Alam Takambang Jadi Guru: Sebuah Cerita Pergelaran Perdana Pasa Harau Art & Culture Festival

Alam Takambang Jadi Guru: Sebuah Cerita Pergelaran Perdana  Pasa Harau Art & Culture Festival

Alam Takambang Jadi Guru: Sebuah Cerita Pergelaran Perdana Pasa Harau Art & Culture Festival

Oleh :

Asro Sikumbang Minangkabau

Sebuah Catatan Perjalanan, Pengalaman dan Analisa menelusuri/menggali Kekayaan Minangkabau dan Nusantara.

Alam tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Hal ini terlihat dari ajaran Alam Takambang Jadi Guru1 yang menjadi falsafah kehidupan di Minangkabau. Masyarakat Minangkabau memaknai alam adalah segala sesuatu yang terdapat di alam semesta ini. Tidak hanya alam yang terlihat nyata, tetapi segala bentuk kehidupan yang pat damenjadi contoh dituangkan sebagai pedoman dalam kehidupan. Utamanya ialah sebagai landasan proses penciptaan ajaran atau filosofi hidup, ilmu pengetahuan, serta kebudayaan dan kesenian.

Sejak lama dikatakan bahwa unsur budaya terdiri dari sistem religi, sistem kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian dan sistem teknologi peralatan. Jika dicermati, Adat dan Kebudayaan Minangkabau dapat dipastikan memenuhi ketujuh unsur budaya tersebut. Ketujuh unsur budaya tersebut dalam masyarakat Minangkabau juga mengalami perkembangan sesuai dengan pola pengembangan yang dilakukan oleh masyarakat Minangakabau itu sendiri. Keberagaman ini didukung oleh adanya sistem Adaik Salingka Nagari2.

Salah satu unsur unsur budaya yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau adalah kebudayaan dan kesenian. Alam Takambang Jadi Guru yang menjadi falsafah kehidupan masyarakat Minangkabau, sangat mempengaruhi mereka dalam berbagai hal. Selain pola pemikiran, pengetahuan dan filsafat kehidupan, kebudayaan dan kesenian merupakan salah satu aspek yang paling mudah dilihat pengaruhnya dari filosofi Masyarakat Minangkabau tersebut. Hal itu seperti tampak dalam hal seni bahasa dan sastra lisan, yang mengandung banyak penyampaian pesan dan nasehat yang diambil dari alam, bukan hanya alam yang nyata, terapi juga alam sebagai proses kehidupan yang terdapat di dalamnya.

Seni musik Minangkabau, misalnya, sangat memperlihatkan dengan jelas pengaruh unsur alam dari instrumen-instrumen yang ada. Dalam seni gerak tari biasanya diambil dari gerakan yang terdapat di alam di antaranya gerak aktivitas sehari–hari, gerak permainan, gerak hewan, gerak tumbuhan dan lainnya. Sepertinya halnya juga yang Randai yang terdiri dari unsur gerak tari, dialog, musik dan gerak silek juga sangat dipengaruhi oleh alam. Dan dalam dunia seni rupa sangat terlihat jelas pengaruh alam terdapat di dalamnya, utamanya dalam rupa motif yang terdapat pada ukiran dan tenun Minangkabau. Motif Minangkabau terdiri dari motif tumbuhan serta motif hewan, benda dan hikayat lama yang diwujudkan dalam bentuk ornamen–ornamen simbol yang mengandung banyak makna dan pesan.

Selain anugerah alamnya yang luar biasa, Minangkabau dikenal sebagai salah satu wilayah yang memili keanekaragaman kebudayaan dan kesenian. Berbagai macam bentuk kebudayaan dan kesenian Minangkabau yang sangat dikenal dan menjadi ciri khas Minangkabau di antaranya seni bahasa dan sastra yang terdiri dari petatah, petitih, perumpamaan, ibarat dan pameo yang merupakan kata – kata yang mengandung ajaran. Panitahan dan pasambahan merupakan kata – kata seni berpidato. Talibun dan pantun yang merupakan pantun. Kaba dan hikayat merupakan cerita klasik yang digubah dalam bentuk prosa. Gurindam yang merupakan puisi lama yang berisi nasehat atau kebesaran. Mantra yang merupakan sastra lama yang mengandung kekuatan dan terakhir adalah tambo yaitu transkrip sejarah lisan yang berisi tentang Alam Minangkabau di antaranya Adat, Budaya, Hukum, Undang–Undang, Ajaran dan Wilayah Alam Minangkabau. Seni Bahasa dan Sastra yang tedapat dalam Alam Minangkabau hampir keseluruhannya menggunakan kata tinggi yang biasa disebut kata kiasan.

Dalam hal Seni Musik, Minangkabau memiliki keanekaragaman instrument alat musik di antaranya saluang, sampelong, sirompak, bansi, pupuik baranak, pupuik tingkolong, sarunai, pupuik tanduak kabau, pupuik batang padi, dan lainnya yang merupakan instrumen tiup. Sementara gandang, talempong, rabana, tambua, tasa, dulang atau talam, aguang (gong), tingtong, tong tong, dan canang, merupakan instrumen pukul. Kucapi dan genggong yang merupakan instrumen petik. Rabab dan biola yang merupakan instrumen gesek serta beberapa instrumen lainnya seperti ganto jawi dan ganto padati yaitu lonceng yang biasa menjadi penghias leher sapi serta alu baganto yang merupakan tongkat besar penumbuk padi yang menjadi instrumen musik di Minangkabau.

Dalam hal Seni Gerak, Minangkabau juga memiliki beranekaragam bentuk di antaranya tarian yang mana bentuk tarian, hampir terdapat semua golongan garis besar seni tari yang terdiri dari tari keagamaan, tari alam, tari kebudayaan, dan tari hiburan. Juga terdapat randai yang merupakan seni teater tradisional Minangkabau dan silek sebagai beladiri asli Minangkabau dan dalam konteks Seni Rupa, Minangkabau juga dikenal luas dengan hasil karya seni rupanya di antaranya ukiran dan tenun Minangkabau. Selain itu masyarakat Minangkabau juga dikenal luas dengan hasil karya seni rupanya seperti seni pandai logam (emas, perak, kuningan, suasa dan besi) serta seni keramiknya (tembikar).

Berdasarkan uraian di atas terlihat jelas bahwa masyarakat Minangkabau memiliki landasan dan unsur kembali kepada Alam. Alam menjadi ajaran, pedoman dan contoh dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Hal ini yang kemudian menjadi Filsafat/filosofi tersendiri yaitu Alam Takambang Jadi Guru yang memiliki arti dan pengaruh yang luas. Termasuk salah satunya dalam proses penciptaan kebudayaan dan kesenian.

Caption (Sumber Gambar)

Tanggal 13–14 September 2016 merupakan salah satu catatan sejarah tersendiri dalam perjalanan kebudayaan dan kesenian Minangkabau di masa saat ini. Falsafah Alam Takambang Jadi Guru, yang terdiri dari unsur alam, anak nagari dan karya seni Minangkabau, menyatu dalam sebuah perhelatan. Momen tersebut merupakan puncak dari segala proses dan persiapan yang telah dilakukan untuk mengenal alam serta mengenal dan membangkitkan karya alam dan anak nagari Minangkabau. Pagelaran perdana ini diberi tajuk Pasa Harau Art & Culture Festival 2016.

Pasa Harau Art & Culture Festival 2016 merupakan hasil proses kerja yang dilakukan oleh generasi Minangkabau yang berkeinginan memperkenalkan alam dan kebudayaan serta kesenian yang terdiri dari seniman, budayawan, sastrawan, komunitas lokal seperti Komunitas Harau, Teater Tambologi, dan masyarakat sekitar. Selain itu kegiatan ini juga mendapat dukungan penyelenggaraan dari beberapa pihak yang langsung datang dari Jogjakarta dan Jawa Tengah, yang juga berkeinginan menggali dan mengembangkan potensi Sumatera Barat atau Minangkabau dengan mendukung dan membantu pelaksanaan. Mereka terdiri dari pihak penyelenggara Festival Kebudayaan Dieng yang telah dikenal dikalangan Lokal dan Internasional sebagai salah satu kegiatan festival yang juga memanfaatkan potensi alam dan keberagaman kesenian dan budaya serta lainnya, kemudian dari tanah Jawa tersebut juga hadir dari beberapa perkumpulan di antaranya Yayasan Umar Kayam, Rumah Budaya Joglo Abang, dan Infoseni.

Pelaksanaan kegiatan ini juga mendapat perhatian dan dukungan langsung dari pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Sebuah pergerakan yang diwujudkan dalam bentuk konsep sebagai upaya pengembangan dan pengenalan Alam Minangkabau baik alam alaminya maupun hasil karya alam seperti kebudayaan dan kesenian tradisi. Konsep yang menjadi salah satu bentuk destinasi alternatif yang menggabungkan alam, kebudayaan dan kesenian, masyarakat dan aspek kehidupan yang terdapat di lingkungan kegiatan ini sebagai satu konsep yang kemudian terwujud menjadi Pasa Harau Art & Culture Festival mengambil kata ‘pasa’ yakni kata Minangkabau untuk‘pasar’ sebagai konsep dasar, yang juga dapat berarti keramaian.’

Kegiatan Pasa Harau Art & Culture Festival merupakan salah satu upaya penyelenggaraan kegiatan festival yang mengangkat kesenian dan kebudayaan tradisi Minangkabau serta kesenian kontemporer yang sedang berkembang saat ini. Sekaligus memanfaatkan ruang alam dan memperkenalkan keindahan alam Lembah Harau yang luar biasa. Sehingga menjadi sebuah bentuk kolaborasi yang menarik dan menjadi destinasi menarik terhadap masyarakat, penikmat budaya serta seni, penikmat alam, pariwisata dan lainnya.

Caption (Sumber Gambar)

Salah satu sudut pandang venue lokasi acara.

Mempertahankan kealamian berdampingan dengan artistik alami lembah harau

Lokasi kegiatan Pasa Harau Art & Culture Festival diadakan diantara hamparan lembah batu karang yang berusia 30 – 40 Juta tahun yaitu Lembah Harau yang telah dikenal oleh dunia luas dan merupakan warisan alam tersendiri bagi daerah Luhak Limo Puluah Koto (Kabupaten Lima Puluh Kota Sekarang) khususnya dan Minangkabau umumnya. Dengan artistik alami dari megahnya berdiri lembah harau,ditambah dengan panggung dan veneu dengan berdasarkan konsep alami serta konsep festival yang mengandung nilai estetika.

Agenda yang berlangsung selama 2 hari ini diisi dengan berbagai kegiatan penampilan kebudayaan dan kesenian tradisional Minang. Selain juga menampilkan kesenian kontemporer. Terlihat bahwa penyelenggaraan Pasa Harau Art & Culture Festival berupaya sebagai wadah dan ruang dalam membangkitkan dan memperkenalkan kembali kebudayaan dan kesenian Minangkabau serta kesenian yang tengah berkembang saat ini. Selain itu menjadi salah satu alternatif konsep dalam upaya pelestarian kebudayan dan kesenian, promosi alam dan kebudayaan serta kesenian, apresiasi dalam masyarakat terhadap seni dan destinasi wisata yang menarik.

Dalam pergelaran kegiatan Pasa Harau Art & Culture Festival ditampilkan berbagai bentuk kebudayaan dan kesenian. Diantaranya seni bahasa dan sastra, seni musik tradisi, seni gerak tari, teater tradisional dan atraksi beladiri. Juga diisi dengan pertunjukan permainan tradisonal sebgai salah satu bentuk hasil kebudayaan masyarakat Minangkabau. Dan bentuk suguhan lain juga ditampilkan pertunjukan kesenian kontemporer.

Dendang yang merupakan salah satu bagian dalam seni bahasa dan sastra Minangkabau yang merupakan cerita pelipur lara yang dipaparkan oleh tukang dendang secara lisan, yang umumnya dalam bentuk bahasa berirama dengan sebagian bernyanyi. Dendang dalam perhelatan Pasa Harau Art & Culture Festival ditampilkan mengiringi tari pencak silat. Selain itu seni bahasa dan sastra ini juga ditampilkan melalui pertunjukan Indang yang dibawakan oleh kelompok seni tradisional masyarakat yang berasal dari Solok Selatan.

Sedangkan dalam seni musik tradisi, keseluruhan pertunjukan kesenian dalam Pasa Harau Art & Culture Festival diiringi oleh instrumen dan musik tradisi Minangkabau, utamanya instrument tiup seperti saluang dan insturmen pukul seperti talempong aguang dan rabano. Seperti halnya dalam Pertunjukan musik tradisi dan tari piriang diateh kaco ditampilkan oleh grup Musik Sikambang Manih yang berasal dari Padangpanjang diringi oleh instrument dan musik tradisi seperti Saluang, Talempong, dan Aguang. Pertunjukan ini merupakan kolaborasi tari tradisional dan musik tradisional Minangkabau. Dalam pertunjukan Randai Balega Grup juga diiringi oleh instrument tradisional Minangkabau. Serta dalam pertunjukan Indang, alat musik pendukung yang dimainkan oleh pemain adalah Rabano.

Caption (Sumber Gambar)

Caption (Sumber Gambar)

Kolaborasi Tradisi Di Minangkabau dalam pertunjukan.

Musik Tradisional, Tari, Pencak oleh Kelompok Seni Sikambang Manih yang menampilkan atraksi Tari Piring di atas Kaca

Pertunjukan Tari dalam pelaksanaan Pasa Harau Art & Culture Festival menampilkan tari Pasambahan pada awal pembukaan pelaksanaan kegiatan ini. Tari Pasambahan merupakan salah satu tari tradisional Minangkabau yang berfungsi sebagai tari dalam penyambutan tamu. Pelaksanaan tari dalam kegiatan ini ditampilkan oleh masyarakat Harau sendiri yang terdiri dari Ibu – Ibu, anak perempuan dan anak laki – laki.

Caption (Sumber Gambar)

Masyarakat Harau dengan menampilkan Tari Pasambahan dalam opening kegiatan dan sebagai sebuah penyambutan persembahan dengan latar belakang Lembah Harau.

Antara Alam, Anak Alam dan Karya Alam

Dalam pelaksanaan kegiatan Pasa Harau Art & Culture Festival ini juga ditampilkan seni teater tradisional Minangkabau. Randai merupakan seni teater tradisional Minangkabau yang merupakan gabungan dari seni bahasa/sastra, seni gerak (tari, dram, pencak dan silat) serta seni rupa (pakaian dan senjata). Cerita randai diambil dari hasil sastra lisan Minangkabau seperti cerita yang berasal dari Kaba dan Hikayat yang merupakan bagian dari seni bahasa dan sastra Lisan Minangkabau. Penampilan randai dalam Pasa Harau Art & Culture Festival diisi oleh kelompok seni tradisi randai Solok Bio – Bio dan Kelompok Randai Siti Nursyiah yang para pemainnya berasal dari kalangan masyarakat Lembah Harau dan sekitarnya yang terdiri dari berbagai dari lapisan usia mulai dari anak – anak hingga orang dewasa. Selain itu juga ditampilkan pertunjukan singkat Randai Balega Group dari kalangan seniman mahasiswa dan dosen Instittut Seni Indonesia Padangpanjang yang diiringi dengan workshop randai.

Caption (Sumber Gambar)

Pertunjukan Teater Tradisional Minangkabau Randai sebagai salah satu bentuk kebudayaan dan kesenian Minang yang ditampilkan oleh kelompok seni Solok Bio - Bio yang merupakan masyarakat Harau

Silek Lanyah merupakan atraksi beladiri yang ditampilkan dalam pagelaran festival ini. Silek Lanyah merupakan sebuah atraksi yang berakar kepada beladiri tradisional Minangkabau yaitu Silek. Silek merupakan salah satu beladiri tradisional asli Minangkabau yang bertujuan untuk mempertahankan diri, keluarga, kaum bahkan nagari. Silek Lanyah adalah sebuah atraksi yang berasal dari kampung Wisata Kubu Gadang Nagari Gunuang yang berada di Kota Padangpanjang. Silek Lanyah dilakukan diarena persawahan. Atraksi ini merupakan inovasi pengembangan dengan tujuan sebagai upaya membangkitkan dan mengembangkan kebudayaan dan kesenian tradisi yang berakar kepada salah satu aliran gerakan silek tradisional Minangkabau yang terdapat di Nagari Gunuang kemudian dikenal dengan silek aliran gunuang atau silek tuo gunuang.

Caption (Sumber Gambar)

Atraksi Silek Lanyah dari dusun Kubu Gadang Padangpanjang.

Sebuah inovasi membangkitkan dan mengembangkan beladiri tradisional

Selain pertunjukan kesenian tradisi, Pasa Harau Art & Culture Festival juga menampilkan berbagai permainan tradisional Minangkabau, di antaranya lomba pacu anjing. Dalam aktivitas kehidupan masyarakat Minangkabau, anjing merupakan hewan yang sangat memiliki arti penting dalam menjaga lingkungan dan lahan pertanian. Pacu anjing merupakan permainan yang berkembang dari kebiasaan Baburu3 yang telah menjadi satu bentuk kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Baburu merupakan suatu kegiatan dimana secara bersama – sama melakukan kegiatan berburu babi yang menjadi hama perusak lahan pertanian. Dalam lomba pacu anjing, babi menjadi target agar anjing dapat berpacu.

Terdapat juga atraksi Atraksi Panjek Karambia4 . Atraksi panjek karambia merupakan salah satu permainan tradisional yang berbentuk perlombaan yang terdapat di Minangkabau. Permainan ini dilaksanakan oleh laki–laki dewasa. Dalam kemeriahan kegiatan ini juga diramaikan oleh festival layang–layang sebagai salah satu permainan tradisional. Dan permainan lainnya adalah Lomba Pacu Sayak. Sayak merupakan bahasa Minang dari tempurung. Lomba Pacu Sayak merupakan permainan yang mirip dengan lomba pacu bakiak untuk mencapai garis finish, akan tetapi perbedaanya menggunakan tempurung kelapa sebagai pijakan yang ada lubangnya diikatkan sebuah tali sebagai pengikat dan pengatur.

Selain berbagai pertunjukan kebudayaan dan kesenian tradisi, juga ditampilkan kesenian kontemporer yang melengkapi perhelatan kegiatan festival ini. Diantaranya menampilkan pertunjukan musik yang terdiri dari berbagai Aliran Musik. Seperti aliran keroncong yang ditampilkan oleh kelompok musik La Paloma. Orkes Taman Bunga yang membawakan berbagai lagu–lagu Minang dengan aliran mereka. Aliran Regaee yang ditampilkan oleh kelompok musik Ranah Rasta. Dan penampilan musik akustik yang dibawakan oleh C – Coustic. Penampilan oleh kelompok seni kontempor ini berasal dari Kota Padangpanjang dan Kota Payakumbuh yang terdiri dari kalangan seniman, mahasiswa seni dan masyarakat.

Dalam mendukung pelaksanaan Pasa Harau Art & Culture Festival, disediakan layanan dalam memfasilitasi tamu. Layanan yang disediakan diwujudkan dalam bentuk paket kegiatan, yang terdiri dari paket VIP dan paket festival. Penyedian layanan ini merupakan salah satu fasilitas utama yang diberikan kepada tamu yang ingin menikmati layanan seperti penginapan, transportasi dan akomodasi. Selain itu dengan adanya bentuk layanan ini juga membantu dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Salah satunya fasilitas penginapan dan akomodasi seperti konsumsi tamu serta panitia diberikan pelaksanaannya kepada masyarakat. Sehingga dampak dalam pelaksanaan festival Pasa Harau Art & Culture Festival yang merupakan salah satu bagian dari aktivitas pariwisata memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Sebagaimana dalam konsep pariwisata sebagai salah satu sektor yang membangkitkan ekonomi dan bersiklus tidak terputus. Selain itu terdapat fasilitas lain yang diberikan Pasa Harau Art & Culture Festival dalam pelayanan tamu. Di antaranya kegiatan Tracking menikmati pesona alam lembah harau dan pertunjukan kesenian khusus.

Caption (Sumber Gambar)

Caption (Sumber Gambar)

Tamu dari Jogjakarta menikmati suasana santai di Alam dan bersama Masyarakat Lembah Harau

Dalam pelaksanaan kegiatan Pasa Harau Art & Culture Festival ini, terlihat apreasiasi dan animo yang tinggi. Masyarakat Harau sebagai tuan rumah turut memeriahkan, dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang menyaksikan kegiatan ini. Selain itu Pelaksanaan kegiatan ini sangat terlihat menarik perhatian pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam lembah harau. Hal ini terlihat jelas beberapa pengunjung yang awalnya ingin menikmati alam lembah harau akhirnya tergabung dalam rangkaian pagelaran ini. Diantaranya beberapa warga asing seperti berasal dari Belanda, Republik Rakyat Tiongkok dan negara lainnya yang terlibat dalam rangkaian workshop randai.

Caption (Sumber Gambar)

Workshop Randai oleh Kelompok Seni Balega Group.

Diikuti oleh tamu dari Mancanegara yang tertarik dengan kebudayaan dan kesenian Minangkabau

Memanfaatkan dan memperkenalkan potensi alam, kebudayaan dan kesenian, permainan rakyat juga menampilkan dan memperkenalkan potensi olahraga tradisional, aneka kuliner tradisional Minangkabau, hasil karya tangan atau cenderamata Minangkabau dan beberapa rangkaian pergelaran adat Minangkabau. Melalui festival ini diharapkan dapat menjadi bentuk wisata alternatif yang menggabungkan wisata alam, wisata kuliner, serta wisata budaya dan wisata even. Berbagai materi kegiatan akan dirancang guna memberikan lebih banyak kesempatan kepada pengunjung untuk ikut berpartisipasi, melalui keterlibatan dalam pergelaran dan upacara, mempelajari berbagai keterampilan melalui kelas-kelas workshop singkat, selain dengan cara live-in di rumah-rumah penduduk atau berkemah, dan ikut merasakan suasana sehari-hari di kampung-kampung di sekitar Lembah Harau

Caption (Sumber Gambar)

Maarak Anak Daro dan Marapulai dalam Pasa Harau Art & Culture Festival.

Menggambarkan salah satu rangkaian prosesi adat dan budaya Minangkabau

Pasa Harau Art & Culture Festival merupakan sebuah gerakan dan upaya yang menggabungkan berbagai unsur dan menjadikan sebagai sebuah konsep yang berdampak luas. Konsep yang terdiri dari alam serta kebudayaan dan kesenian yang dikemas menjadi satu paket kegiatan yang berbentuk festival sehingga semakin menjadi daya tarik akan keindahan alam serta kesenian dan kebudayaan Minangkabau. Serta menjadi satu daya tarik destinasi pariwisata baru di Sumatera Barat yang akan memberikan dampak langsung dalam perkembangan pariwisata Sumatera Barat, ekonomi masyarakat, serta upaya pelestarian dan pengembangan serta menjadi ruang dalam kebudayaan dan kesenian utamanya kebudayaan dan kesenian tradisional Minangkabau serta kebudayaan dan kesenian lainnya yang berkembang di Sumatera Barat.

Caption (Sumber Gambar)

Panitia Pasa Harau Art and Festival yang terdiri dari Masyarakat Harau, Lima Puluh Kota, Payokumbuah dan dari berbagai daerah di Sumatera Barat yang terdiri dari berbagai lapisan dan latar belakang ilmu siap menyambut dan melayani tamu untuk mengenal Ranah Minang.

Latar belakang batu yang menjadi lokasi foto bot pagelaran ini

Dede Pramayoza selaku Festival Director mengungkapkan dengan pelaksanaan perdana ini, kegiatan Pasa Harau Art & Culture Festival menjadi acuan untuk pelaksanaan kegiatan yang sama kedepannya dengan lebih banyak kegiatan dan agenda.Selain itu kegiatan diharapkan dan direncanakan menjadi sebuah rangkaian bentuk kegiatan yang menjadi even tahunan dan menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan lainnya dengan memanfaatkan keanekaragaman potensi alam Minangkabau yang luar biasa. Sehingga memiliki dampak yang luas baik dalam pengelolaan potensi, pelaksanaan kegiatan, daya tarik, pengembangan, pelestarian, ruang dan dampak lainnya termasuk dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Alam Takambang Jadi Guru

Alam, Anak Alam dan Hasil Karya Alam

Sebuah Cerita dari perhelatan Pasa Harau Art And Culture Festival

Ayo Ke Pasa Harau Art And Culture Festival selanjutnya

Nikmati Keindahan Alam Lembah Harau dan Pertunjukan Kebudayaan dan Kesenian Tradisional Minangkabau serta pertunjukan seni dan budaya lainnya

Wonderfull Motherland Ranah Minang, Wonderfull Indonesia

Kata Kunci :

Alam Takambang Jadi guru, Pasa Harau Art & Culture Festival, Minangkabau, Sumatera Barat, Lembah Harau, Kesenian dan Kebudayaan,Tradisi, Festival, Pariwisata,Alam,Nusantara, Indonesia

Glosarium :

  1. Alam Takambang Jadi Guru : Alam Terbuka Jadi Guru

Alam Takambang jadi guru adalah sistem pengetahuan yang berlandaskan kepada cara berpikir logis dan rasional yang mendorong kearah kehidupan yang serasi secara alami dan sadar lingkungan.

  1. Adaik Salingka Nagari : Dimaksud nagari memiliki wewenang aturan sendiri termasuk dalam pengembangan adat serta kesenian dan kebudayaan yang menjadikan keberagaman salah satunya keragaman bentuk kesenian dan kebudayaan. Nagari : Desa/ Wilayah administratif adat dan budaya di Minangkabau
  2. Baburu : Berburu

4. Atraksi Panjek Karambia : Atraksi Panjat Kelapa

Referensi :

  1. Datuak Tumbijo. SSRJ/SMSR Padang : Minangkabau Dalam Seputar Seni Tradisional
  2. Amir M.S : Adat Minangkabau.Pola dan Tujuan Orang Minang
  3. Website Pasa Harau Art & Culture Festival | www.harau.id

Foto :

  1. Dokumentasi Asro Sikumbang Minangkabau (Freelancer), Icha (Mahasiswi Tari ISI Padangpanjang) dan Dewi (Alumni Pasca Sarjana UGM)
  2. Dokumentasi panitia Pasa Harau Art And Culture Festival


Sumber :
Sumber Gambar Sampul : www.harau.id

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Jepang Era Sekarang, dan Indonesia 2050 Sebelummnya

Jepang Era Sekarang, dan Indonesia 2050

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu? Selanjutnya

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu?

Asro Sikumbang Minangkabau
@svarnadwipa8nusantara

Asro Sikumbang Minangkabau

Freelance, Historian, Humanism, Entrepreneurship, Ambitious, Mysterious, Love Indonesia Explore Indonesia Proud Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.