Nyaris 12 tahun silam peristiwa Tsunami Aceh telah berlalu.

Masjid Rahmatullah, masjid satu-satunya yang masih terus berdiri ketika tsunami menyapu habis Aceh pada hari Minggu pagi, 26 Desember 2004 lalu. Kini, apa kabarnya masjid Rahmatullah tersebut?

Masjid itu kini masih berdiri dengan kokoh dan kembali terlihat cantik. Setelah direnovasi sana-sini, catnya sudah diperbarui agar terlihat bersih dan lainnya, masjid itu dibuka kembali untuk umum karena wisatawan domestik maupun mancanegara berbondong-bondong mengunjungi masjid ini untuk membuktikan kebenaran tentang Masjid Rahmatullah yang selamat dari tsunami.

Masjid Rahmatullah yang masih berdiri tegak diantara reruntuhan bangunan sesaat setelah Tsunami Aceh  (4/1/2005) © Jacob J. Kirk /EPA | sumber : beritagar
Masjid Rahmatullah yang masih berdiri tegak diantara reruntuhan bangunan sesaat setelah Tsunami Aceh (4/1/2005) © Jacob J. Kirk /EPA | sumber : beritagar

Namun, ada satu bagian di pojok tenggara masjid dibiarkan apa adanya. Bagian itu hanya ditutupi oleh dinding-dinding kaca yang ditempeli foto kondisi masjid setelah terkena tsunami. Di dalamnya tampak masih ada bongkahan batu karang dan batu-batu koral yang berserakan di atas pasir. Di satu sisi, ada satu tiang masjid yang dibiarkan roboh. Ini semua memang ditujukan sebagai peringatan bahwa masjid ini pernah selamat dari hantaman tsunami yang menyapu bersih Aceh hingga semuanya rata dengan tanah.

Perubahaan mendasar di masjid itu kini adalah arah kiblat. Dari karpet yang dipasang, tampak arah kiblat digeser sekitar 30 derajat ke kanan. Perubahan ini dilakukan setelah Dinas Syariat Islam setempat meninjau masjid tersebut. Ia menganggap bahwa arah kiblat masjid itu belum tepat. Kini arah kiblat ini sudah pas mengarah ke Kakbah dan disertifikasi oleh tim Badan Hisab Rukyat (BHR) tahun lalu.

Lalu, dua menara tinggi di masjid ini terdapat pengeras suara. Maka, sekarang suara azan mampu terdengar dari kejauhan. Prasasti yang menandakan bahwa masjid itu selamat dari tsunami juga ditaruh di dalam masjid.

Terpisah sekitar 20 meter dari bangunan utama, pengurus takmir masjid tersebut membuat bangunan baru. Bangunan tersebut akan dijadikan galeri tentang masjir Rahmatullah agar wisatawan nonmuslim mampu menyaksikan masjid tersebut dari dekat karena wisatawan nonmuslim tidak diizinkan masuk ke ruang utama masjid.

seorang pengunjung mengamati foto-foto evakuasi korban tsunami saat peringatan 11 tahun gempa dan tsunami di pemakaman massal Ulee Lheue, Banda Aceh (26/12/2015) © Hotli Simanjuntak /EPA | sumber : beritagar
seorang pengunjung mengamati foto-foto evakuasi korban tsunami saat peringatan 11 tahun gempa dan tsunami di pemakaman massal Ulee Lheue, Banda Aceh (26/12/2015) © Hotli Simanjuntak /EPA | sumber : beritagar

Masjid Rahmatullah ini dibangun secara swadaya dan bertahap pada 1990 dan meraup hingga 500 juta rupiah. 150 juta dari biaya tersebut merupakan urunan dari warga sekitar. Lalu, selebihnya, uang hasil lelang sarang walet milik desa juga digunakan. Sarang tersebut berada di sebuah gua tepi laut di kawasan perbukitan sebelah desa. Gua itu disewakan Rp 70 juta setahun.

Masjid ini diresmikan pada tahun 1998 dan mampu menampung 4000 jamaah. Masjid ini seluas 1.600 meter dan tiang-tiang betonnya tebal dan kuat. Temboknya juga kuat karena menggunakan bata dua susun yang dijajar.

Kini, masjid Rahmatullah ini menjadi objek wisata baru di Aceh. Pengunjung masjid ini masih dari kalangan wisatawan yang beragama Islam, seperti Malaysia. Dalam sebulan, jumlah pengunjung Masjid bisa mencapai 100-200 orang.



Sumber : Jawa Pos (Selasa, 20 September 2016) dan Beritagar.id 
Sumber Gambar Sampul : Bayu Putra (Jawa Pos Selasa, 20 September 2016)

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu