Lupa Sandi?

Pertama dan Satu-satunya di Dunia. Ojek untuk Difabel dari Jogja

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Pertama dan Satu-satunya di Dunia. Ojek untuk Difabel dari Jogja

Sebuah layanan ojek dirintis di Yogyakarta untuk menyediakan sarana transportasi yang nyaman untuk para difabel. Unik, karena para pengendaranya pun orang-orang yang punya kebutuhan khusus.

"Susah cari angkot, susah banget," kata Muryati seorang penjahit yang sudah berkursi roda sejak kecil.

Siang itu, BBC Indonesia sengaja mengikuti Muryati ke jalan besar di kota Yogyakarta untuk mengetahui apakah ada bus yang berhenti untuk mengangkutnya. Ada tiga bus, Muryati melambai, tapi semua lewat begitu saja.

"Mereka alasannya tidak ada krunya, jadi penumpang biasanya naik saja. Tapi kalau difabel seperti kita jelas kesulitan. Bosan, sedih, kecewa jadi satu."

Baca Juga

Transportasi umum yang tidak ramah menjadi tantangan besar bagi para difabel untuk beraktivitas. Sebagian memilih ojek yang lebih praktis, tetapi jasa ini tergolong mahal bagi mereka yang pendapatannya pas-pasan.

Oek Difabel Pertama di Dunia Ada di Yogyakarta. (Foto: BBC.com)
Oek Difabel Pertama di Dunia Ada di Yogyakarta. (Foto: BBC.com)

"Pernah saya habis satu juta untuk satu bulan. Tekor: penghasilan saya cuma Rp500 ribu," kata Pardiono, tuna netra yang bekerja sebagai tukang pijat.


Berangkat dari kebutuhan ini, Triyono seorang pengusaha berusia 35 tahun, merintis layanan ojek untuk para difabel. Triyono sendiri diserangpolio ketika kecil dan kemudian harus menggunakan dua tongkat untuk berjalan. Dia mengerti betul bagaimana susahnya 'bertarung di jalan raya'.

"Hanya segelintir (bus) yang mau (berhenti). Belum lagi ketika kita turun, belum sempat kaki menginjak, (bus) sudah jalan. Berapa puluh yang jatuh? Saya juga pernah juga jatuh. Dari mana segi nyamannya untuk kita?" katanya.

'Satu-satunya di dunia'

Difa City Tour dan Transport dirintis Triyono sejak Desember tahun lalu dan kini telah mengoperasikan 15 motor - yang dimodifikasi dengan tambahan bangku di samping. Layanannya tidak hanya terbatas untuk mengantar jemput para difabel, tetapi juga bisa mengantar orang-orang biasa dan turis untuk berkeliling Yogyakarta.

Muryati mengaku tertolong karena dia tak perlu turun dari kursi roda untuk melakukan perjalanan. Ada motor yang bisa langsung mengangkut kursi roda miliknya. "Awalnya takut, karena biasanya saya naik ojek bisa pegangan pengendara. Kalau ini, saya di samping dan kadang melaju kencang, tapi lama-lama terbiasa juga."

Layanan ini bertambah istimewa karena para pengendara juga orang-orang yang berkebutuhan khusus. Sugiyono misalnya, punya keterbatasan sehingga telapak tangan kanannya tidak bisa menggenggam. Ada juga Suwardono yang agak pincang ketika berjalan tetapi bisa lancar mengendarai motor dengan surat izin mengemudi khusus.

"Kita unik, semua melibatkan difabel. Kita satu-satunya (ojek) di dunia yang betul-betul mengakomodasi para difabel," kata Triyono.

Alasan inilah yang akhirnya membuat aktivis tuna netra seperti Pardiono memilih Difa dibanding ojek biasa. Ada rasa senasib sepenanggungan antara pengendara dan penumpang.

"Bagaimana (sulitnya) mencari uang bagi orang disabilitas. Jadi saja juga ingin memberdayakan mereka juga. Apa gunanya saya menjadi aktivis penyandang disabilitas kalau saya tidak menggunakan jasa mereka? Kan non sense, ngapusimba," katanya.

Pardiono bekerja sebagai tukang pijat di Yogyakarta.

Para pengendara yang juga difabel membuat tiap motor jadi juga spesial juga, karena disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ada motor misalnya, yang gasnya harus dipindah ke kiri karena tangan kanan pengendara tak bisa difungsikan.

Dengan merekrut orang-orang dengan disabilitas untuk mengelolanya, Difa memberikan lapangan pekerjaan alternatif yang sebelumnya hanya bisa bekerja di sektor-sektor terbatas - seperti menjahit atau bertani.

Karena orang-orang yang punya kebutuhan khusus atau difabel juga membutuhkan alat transportasi yang nyaman dan aman. (Foto: YouTube.com)
Karena orang-orang yang punya kebutuhan khusus atau difabel juga membutuhkan alat transportasi yang nyaman dan aman. (Foto: YouTube.com)

Suwardono mengaku bersyukur bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dan pendapatan yang cukup. "Dulu saya pernah daftar perusahaan jahit, ditolak-tolak terus sempat bingung cari kerja apa padahal sudah punya anak istri."

Image copyright.
Image captionTotal, ada sekitar 11,5 juta difabel di Indonesia.

Kasihan tidak apa-apa

Sebanyak 90% uang yang diperoleh diberikan pada pengendara ojek dan hanya 10% disisihkan untuk operasional. Bagi Tri, ini bukan masalah besar karena bukanlah untung yang dicari, melainkan kesadaraan dan pemahaman agar orang-orang umum bisa lebih mengerti kebutuhan difabel.

Sejak peluncuran ojek ini, tak sedikit turis dan orang-orang biasa yang menggunakan jasa mereka.

"Jadi Difa ini juga untuk kampanye, kita tidak boleh saling mengucilkan, kita bisa saling melayani. Kamu bilang kamu 'normal' hari ini, besok kamu bisa jadi difabel juga, dengan adanya kampanye ini, rasa kasih sayang akan terbentuk." katanya.

Triyono mengakui bahwa banyak dari mereka awalnya memakai jasa ojek difabel karena didasari pada rasa kasihan. Tapi menurutnya itu tidak masalah.

"Anda mau pesan (pertama kali) dengan rasa kasihan pun ndak masalah. Tetapi saya jamin besoknya pasti Anda beda ngomongnya. Kok nyaman ya? Yang terpenting dari kasihan kamu ini berubah jadi kebanggaan, jadi prestise tersendiri bahwa ternyata (naik ojek ini) betul-betul enak (dan tak sekadar) apa yang kamu anggap remeh dengan kasihan itu."

"Dan yang terpenting, besok naik lagi jangan kasihan lagi, kan gitu."

Oleh :

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata