Lupa Sandi?

Kutukan "The Sick Man of Asia", dan Rodrigo Duterte

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Kutukan

Kini Filipina benar-benar menjadi buah bibir dunia. Berbagai media memberitakan negara kepulauan tetangga utara Indonesia dari berbagai sisi dan sudut, mulai dari perang brutalnya memberantas pengedar narkoba, sikap kerasnya pada Obama di KTT Asean di Laos beberapa waktu lalu, hingga kunjungannya ke China yang dibumbui penyataannya untuk 'meninggalkan' sekutu abadinya, Amerika Serikat.

Diakui atau tidak, bagi banyak orang Indonesia, Filipina adalah tetangga yang 'jauh'. Manila tidaknya sedekat Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok. Pun mungkin orang Indonesia yang pernah ke Filipina tak sebanyak orang Indonesia yang mengunjungi Singapura atau bahkan Vietnam.

Bagi yang pernah mengunjungi Manila, tentu mafhum bahwa kota ini dulunya pernah makmur. Tata kota di pusat kota Manila adalah tata kota modern yang direncanakan sejak lama, dan 'sisa-sisa' sinar kejayaannya sebenarnya masih terasa hingga kini. Negeri ini memang bukanlah negeri paling makmur di Asia Pasifik. Bahkan, sejak lama dijuluki "The Sick Man of Asia", si sakit dari Asia.

Namun tak banyak yang menyangka, bahwa pada awal 1950-an, Filipina adalah salah satu dari sedikit negara paling kaya dan maju di Asia, setelah Jepang. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, banyak yang meyakini bahwa Filipina akan menjadi bintang dalam percaturan ekonomi dan politik dunia. Waktu itu, kedekatannya dengan AS dirasa sangat menguntungkan bagi Filipina, selain itu, Filipina juga sudah menganut sistem demokrasi. Ditambah lagi dengan populasinya yang besar, dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik, Filipina memang punya potensi sangat besar menjadi negara maju di Asia.

Baca Juga

Pada tahun 1960, pendapatan perkapita rakyat filipina 10% lebih tinggi dibandingkan Korea Selatan, Filipina juga penerima investasi luar negeri tersebar di kawasan Asia Pasifik pada masa itu. Ketika Korsel masih menjadi negara yang miskin dengan penduduk mayoritas bekerja di bidang agraris, Filipina sudah menjadi kekuatan industri di Asia. Filipina waktu itu adalah satu dari sedikit negara yang sudah memproduksi bahan baku yang sudah diproses, pusat-pusat perakitan mobil. televisi dan alat-alat rumah tangga. Pabrik-pabrik kimia memproduksi obat-obatan, logam batangan diimpor dan dibuat baja untuk memproduksi kapal, pabrik-pabrik semen, tektil, dan pupuk pun sudah ada di berbagai tempat.

Makati, Jantung Ekonomi Filipina | wikitravel
Makati, Jantung Ekonomi Filipina | wikitravel

Namun setelahnya, ekonomi negara tersebut stagnan. Pada tahun 1995, pendapatan perkapita rakyat Filipina 75% lebih rendah dibandingkan Korea Selatan, dan investasi asing juga sangat kecil. Sebelumnya, di tahun 70-an dan 80-an, kehebatan ekonomi Filipina memudar dan turun, sementara tetangga-tetangganya tumbuh. Negara ini pun menjadi negara non-komunis paling miskin di Asia Tenggara.

Kemakmuran dan momentum kemajuan Filipina di dekade sebelumnya (50-an dan 60an) harus hilang...kalah dari korupsi, kroni, dan salah urus di era pemerintahan diktator Ferdinand Marcos dan lemahnya pemerintahan Aquino pasca jatuhnya Marcos.

Dan momentum Filipina pun hilang. Kemudian dikenal-lah label yang menyakitkan bagi seluruh bangsa Filipina, yakni "Sick man of Asia", atau "Latin-style banana republic in the South China Sea." Pendapatan perkapitanya jauh di bawah tetangga-tetanggaya, dan banyak sekali orang-orang terpelajar dan berketrampilan, bekerja di luar negeri.

Jeepney, Metafora Filipina | Rappler
Jeepney, Metafora Filipina | Rappler

Majalah The Economist menulis sebuah ulasan menarik tentang Filipina pada tahun 2007:

"Yang membedakan antara Manila (ibukota Filipina) dengan ibukota-ibukota lain di Asia Tenggara adalah kendaraan Jeepney yang ada di mana-mana, minibus hasil modifikasi yang dipakai oleh penduduk kurang mampu. Dulunya adalah hasil modifikasi jip-jip tentara AS, kini kebanyakan Jeepney menggunakan bodi bekas dari Jepang. Jeepney telah menjadi metafora bagi ekonomi Filipina; tak efisien, dan mudah dibalap. Pada tahun 70, Filipina lebih kaya dari tetangga-tetangganya. Namun, saat negara ini tumbuh 2% saja, tetangga-tetangganya menekan gas dalam-dalam dan bergerak jauh lebih cepat, dan dilibas oleh Singapura, Malaysia, Thailand, dan China. Sebagai bekas koloni AS, Filipina gagal memanfaatkan kedekatan kulturalnya dengan AS, apalagi adanya penggunaan bahasa inggris yang luas di Filipina. Pemerintahan Ferdinand Marcos yang tak kompeten dan korup dari tahun 1965-1986 memang puya andil besar menjatuhkan kehebatan ekonomi Filipina. Ekonomi yang lambat, dicampur dengan pertumbuhan populasi yang begitu cepat, memaksa jutaan orang Filipina (10% dari populasi) mencari kerja di luar negeri" [The Economist, 16 Augustus 2007]

Filipina tak kunjung membaik pasca jatuhnya Marcos, mulai dari Aquino, Ramos, Estrada, Arroyo, dan Benigno Aquino. Di era Benigno, sebenarnya muncul harapan yang tinggi. Negeri ini tumbuh sangat cepat, melampaui banyak negara lain. Ekonomi tumbuh 7,2% di 2013, 6.8% di 2012, 3.7% di 2011, dan 7.6% di 2010.

Benigno Aquino, masa emas | Nonoy_Aquino.com
Benigno Aquino, masa emas | Nonoy_Aquino.com

The Philippines economy picks up in the 2000s under Benigno Acquino III. The Philippine economy expanded by 7.2 percent in 2013, 6.8 percent in 2012, 3.7 percent in 2011 and 7.6 percent in 2010. Di tahun 2012, Filipina tumbuh tercepat ke-2 di dunia setelah China, pengeluaran pemerintah naik 12%, sementara konsumsi naik 6.1 %.

Meski begitu, pertumbuhan tinggi di sana tak diikuti dengan terbukanya banyak peluang kerja. Ekonomi yang bergerak cepat ternyata hanya dinikmati beberapa gelintir orang yang memang sudah kaya. Angka pengangguran tetap tinggi.

Meskipun sisi jasa Filipina masih kuat (pusat call center terbesar di dunia, mengalahkan India), dari sisi manufaktur..negara ini sangat lemah. Pabrik-pabrik untuk memproduksi barang tidak dibangun. Sebagai contoh, di China, banyak penduduk miskin dari berbagai pelosok China terangkat hidupnya berkat adanya pabrik-pabrik dimana mereka bisa bekerja dan mendapat penghasilan tetap. Di Filipina,..hal itu belum juga ada.

Pengangguran yang menjadi masalah laten |  GMANetwork.com
Pengangguran yang menjadi masalah laten | GMANetwork.com

Daily Inquirer menyatakan pendapatnya dengan berani, bahwa Aquino seolah sengaja membanjiri media dengan berita-berita pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun hasilnya tak cukuop bagus, dampak sosialnya tak terasa, terutama dalam hal mengatasi kemiskinan dan mengecilkan jurang pendapatan antara si kaya dan si miskin. Pertumbuhan tinggi tak serta merta menciptakan lapangan kerja bagi penduduk miskin, yang akan memungkinkan mereka keluar dari jurang kemiskian. (Philippine Daily Inquirer, 4 February 2013 ]

Meski begitu, orang mengenang Benigno Aquino (berkuasa selama 6 tahun) sebagai sebuah era yang monumental, peletak dasar pertumbuhan ekonomi Filipina, dan keluar dari label The Sick Man of Asia. Ekonomi tumbuh tinggi, investasi luar negeri membanjir, kepercayaan dunia internasional tumbuh tinggi, dan sikap politik internasionalnya pun dipuji.

Para pekerja migran Filipina. Sumber nadi ekonomi | LA Now
Para pekerja migran Filipina. Sumber nadi ekonomi | LA Now

Namun, pencapaian-pencapaian Pak Aquino ini kini dikhawatirkan akan menguap, karena kelemahan yang mendasar dalam perpolitikan Filipina, yang lebih menyukai 'showmanship' dan personalitas dibandingkan kebijakan dan kemampuan memerintah. Petinju dan pemain film seringkali menjadi politisi dan pengambil kebijakan, sementara orang-orang yang sebenarnya punya kemampuan sama sekali tak terpakai. Dan rasanya, inilah yang terjadi saat ini, saat Presiden Duterte menjadi pemimpin.

Duterte, Beast of Davao | Inquirer News
Duterte, Beast of Davao | Inquirer News

Beliau memang baru memimpin, namun kebijakan-kebijakannya sudah mulai membuat banyak orang berkeringat, dan was-was. Apakah dia bisa melanjutkan momentum ekonomi yang dikembangkan oleh Aquino, ataukah Filipina kembali menjadi Si Sakit dari Asia.

Dari Filipina, banyak yang Indonesia bisa belajar darinya.

(dari berbagai sumber)

Gambar utama : IBTIMES UK

Label:
filipina
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara