Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Studio Game Asal Surabaya Ini Bertekad Menjadi Studio Paling Produktif di Dunia

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Studio Game Asal Surabaya Ini Bertekad Menjadi Studio Paling Produktif di Dunia
Studio Game Asal Surabaya Ini Bertekad Menjadi Studio Paling Produktif di Dunia

Industri pengembangan Game di Indonesia terbilang masih sangat muda. Namun beberapa kali game Indonesia mampu mengejutkan dunia berkat beberapa judul permainan yang mendapat rating bagus maupun mendapat tempat dihati player beberapa negara di dunia. Sebut saja di ranah lokal, ada game mobile besutan Own Games berjudul Tahu Bulat yang sempat menududki peringkat pertama pasar game Indonesia selama beberapa bulan.

Namun hal tersebut tidak lantas membuat Indonesia dikenal sebagai negara penghasil game berkualitas sebab saat ini ekosistem industri game di Tanah Air masih terus bertahan untuk hidup dan belum berdiri kokoh. Untuk membahas tentang industri permainan di Indonesia, GNFI sempat berbincang dengan Maulidan Rasyid Bagus, Alumnus Insitut Teknologi Sepuluh Nopember dan pendiri dari Maulidan Games yang berbasis di Surabaya dan berbincang sedikit banyak tentang perkembangan games di Indonesia.

Tengah Baris kedua, Maulidan Bagus, bersama sebagian tim Maulidan Games (Foto: Bagus DR / GNFI)
Tengah Baris kedua, Maulidan Bagus, bersama sebagian tim Maulidan Games (Foto: Bagus DR / GNFI)

Sebagai informasi, Maulidan Games pada tahun 2015 dinobatkan sebagai Developer Of The Year di Indonesia dalam ajang tahunan Games Developers Gathering. Maulidan Games dikenal sebagai studio games paling produktif dengan kapasitas produksinya saat ini mencapai 36 games per tahun atau 4 games dalam satu bulan!

Berikut adalah perbincangan GNFI dengan Maulidan Bagus (wawancara telah melalui proses sunting).

Baca Juga
Bisa diceritakan mas, sejak kapan Maulidan Games berdiri? 
Maulidan Games sudah ada sejak saya masih kuliah semester tiga, waktu itu kira-kira tahun 2010 dan hanya mengerjakan game flash sederhana dengan dua anggota tim. Tidak ada tema game khusus saat itu sebab masih game sesuai pesanan. 
 
Tidak lama tahun 2011, lalu saya mulai serius membangun Maulidan Games dan masuk ke FLG (Flash Game License), pasar tempat bertemunya developer dengan publisher yang akan membeli game secara lelang. Tapi disana tidak bisa pasang harga, jadi kalau tidak laku ya tidak ada pendapatan. 
 
Sejak itu kami membuat game dahulu, kemudian lempar ke pasar. Mereka yang tertarik akan tinggi-tinggian harga. Pesaingannya ketat, ada ratusan developer yang membuat game. Sedangkan publisher memiliki fokusnya di genre masing-masing. Kami saat itu membangun di empat genre: strategy, war/action, tycoon dan puzzle dan sampai saat ini telah membuat 42 game. 
 
Pemain game-game itu dari mana saja? 
Kalau dulu saat kami membuat game flash, game kami dipasarkan di beberapa negara seperti di Hongkong (Y8.com), US (Armor Games), Belanda (Bigdino), Jerman (Fettspielen.de) dan Spanyol (Nedrago).
 
Namun saat ini flash yang sudah mulai ditinggalkan, membuat kami mulai berekspansi. Mengembangkan tim dan merambah platform baru ke Android dan steam untuk PC. 
 
Jadi masih fokus ke pasar internasional? 
Ya masih tetap pasa internasional. Kalau game mobile, pasarnya niche. Jika tidak dispesifikasikan untuk user tertentu tidak akan disukai, karena tidak semua country tidak suka game serupa. art disesuaikan, misal di jepang sukanya anime. Sedangkan di barat beda, karakter berbeda. Ambil saja game tycoon, tycoon tidak selalu populer di semua negara. Jadi kami harus menargetkan secara spesifik.
 
Sudah malang melintang di pasar game internasional selama 5 tahun lebih. Jadi sebenarnya menurut MG industri game di Indonesia itu seperti apa sih?
Industri game Indonesia itu besar lho, di Surabaya saja ada 25 studio. Terlepas dari ukurannya. Ada yang baru mulai   ada yang sudah tua, tetapi secara jumlah 25.
 
Secara quality tidak sedikit dari studio kita yang sudah jadi rajanya lokal ataupun internasional. Sebut saja lokal, ada Tahu Bulat dari Own Games. Dia sempat mengalahkan peringkat CoC (clash of clans) di pasar lokal.
 
Di internasional pun sudah ada yang masuk dalam featured games U.S di google play. Yang namanya Monster Age dari Art Logic Game Surabaya.
 
Saat ini industri di Indonesia juga mulai dibantu dengan bermunculannya kampus-kampus dengan program studi game seperti Game Technology. Dan kedepan akan ada lebih banyak kerja sama antara industri dengan kampus. 
 
Sebenarnya bagaimana peran dari Akademis dan Kampus terhadap industri game sendiri?
Kerja sama dengan universitas diperlukan dalam hal riset. Dalam jangka waktu dekat kami ada MoU kerjasama dalam bentuk riset game teknologi PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya), jadi kita menjelaskan industri itu ini-ini, mahasiswa bisa bantu apa.
 
Kemarin waktu KP (kerja praktek) mereka mengirimkan mahasiswa ke kami untuk belajar plus bikin riset aplikasi dan engine bersama, sehingga KP mahasiswa memiliki nilai manfaat KP.
 
Kita tahu sendiri Kerja Praktek selama ini tidak ada target, hanya ikut saja. Perusahaan tidak mendapatkan untung dengan adanya anak KP. Mahasiswanya juga tidak mendapat apa-apa. Menurut saya itu adalah penyakit yang harus diubah.
 
Sehingga kami di Maulidan Games, kami ada prinsip bahwa setiap tenaga kerja yang masuk ke dalam tim meski hanya anak KP, dia harus menghasilkan sesuatu yang menguntungkan bagi kita. Hasil kerja mereka bila menguntungkan kami, mereka juga dapat untung sebab saat nanti berhasil dijual mereka juga akan mendapat uang.
 
Jadi lebih seperti program apprentice ya?
Ya, ini adalah fokus kami pada akademi, education dan research contribution. Ada akademi, workshop, research dan curriculum class. Tujuannya agar menjadi programmer-programmer handal. Semuanya free. Kami berfikir, bila industri ini tidak ada talent, industri ini akan mati. Visi kami adalah membangun ekosistem.
 
Contoh riset yang telah dilakukan adalah, ini hasil dari anak-anak KP yang dalam panduan kami, mereka bisa membuat engine otomasi 3D model.
 
Kenapa Maulidan Games memutuskan untuk membuat engine?
Di pasar industri apapun, ada tantangan yang namanya waktu. Time is always be a challenge. Siapa yang bisa mengalahkan waktu, maka dia yang menang.
 
Di industri game, ada kendala yang namanya keberhasilan sebuah produk game. Tingkat keberhasilan di industri game itu sangat sulit ditebak. Dari banyak judul yang kita buat, hanya 20% yang berhasil. 80% income developer datang dari 20% yang berhasil, itu kalau berhasil. Jadi banyak sebenarnya studio yang kolaps karena hanya mengandalkan satu atau dua judul game buatan mereka.
 
Kenapa kami banyak membuat game, karena kami paham, sulit untuk memetakan pasar. Jadi kami kirim game baru yang banyak agar mendapat efek pareto. Saat ini kami telah mampu membuat 4 game dalam satu bulan.
 
Untuk membuat produk sebanyak itu dan dengan hanya 12 orang, itu mustahil. Tahun 2014, kami membuat dengan jumlah orang yang sama, engine belum selesai, kami paksa programmer untuk bekerja dengan cepat. Hasilnya adalah kerja capek, banyak lembur, banyak sakit.
 
Kini kami mampu membuat game dalam waktu satu bulan adalah empat game. Jadi engine untuk simplifikasi berbagai proses. Lewat engine yang dibuat oleh anak-anak KP tadi, kita bisa membuat model 2D menjadi 3D hanya dalam 30 menit, jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan cara lama yang membutuhkan 3 hari.
 
Apakah hanya satu engine ini saja yang dibuat oleh MG?
Ada banyak, pertama engine untuk generate pekerjaan orang setiap harinya. Ada juga engine untuk class generator. Ada juga engine untuk mengatur data dalam game yang sebelumnya membutuhkan berhari-hari, sekarang bisa dilakukan dalam hitungan menit. Kemudian juga ada engine untuk voice recognition. Juga ada engine untuk membuat game isometrik.
 
Jadi ini engine sudah seluruhnya mengurus rutinitas produksi ya?
Ya, jadi kita kerja sudah benar-benar dibantu mesin dan hanya perlu memberi perintah-perintah.
 
Kami ingin membuka mata bahwa otomasi akan menjadi masa depan dalam mengembangkan game. Saat ini app store, setiap harinya saja ada puluhan ribu game baru. Jika kita menggunakan cara lama dan konvensional, kita tidak akan bisa menandingi lawan dari luar negeri. Minimal secara kuantitas.
 
Indonesia sebagai bangsa dengan kekayaan budaya dan cerita lokal, apakah bisa menarik minat pemain game?
Jika budaya lokal itu disampaikan dengan cara yang tidak menarik, orang tidak akan suka. Ambil saja game edukasi, akan menjadi menyenangkan bila ada entertainment dibelakangnya. Sama dengan konten lokal, kita harus bisa membuatnya menjadi menarik dengan teknik-teknik gamifikasi. Seperti mendapatkan poin bila mencapai sesuatu misalnya, atau mendapat reward yang sifatnya lokal. 
 
Lalu bagaimana persaingan developer lokal di industri game internasional? 
Meski beberapa studio lokal sudah berhasil di industri internasional, jumlahnya tidak sebanyak developer yang sukses di Indonesia. Potensinya memang sangat besar, namun kita harus realistis bahwa bagaimana bisa menang melawan developer luar jika kita secara development masih kalah. 
 
Maksudnya?
Dalam dunia industri game, player itu tidak peduli siapa yang membuat game, yang penting gamenya berbahasa Indonesia. Mereka akan mainkan. Mudah saja bagi mereka yang memiliki game bagus tapi berbahasa Indonesia yakni dengan membayar orang untuk translasi. Jika ternyata pembuat gamenya orang spanyol, player tidak akan peduli. Itu kenapa kita harus lebih unggul.
 
Sayangnya, sistem pendidikan saat ini masih belum bisa menghasilkan jumlah talent yang cukup untuk menjawab kebutuhan industri. 
 
Terlepas dari sistem pendidikan Indonesia di bidang IT saat ini yang masih belum ideal, apakah talent Indonesia yang sudah profesional mampu untuk bersaing dengan talent luar negeri? 
Sudah mampu, tapi memang jumlahnya sangat sedikit. Sebagai pembuktian bahwa Indonesia bisa, di Jepang terdapat studio yang mampu membuat empat game dalam satu bulan, tetapi membutuhkan 400 orang. Sedangkan kami 12 orang. Itu kemudian yang membuat kami menjadi panutan.
 
Kebanggan kami bukan saat kita belajar ke luar negeri, tetapi kebanggaan kami adalah saat kami bisa menjadi referensi orang luar negeri untuk belajar.
 
Terakhir, Ada pesan apa untuk anak-anak muda di Indonesia?
Ketahui bahwa umur adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar. Banyak kisah-kisah sukses yang terjadi karena good start yang terjadi di umur yang masih muda. Bayangkan jika memulai sesuatu dilakukan saat masa muda. Sebab masa muda masih memiliki banyak waktu dan kesempatan. Apalagi saat ini segala hal bisa dipelajari lewat internet, belajar dari siapapun yang memiliki pengalaman dan gunakan waktu untuk membuat produk. Gagal pun tidak masalah karena masih muda. 

Maulidan Games merupakan salah satu pengembang game yang tidak hanya produktif namun juga memiliki perhatian untuk ekosistem industri game di Indonesia. Di tengah-tengah berkembangnya industri kreatif di Indonesia, kemunculan studio pioner seperti Maulidan Games untuk berbagi ilmu merupakan angin segar dan teladan bagi generasi-generasi baru pengembang-pengembang di Tanah Air. Mari Kita tunggu prestasi-pretasi game asli Indonesia selanjutnya. 


Sumber : GNFI
Sumber Gambar Sampul : maulidangames.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie