Lupa Sandi?

Studi Kelayakan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dimulai

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Studi Kelayakan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dimulai

Jepang tidak mau pengalaman buruk pada proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung, yang dimenangkan China terulang di proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya. Untuk itu, pihaknya sudah melakukan sejumlah langkah terkait proyek penting tersebut.

Bahkan, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) mengaku sudah mulai melakukan studi kelayakan untuk proyek kereta api cepat Jakarta-Surabaya.

Meskipun masih terlalu dini untuk diambil kesimpulan, JBIC memberikan sejumlah catatan terkait rencana proyek ini.

Chief Executive Officer (CEO) JBIC Tadashi Maeda mengatakan, proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya harus mendapatkan kajian yang cukup detil.

Baca Juga

Antara lain mengenai jalur yang akan digunakan perlu ditinjau kembali.

Shinkansen-1 | Gaijinpot
Shinkansen-1 | Gaijinpot

Sebab, rencananya kereta cepat yang akan terbentang dalam jarak 150 kilo meter (KM) itu akan melewati beberapa jalur transportasi lain yang sebidang. Padahal, kereta cepat tidak boleh ada persimpangan dengan kendaraan.

"Maka bagaimana caranya mengubah jalur yang sudah ada, hatrus dilakukan studi kelayakan," kata Maeda, Kamis (20/10) di Jakarta.

Namun, hal tersebut sudah terlalu teknis. Maeda enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai rencana teknis tentang proyek yang juga belum pasti.

Yang jelas, Jepang memang akan berusaha agar bisa mendapatkan proyek ini. Maeda membuka alasan, mengapa pihaknya gagal dalam proyek Jakarta-Bandung.

Salah satunya, karena Jepang memberikan syarat kepada pemerintah agar memberikan jaminan atas proyek tersebut. Sementara China tidak demikian.

Shinkansen | ABC.net
Shinkansen | ABC.net

Untuk itu, dalam strategi investasinya di Indonesia kedepan, Jepang tidak akan lagi menggunakan skema penjaminan mengingat dari sisi risiko, investasi di Indonesia dinilai sudah lebih baik.

Kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah Indonesia sudah mengalami kemajuan. Salah satunya ditunjukan dengan pengalihan subsidi energi untuk proyek infrastruktur.

Selain itu, adanya batasan defisit anggaran sebesar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) juga mengurangi kehawatiran akan risiko fiskal.

(Tribun News)

Gambar utama : denshapejapan

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata