuk mencapai target nilai yang ditentukan dalam tenggat waktu tertentu. Tidak hanya itu, informasi kampanye penggalangannya pun tidak bisa menjangkau banyak orang dalam waktu yang singkat. Terlebih, dengan cara kotak-kotak amal tersebut akuntabilitasnya tentu dipertanyakan, apakah dananya benar-benar bisa tersampaikan.

Alfatih yang mengamati hal tersebut menawarkan solusi alternatif dari cara berdonasi. Yakni dengan menggunakan platform digital dengan konsep crowdfunding atau patungan dan memulainya sendirian. Kini Kitabisa telah memiliki 14 tim.

Terkait dengan solusi yang diberikan Alfatih tersebut GNFI berkesempatan untuk berbincang singkat di sela-sela acara  Ignition Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Batch 2 yang diselerenggarakan di Balai Sidang UI hari Minggu 28 Agustus yang lalu.

Baca Juga
Alfatih Timur, Founder Kitabisa.com (Foto: Bagus DR/GNFI)
Alfatih Timur, Founder Kitabisa.com (Foto: Bagus DR/GNFI)

Berikut hasil wawancara GNFI dengan, Alfatih (hasil wawancara telah melalui proses sunting).

Apa sebenarnya Kitabisa.com? Sejak kapan berdiri?
Kitabisa sebenarnya adalah alat untuk fundraising. Kami menjadi perseroan terbatas (PT) sudah satu tahun sedangkan websitenya go online sudah tiga tahun.
 
Kenapa harus menggunakan website untuk galang dana? 
Dulu di kampus saya sering galang dana tapi menggunakan kotak atau kardus di lampu merah dan sering mengganggu pengguna jalan terlebih itu tidak transparan. Berangkat dari penggalanagan dana yang tidak transparan, banyak orang bertanya "ini beneran atau enggak? transparan atau enggak? duitnya untuk apa?" Cara-cara lama juga tidak efektif sebenarnya, paling dapetnya hanya 1.000, 2.000, 5.000 rupiah. Karena itu saya terpikir untuk mengapa tidak membuat penggalangan dana lewat website. 
 
Sebenarnya dalam berdonasi kebanyakan pengguna tidak serta merta ingin berdonasi, namun karena adanya ajakan dari teman biasanya mereka tergerak untuk turut berdonasi. Akhirnya yang terjadi adalah peer group fundraising dan menggunakan Kitabisa agar bisa mendapat galang dana lebih efektif, transparan dan viral. 
 
Kitabisa yang berperan sebagai penyambung galang dana, apa peran lebih dari Kitabisa yang diberikan ke penggalang dana?
Ya, kita sebagai intermediaries memberikan fasilitas pada penggalang dana secara online, kami punya website. Trus kami juga bantu promosi tapi mostly kita tidak bantu. Sebab mereka promosi sendiri. Selain itu kami juga mempermudah proses donasi karena tidak perlu lagi mencantumkan nomor rekening pribadi. Dan seluruh pencatatan donasi dilakukan oleh Kitabisa, untuk kemudahan tersebut kami ambil charge sebesar 5%. Juga untuk memperjelas penggalangan dana kami lakukan assesment dengan meminta KTP penggalang dana. 
 
Nah, katakan saja terjadi penyalahgunaan dana apa yang akan dilakukan Kitabisa?
Uang hasil penggalangan kan datang ke kami, dan kami memiliki tombol report jika ada yang mencurigakan. Pengguna bisa submit dan kami akan review dan bisa melakukan suspend kemudian mengembalikan uangnya ke donatur.
 
Jadi sistemnya seperti crowfunding online pada umumnya ya?
Iya sama seperti crowdfunding pada umumnya.
 
Apa yang dilakukan Kitabisa.com terbilang sebagai crowdfunding, apakah kitabisa terinspirasi dari Kickstarter yang sudah terkenal di Amerika Serikat?
Sebenarnya sempat benchmark ke Kickstarter dan Indiegogo. Namun karena Kitabisa berangkat dari isu sosial dan di dunia internasional sudah ada Gofundme yang memiliki bisnis model yang sama. Kami juga banyak meniru mereka (Gofundme -red.) karena mereka berbasis sosial dan crowdfunding untuk personal causes
 
Sejauh ini apa yang paling banyak didanai secara patungan lewat Kitabisa.com?
Di Kitabisa banyak orang sakit yang dibantu lewat penggalangan dana. 
 
Melihat pasar crowdfunding di Indonesia, pengalaman apa yang sudah didapatkan Kitabisa selama tiga tahun ini?
Pertanyaan yang menarik, mungkin yang sudah kami pelajari secara umum adalah tentang validasi segmen. Kami sempat bertukar-tukar segmen empat lima kali sampai akhirnya menemukan segmen orang sakit. Sebelumnya segmen yang kami sasar bermacam-macam, seperti social entrepreneur, aktivis, dan semacamnya. 
 
Kalau pelajaran secara spesifik tentang crowdfunding mungkin kami harus bisa spesifik menentukan kategori yang populer seperti medical, beasiswa dan semacamnya. Karena kadang segmen yang fancy seperti industri kreatif, jumlah pasarnya tidak banyak. 
 
Dan bila umumnya crowdfunding menggunakan reward sebagai gimmick, kami saat ini sudah tidak fokus kesana. Kini kami fokus ke murni fungsi donasi. 
 
Sebenarnya apakah bisa isu sosial diselesaikan dengan teknologi digital?
Bisa, contohnya Kitabisa. Di Kitabisa sudah ada 2.000 campaign terdanai dengan total nilai yang terkumpul sebesar 30 Milyar rupiah. Dan campaign sebanyak itu sudah membuat dampak sosial. Kitabisa bisa karena kita sifatnya bisnis, kita memasilitasi, kita promosikan jadi tidak harus selalu maslaha sosial diselesaikan dengan cara non-profit.
 
Terkait dengan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, dukungan seperti apa yang dilakukan oleh Kitabisa?
Ya kami dukung sekali, makanya saya datang menjadi pembicara, datang hujan-hujanan.
 
Mengapa gerakan ini penting?
Menurut saya, kita perlu banyak role model yang harus diekspos dan orang bisa belajar. Walaupun sebenarnya menjadi founder itu tidak boleh manja dengan fasilitas adanya trainer, ada speaker. Saya dulu totally 100% belajar membangun Kitabisa secara online lewat Youtube, Podcast tiga tahun setelah lulus dari UI.
 
Terakhir, ada pesan untuk anak-anak bangsa Indonesia yang akan berkecimpung dalam industri digital?
Start small, lalu temukan 1000 orang pengguna yang mencintai produk kamu. Bukan hanya likes tapi harus cinta, yang itu ditunjukkan dengan transaksi, usage, balik atau enggak. Dan perlu fokus dan determinasi, sebab ini adalah tahapan awal jadi akan banyak tantangan.

Melihat apa yang dilakukan oleh Alfatih tentu merupakan sesuatu yang istimewa sebab berawal dari ide sederhana untuk mengubah kebiasaan berdonasi lewat kotak-kotak amal menjadi lewat platform digital. Kini banyak sekali masalah sosial yang bisa di danai dan diselesaikan dengan cara yang lebih akuntabel dan terpercaya. 

Lalu, apa masalah yang bisa Kawan temukan? Mungkin Kawan GNFI bisa menyelesaikannya secara digital seperti apa yang dilakukan oleh Alfatih. Untuk memulainya mungkin Kawan bisa bergabung dengan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital untuk mampu membangun startup yang solutif.

Sumber : GNFI
Sumber Gambar Sampul : youtube.com/kitabisa.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara