Lupa Sandi?

Impian Besar Dreamdelion, Mewujudkan Masyarakat yang Kreatif dan Mandiri

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Impian Besar Dreamdelion, Mewujudkan Masyarakat yang Kreatif dan Mandiri

Pada zaman dulu, stagen biasa digunakan oleh para ibu untuk mengencangkan perut. Ragamnya pun tidak banyak. Dari segi warna misalnya, stagen hanya ada warna hitam dan merah. Di Sleman, Yogyakarta, ada satu desa penenun stagen yang sudah turun temurun, yakni di Desa Sumber Arum. Sayangnya, kini sudah tak banyak jumlah penenunnya dan hasil tenun stagen polos tersebut dijual dengan harga sangat murah.

Mengetahui kondisi ini, anak-anak muda Yogyakarta yang tergabung dalam komunitas pemberdayaan masyarakat Dreamdelion Jogja melihat bahwa tenun dari Desa Sumber Arum punya potensi yang baik untuk memajukan kehidupan mereka serta melestarikan tenun di desa tersebut.

“Ini adalah potensi lokal yang harus dikembangkan. Untuk berjualan kita harus punya nilai lebih dan kualitas yang bagus, maka dari itu kami ajak masyarakat di sini untuk mengembangkan potensinya,” ujar Koordinator Dreamdelion Yogyakarta, Fitriani Kembar.

Mereka pun membantu para penenun di Desa Sumber Arum membuat inovasi stagen yang lebih bernilai dan berharga di pasar. Akhirnya, bersanding bersama para penenun di sana, Dreamdelion Jogja menyulap tenun polos menjadi tenun yang punya banyak warna dan bermotif.

Baca Juga
Kreasi hasil tenun, kolaborasi warga Desa Sumber Arum dengan Dreamdelion Jogja
Kreasi hasil tenun, kolaborasi warga Desa Sumber Arum dengan Dreamdelion Jogja

Tidak hanya pewarnaan dan motif kain, Dreamdelion juga mendorong masyarakat Desa Sumber Arum untuk membuat variasi produk seperti tas, bros, dan dompet.

Pemberdayaan yang dilakukan Dreamdelion Jogja adalah satu dari sekian banyak program Dreamdelion Community Empowerment. Komunitas yang diinisiasi oleh seorang pemudi Indonesia bernama Alia Noor Anoviar ini punya visi untuk membantu menyelesaikan masalah sosial masyarakat dengan memberdayakan kaum marginal yang terpinggirkan.

Awalnya, Dreamdelion yang merupakan bisnis sosial ini diinisiasi di Bantaran Kali Manggarai, Jakarta Selatan. Bisnis sosial yang memberdayakan ibu-ibu Manggarai yang awalnya tidak memiliki pekerjaan karena kurangnya keahlian dan pendidikan ini lahir dari semangat sembilan anak muda untuk membuat perubahan positif dalam masyarakat pada 18 Juli 2012.

Caption (Sumber Gambar)
Caption (Sumber Gambar)

Kini Dreamdelion sudah berkembang ke 3 kota, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Ngawi. Tidak hanya fokus pada pengembangan bisnis sosial, Dreamdelion juga punya program-program sosial lainnya seperti Dreamdelion Cerdas yang menyasar pada anak-anak sekolah, Dreamdelion Sehat yang menyasar pada kesehatan dan lingkungan, serta Dreamdelion Kreatif dengan sasaran utama peningkatan keahlian masyarakat.

Di Yogyakarta, Dreamdelion mengajak masyarakat mengembangkan bisnis tenun stagen. i Ngawi, Dreamdelion mengajak masyarakat membuat peternakan kambing dan sapi dengan sistem bagi hasil, sedangkan di Manggarai sendiri, Dreamdelion fokus membantu membangun karakter masyarakat dan mengarahkan potensi kaum muda melalui pendidikan karakter.

Alia yang merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini sendiri memiliki impian untuk dapat membangun masyarakat marjinal yang mandiri melalui pengembangan potensi yang ada di daerahnya. Menurutnya, setelah dua tahun berdiri waktu itu, Dreamdelionn telah menggandeng lebih dari 60 instansi untuk berkolaborasi.

Atas kontribusinya ini, pada tahun 2014 Alia memperoleh Danamon Social Enterpreneur Awards (DSEA) 2014. Tak hanya itu, pada tahun 2015 Dreamdelion Jogja juga berhasil meraih 1st Winner dalam ajang Danone Young Social Enterpreneur (DYSE) 2015 dengan memperkenalkan tenun pelangi yang diberdayakan di Desa Sumber Arum.

Sebagaimana filosofinya, Dream (mimpi) dan Delion (bunga dandelion) yang ingin menyebarkan semangat berbagai melalui bisnis sosial, Dreamdelion berkomitmen untuk mengembangkan bisnis sosial ini tidak hanya sebatas di lingkungan Manggarai namun juga menyebar ke wilayah-wilayah lain setidaknya di Indonesia dalam jangka pendek ini (1-2 tahun).

Melalui komunitas ini, para pemuda pun diajak untuk bergerak ikut turun tangan dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial di masyarakat terutama yang terdekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sumber Gambar :zillius

Muda Bergerak - Apalah Indonesia Tanpamu ?
Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas