Ditengah ketidakpastian perekonomian dunia, Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia tetap mampu bertahan dan akan tumbuh sebesar 5,3 persen pada 2017 dan 5,5 persen di tahun 2018. Pertumbuhan ini disinyalir akibat adanya tren positif dari negara-negara Asia Timur dan Pasifik pada tiga tahun ke depan.

"Di Indonesia, pertumbuhan akan naik secara stabil dari 4,8 persen pada 2015 menjadi 5,5 persen pada 2018," kata Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty, seperti diberitakan CNN Indonesia.

Angka pertumbuhan tersebut masih sebatas prediksi sebab kondisi ekonomi sangat bergantung pada perilaku investasi publik dan iklim investasi. Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara yang memiliki pasar terbesar di Asia Tenggara. Bila dibandingkan dengan Thailand, Malaysia dan Filipina pertumbuhan kresit sektor swasta di Indonesia sangatlah tinggi.


"Karena itu, Indonesia perlu memperkuat regulasi makroprudensial dan manajemen risiko mikroprudensial," jelas Shetty.

Cakupan makro dan mikroprudensial harus fokus pada beberapa aspek fundamental. Seperti kalkulasi berbasis resiko, peniliaian ketat terhadap kemampuan penerima pinjaman, pengawasan praktek underwriting dan kecukupan modal, persyaratan cadangan tinggi, rasio likuiditas, dan rasio antara nilai kredit terhadap nilai agunan. 

Ekonom Bank Dunia Masyita Crystallin mengatakan bahwa memang selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan kredit cenderung melambat di Indonesia. Namun keadaan tersebut tidak menempatkan ekonomi Indonesia dalam situasi yang mengkhawatirkan.


"Faktanya, kami mendukung pertumbuhan kredit lebih tinggi untuk mendorong lebih banyak investasi di masa mendatang," imbuh dia.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Miranda Goeltom dalam acara Indonesia Economic Outlook 2017 (3/10) di CSIS Auditorium, Jakarta mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi global secara umum tidak akan banyak berubah. Namun untuk bertahan dalam situasi seperti ini perlu dilakukan adanya perubahan paradigma ekonomi. Dirinya mencontohkan bahwa negara Inggris mampu melakukannya dengan optimalisasi ekonomi kreatif. 

Sumber : CNN Indonesia
Sumber Gambar Sampul : kingofwallpaper.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu