MARCHING FOR BOUNDARY 2016: Mendirikan Rumah Baca di Samping Sungai

MARCHING FOR BOUNDARY 2016: Mendirikan Rumah Baca di Samping Sungai

MARCHING FOR BOUNDARY 2016: Mendirikan Rumah Baca di Samping Sungai

Perpustakaan termasuk berbagai koleksi buku didalamnya adalah gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya. Jika kita ingin mengenal dunia maka kita harus banyak membaca dan jika kita ingin dikenal oleh dunia untuk selamanya maka kita harus menulis. Dengan semangat tersebut kami peserta marching for boundary berusaha untuk menghidupkan budaya membaca dan menulis di Dusun Kejiring Desa Engkrengas ini, kami mendirikan rumah baca dusun Kejering ditempat Balai Desa yang kami sulap menjadi perpustakaan.

Pada hari minggu saat anak-anak sedang libur sekolah, kami mobilisasi mereka untuk membantu mendirikan rumah baca di balai desa, mereka sengaja kami libatkan untuk turut ikut andil ambil bagian didalamnya, agar mereka merasa memiliki atas rumah baca itu, selain itu harapannya setelah kami selesai bertugas, mereka juga masih menggunakan rumah baca itu sebagai ruang menghidupkan budaya intelektualitas di dusun mereka.

Ternyata ketika mereka diajak kepada hal yang baik, termasuk pendidikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mereka sangat semangat sekali, terbukti dengan hadirnya mereka yang ikut terlibat langsung untuk merubah balai desa menjadi rumah baca bagi mereka. Bukan hanya anak-anak yang sudah sekolah SD ataupun MTs, namun juga anak-anak yang belum sekolah juga hadir ke lokasi, walaupun mereka tentunya sambil tertawa, bermain, memanfaatkan momentum keramaian.

Di Desa Engkrengas terdapat tiga dusun, dua dusun bernama dusun Letang dan dusun Terus yang jaraknya berdekatan, disana terdapat sekolah SD dan MTs, jumlah warga dan khususnya anak-anaknya juga lebih baik, sedangkan keadaan didusun Kejering yang jauh dari kedua dusun tadi tidak banyak jumlah anak-anak yang ada disini.

Anak-anak dusun Kejering yang sekolah di SDN 16 Engkrengas dari kelas satu sampai kelas enam hanya berjumlah lima belas orang, dengan komposisi tiap kelas hanya 3-4 empat orang, bahkan kelas dua dan kelas empat tidak ada muridnya satupun, untuk anak-anak yang sekolah menengah lanjut pertama atau MTs dari dusun Kejering hanya ada 8 orang, anak MTs setiap hari harus berjalan cukup jauh sekitar 1-1 ½ jam untuk sampai di MTs, itupun beberapa terputus sekolah sebelumnya setelah lulus SD tidak langsung melanjutkan ke MTs.

Rumah baca yang ada di Dusun Kejiring akan kami fungsikan bukan hanya sebagai tempat untuk membiasakan budaya membaca, dirumah ini walaupun tidak terlalu besar, akan dihidupkan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya agar warga disini, khususnya generasi muda yang berpendidikan semakin jauh lebih baik dari sebelumnya. Kegiatan lainnya seperti belajar tambahan atau bimbel inspiratif diluar sekolah untuk meningkatkan pemahaman siswa untuk mata pelajaran yang belum bisa dipahami dengan baik disekolahnya, berani menuliskan cita-cita dipohon mimpi, belajar menulis, dan lain sebagainya.

Saat ini bisa dibilang desa Engkrengas, khususnya dusun Kejiring masih berada dalam keadaan yang serba terbatas secara fasilitas, namun untuk semangat perubahan kearah lebih baik mereka selalu mendukung. Kedatangan kami kedesa ini dengan segala rencana dan programnya sangat didukung penuh oleh masyarakat, mereka sangat humble dengan adanya kami kesini, budaya ramah tamah seperti kebanyakan di desa masih sangat kental disini.

Namun keramahan dan kebaikan itu semua belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat, khususnya fasilitas yang memadai dan infrasturktur yang masih jauh dari kata ‘ideal’, misalnya masih sangat susahnya sinyal, baru bisa mendapatkan sinyal setelah ketempat tertentu, belum adanya listrik yang memadai, setiap hari mereka masih menggunakan genset, belum adanya jalan darat yang layak, sehingga mereka masih menggunakan jalan sungai dengan menggunakan sampan, atau kalupun harus melewati jalan darat untuk menuju ketempat sebelah, harus melewati jalan yang sangat jauh ditambah kondisi jalan yang masih memprihatinkan, harga yang jauh lebih mahal, karena harus membawa dari tempat yang cukup jauh, dan segala keterbatasan lainnya yang mungkin tidak semua orang mampu bertahan dalam kehidupan yang serba terbatas seperti ini, lalu apakah masih belum tersentuh hati nurani kita? Bayangkan jika kita sendiri yang ada disini?

Walau rumah baca ini berada disamping sungai, tepatnya disungai Terus yang terhubung langsung dengan sungai Kapuas Hulu, namun harapannya bisa menjadi laboratorium yang memang tepat untuk saat ini, nanti, dan akan datang walaupun sudah kami tinggalkan, agar mereka bisa belajar dengan baik. Rumah baca disamping sungai ini kami dedikasikan untuk mereka, Tuhan, dan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.


Penulis:Ibnu Asyrin -Mahasiswa UGM, Penerima Manfaat Bakti Nusa 6

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pulau Pelangi | Pulau Seribu Resort Sebelummnya

Pulau Pelangi | Pulau Seribu Resort

Osvaldo Haay di Ambang Rekor Top Skor SEA Games 2019 Selanjutnya

Osvaldo Haay di Ambang Rekor Top Skor SEA Games 2019

Arifina Budi
@arifinabudi

Arifina Budi

http://wetanngulon.blogspot.com

Pencerita hal-hal baik untuk dunia.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.