Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Hai Para Supervisor, Pekalah Kepada Anak Buah Anda.

Azwardi Iqbal Usman
Azwardi Iqbal Usman
0 Komentar
Hai Para Supervisor, Pekalah Kepada Anak Buah Anda.
Hai Para Supervisor, Pekalah Kepada Anak Buah Anda.

Employee leaves because of their supervisor, not the company. Ada yang pernah membaca quotes tersebut? Saya tertarik menulis ini karena sebuah topik salah satu mata kuliah yaitu Organization Behaviour yang sedang saya jalani saat ini dan anggap saja ini bisa menjadi sharing berbagi sedikit pengetahuan. Jadi hari jumat kemarin dosen saya membahas tentang bahwa mayoritas pegawai resign dari kantor lamanya karena mayoritas dipengaruhi oleh faktor supervisornya. Mungkin yang saat ini akan menjadi supervisor bisa mulai melatih kepekaan dan yang sudah menjadi supervisor cobalah untuk mulai introspeksi diri. Introspeksi adalah salah satu cara memperbaiki diri menjadi lebih baik bukan? 

Dalam struktur perusahaan biasanya yang belum memiliki jabatan atau staff dan staff baru akan dinaungi oleh supervisor. Supervisor dianggap sebagai perpanjangtangan dari manager di bagian top managemen. Karyawan baru yang memasuki sebuah perusahaan ataupun yang sudah bekerja pasti memiliki permasalahan juga di dalam dan luar kantor seperti sistem pekerjaan di kantor, beban kerja dan masalah internal rumah tangga kalau perempuan sebagai ibu dan istri serta laki-laki sebagai ayah dan suami atau yang belum berumah tangga dan masih pulang ke rumah berarti masih berstatus sebagai anak.

Sistem pekerjaan di kantor, beban kerja dan masalah rumah tangga biasanya menjadi pikiran karyawan-karyawan tersebut dan pasti sadar atau tidak akan terbawa ke pekerjaan sehari-hari hingga riskan menjadi konflik yang kata dosen saya sebut sebagai KPK (Konflik Pekerjaan dan Kantor). KPK yang potensial menjadi tinggi tentu saja akan merugikan tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga karyawan itu sendiri. Karyawan yang sudah berada di posisi KPK terutama dalam tahap tinggi tentu membutuhkan perhatian dan kepekaan dari supervisornya karena supervisor lah individu yang diharapkan bisa menjadi pemberi masukan, pendengar, dan pencari solusi terbaik.

Baca Juga

Gambaran sederhana bagan diatas adalah pada setiap Individu dan KPK nya, jika Supervisor mampu memberikan perhatian dan peka maka tingkat KPK individu akan menurun (-) tetapi jika sebaliknya maka akan menjadi (+).  Efeknya jika KPK menjadi (+) adalah pada tahap awal karyawan tersebut akan menjadi "merasa sendiri", penurunan performa kerja, kemudian muncul resign intention hingga puncaknya dia merasa inilah saatnya untuk resign dan realitanya adalah banyak manager di top managemen yang tidak sadar akan fenomena tersebut.

Para supervisor yang ada di perusahaan banyak yang tidak memperhatikan staff di tim nya. Mereka cenderung cuek dan hanya menuntut performa maksimal dari anak buah padahal anak buah mereka juga adalah manusia yang memiliki permasalahan baik di dalam maupun luar kantor. Supervisor sebagai pemimpin mereka harus sadar akan hal ini. Karyawan yang akhirnya mencapai titik puncak dari KPK dan memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ini akan menjadi potensi berbahaya bagi perusahaan.

Berbahaya bagi Perusahaan karena akan banyak mengalami kerugian seperti adanya waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mencari karyawan baru, serta belum lagi jika karyawan yang resign tersebut merupakan termasuk kategori yang memiliki skill mumpuni kemudian kompetitor perusahaan tersebut melirik dan menerima karyawan tersebut untuk bergabung dimana ternyata tempat baru lebih bisa mengayomi apa "kebutuhan" dari karyawan tersebut.

Lalu bagaimana cara melihat supervisor sudah menjalani tugasnya dengan baik? salah satu cara mudahnya adalah lihat saja seberapa banyak karyawan di timnya yang sudah memutuskan untuk resign. Hal tersebut tentu tidak bisa kita tanyakan misalnya ke HRD atau Supervisor tersebut, menjawabnya sama saja seperti membuka aib perusahaan dan diri sendiri tetapi bisa menanyakan teman atau relasi yang masih berada di perusahaan tersebut. Lalu bagaimana jika kita tidak punya relasi di dalam perusahaan? jawabannya bisa dengan memberikan kuesioner kepada staff-staff yang masih bekerja dengan salah satu pertanyaannya mengenai resign intention.

 Jadi, pada intinya adalah supervisor sebagai orang yang memang memiliki jabatan lebih tinggi dan pengalaman lebih banyak seharusnya lebih peka dan perhatian terhadap kondisi tiap individu yang berada dibawah naungannya. Anda sebagai supervisor dan bawahan tentu saja kondisinya adalah sama-sama manusia yang pasti memiliki permasalahan. Mau kemana lagi bawahan anda menceritakan permasalahan yang mereka hadapi?

Ingatlah kalian para supervisor yang memiliki posisi lebih tinggi dan bayaran gaji lebih besar harus siap dengan permasalahan yang lebih kompleks pula, kalau tidak siap yaa berarti anda memang belum layak untuk berada di posisi yang lebih tinggi dengan beban yang lebih tinggi.

Don't hestitate to contact me: azwardiiqbal@gmail.com

Pict Source :https://media.licdn.com/mpr/mpr/p/6/005/0ac/330/0b11144.jpg

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AZWARDI IQBAL USMAN

Young professional with experiences in Public Relations with media and also reliable skill in photography, digital media and media relations. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata