SDK Kenalan : Sekolah yang Terpencil dan Rawan Longsor tapi Punya Sistem Ajar yang Asik

SDK Kenalan : Sekolah yang Terpencil dan Rawan Longsor tapi Punya Sistem Ajar yang Asik
info gambar utama

SDK Kenalan, terletak di perbukitan Menoreh yang lokasinya cukup menantang. Dari kawasan wisata Candi Borobudur setidaknya dibutuhkan waktu berkendara 45 menit. Itupun harus melewati jalan yang berliku, terjal, tak ada pagar pembatas di kanan dan kiri jalan, perbukitannya juga rawan longsor, serta jarang ada permukiman serta minim penerangan jalan. Belum lagi jalan menuju SDK Kenalan sangat licin sehingga pengendara harus ekstra hati-hati.

Namun, ketika sampai di SDK Kenalan, sekolah ini terlihat sangat baik. Ada enam ruang kelas untuk siswa kelas I hingga kelas VI. Masing-masing kelas terdiri dari 10 siswa. Jadi, total siswa di sekolah tersebut adalh 60 orang dan dididik oleh 7 guru. Selain ruang kelas, ada pendapa untuk aula serta dua ruang guru. Di bawah kompleks sekolah itu terdapat tiga kamar mandi dan sebuah kandang kambing dimana kambing-kambing tersebut menjadi bahan pelajaran untuk sekolah. Jika ada yang merasa calonnya kurang kuat, mereka bisa bergabung ke partai lain. Untuk menarik suara, mereka tak jarang membagi-bagikan permen.

Hanya saja, longsor terus mengancam keberadaan sekolah itu. SDK Kenalan ini terletak di lereng bukit. Di utara gedung sekolah itu terdapat tebing setinggi 6 meter dengan panjang sekitar 50 meter. Apalagi, tebing tersebut sudah total empat kali longsor, terutama saat musim penghujan. Di samping itu, Dusun Wonolelo ini minim air bersih. Maka dari itu, setiap siswa diwajibkan membawa air minum sendiri dalam kemasan botol setiap harinya. Air ini nanti akan dikumpulkan dan digunakan sesuai keperluan karena sumber air yang sangat susah.

Walaupun dalam keadaan yang serba minim, SDK Kenalan ini memiliki program pengembangan yang cukup menarik. Kegiatannya dikemas dalam komunitas Republik Anak Kenalan (RAK). Seluruh siswa dan guru SDK Kenalan diposisikan sebagai rakyat RAK. Mereka memiliki seorang presiden, lengkap dengan jajaran menteri dalam sebuah kabinet. Seperti sistem pemerintahan, presiden (para siswa) akan dipilih oleh rakyat atau para penghuni sekolah. Ada enam kandidat dari enam partai siswa. Keenam partai berasal dari organisasi republik anak-anak Kenalan terebut. Organisasi yang ada di SDK Kenalan ini cukup beragam. Diantaranya adalah Basis Lintang Menoreh yang berfokus pada kegiatan literasi. Kegiatan ini memiliki produk penerbitan buletin bernama Republikana yang terbit sebulan sekali. Buletin ini setebal empat halaman dan memuat tulisan-tulisan pendek para siswa. Buletin ini dijual ke luar sekolah. Berlangganan setahun hanya dibanderol Rp 5000, sedangkan ecerannya hanya Rp 500.

Selain Basis Lintang Menoreh, ada juga komunitas Basis Wiji Thukul yang berfokus pada aktivitas bercocok tanam. Ada juga komunitas Blekothek yang mengajarkan kesenian, Guyub Maryam atau komunitas rohani, serta Basis Kembang Latar yang mengajarkan estetika, dan lainnya. Tiap semester, komunitas-komunitas itu akan mengirimikan kandidat mereka untuk maju dalam pemilihan presiden. Untuk memperkuat demokrasi di sekolah, forum anak yang mirip kabinet diadakan setiap Kamis dan dihadiri oleh para guru dan seluruh siswa. Dalam rapat itu dibahas sejumlah persoalan sekolah, seperti siswa yang sampai kelas lima masih ngompol, atau siswa yang lambat membaca, dan lainnya.

Mereka juga memiliki program sekolah seperti Gerakan Mengasuh Anak Tani (Gemati) yang terus mendukung keberadaan sekolah tersebut untuk para donator atau orang tua asuh. Para orang tua asuh ini bahkan ada yang berasal dari Qatar dan Singapura.


Sumber : Jawa Pos (21 September 2016)
Sumber Gambar Sampul : Sekaring Ratri/Jawa Pos (21 September 2016)

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini