Siapa Sangka Penemu Vaksin Kanker Serviks Adalah Orang Indonesia

Siapa Sangka Penemu Vaksin Kanker Serviks Adalah Orang Indonesia
info gambar utama

Sebagianbesar masyarakat Indonesia mungkin sudah tahu bahaya kanker serviks dan seberapa besar penyebaran penyakit yang diakibatkan Human papilloma virus (HPV) tersebut. Namun tahukah Anda kalau ilmuwan penemu vaksin pencegahannya juga berasal dari Indonesia?

DialahRichard Rianto Rustandi. Pria 53 tahun asal Bogor yang kini bekerja sebagai salah seorang ilmuwan di perusahaan penyedia layanan kesehatan global terkemuka asal Amerika, Merck Sharp and Dohme (MSD). Profesor dari Universitas Chicago ini mengaku bekerja siang malam selama delapan tahun sejak 2001 lalu, hanya untuk meneliti seberapa bahayanya virus HPV.

Kerja keras itupun akhirnya berbuah manis dengan lahirnya vaksin HPV quadrivalent. "Vaksin ini merupakan penelitian pertama saya sejak bekerja di MSD. Itu penelitiannya sampai delapan tahun," ujarnya.

Menurut Richard, virus HPV yang memiliki 130 tipe, sangat berbahaya.Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2010 lalu memerkirakan, 11,4 persen wanita dengan pap smear normal, terinfeksi HPV. Selain itu virus juga dapat dideteksi pada 99,7 persen wanita yang terdiagnosis menderita kanker serviks.

(Richard Rianto Rustandi/jpnn)
info gambar

Virus ini sangat menular melalui segala aktivitas yang memungkinkannya ada kontak kelamin terhadap orang yang terinfeksi. Karena itu tidak heran jika kemudian di Indonesia, setiap hari kurang lebih 38 kasus kanker serviks ditemukan dan hampir 70 persen kasus ditemukan dalam kondisi stadium lanjut.

"Sebagian besar wanita baru mengetahui mereka terinfeksi setelah dilakukan test DNA HPV terhadap hasil tes pap smear yang abnormal. Setiap satu jam seorang wanita meninggal akibat kanker serviks," paparnya.

Namun bahaya virus tersebut kini telah dapat diantisipasi. Vaksin HPV quadrivalent menurut Richard dapat merangsang pembentukan respon imun dalam tubuh untuk melawan HPV dan memberikan perlindungan lebih lengkap terhadap kanker serviks dan penyakit yang diakibatkan virus HPV lainnya. Baik itu kutil kelamin, pra kanker vulva, pra kanker Miss V dan pra kanker anus.

Lebih lanjut Richard mengungkapkan optimismenya terhadap pendidikan Indonesia.

“Sebenarnya secara teori, pendidikan di Indonesia itu sangat luarbiasa. Bahkan materi pendidikan untuk SMA di sini, itu di banyak negara untuk materi S2. Cuma praktik dan pola-pola menginsipirasinya itu kurang. Harus dimulai dari pemerintah dan dunia pendidikan,”pungkasnya.


Sumber : jawa pos
Sumber Gambar Sampul : trbimg.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini