Bertepatan dengan hari sumpah pemuda, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggelar peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-36 dengan membuka pameran hasil pangan terbesar di Indonesia. Ajang yang diadakan di Boyolali, Jawa Tengah itu dilaksanakan selama 28 - 30 Oktober dan menampilkan berbagai hasil tani, perkebunan, perikanan dan juga peternakan terbaik dari seluruh Indonesia.

Sesuai tema peringatan Hari Pangan Sedunia yang dilakukan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) 16 Oktober yang lalu, yang mengangkat tema perubahan iklim dan ketahanan pangan. Peringatan HPS di Boyolali kali ini juga menekankan pada isu yang sama yakni Membangun Kedaulatan Pangan di Era Perubahan Iklim lewat berbagai macam cara. Seperti mekanisasi pertanian dan penanaman secara organik, maupun penggunaan teknologi dalam perikanan dan peningkatan kualitas bibit unggul dalam peternakan. 

Menurut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat pembukaan HPS (28/10) pertanian di Jawa Tengah akan mencapai target yang telah ditentukan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan menjamin distribusi pupuk pada setiap petani yang membutuhkan dengan sistem distribusi tertutup. 

"Sudah kesepatakan dengan Pupuk Indonesia, setiap distributor pupuk harus memberikan pupuk sesuai kuota per kepala. Jika tidak melakukan hal tersebut, maka izinnya akan dicabut," jelas Ganjar.

Ganjar juga menambahkan bahwa pengendalian pangan yang ketat akan mampu menjaga tingkat inflasi. Sebab menurutnya, ketika inflasi bagus, ketersediaan bagus, maka nutrisi akan bagus. Hal tersebut berdasarkan kajian yang dilakukan Bank Dunia yang menjelaskan bahwa saat krisis 1998 di Indonesia, tingkat nutrisi menurun pada anak-anak yang lahir pada masa tersebut.

Menteri Pertanian saat pembukaan HPS XXXVI 28/10 (Foto: Bagus DR / GNFI)
Menteri Pertanian saat pembukaan HPS XXXVI 28/10 (Foto: Bagus DR / GNFI)

Sementara itu, Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. mengungkapkan bahwa di masa perubahan iklim seperti saat ini, Indonesia menghadapi tantangan yang berat. Elnino pada tahun lalu, yang merupakan cuaca kering yang belum pernah dihadapi Indonesia dengan intensitas sebesar 2,44%. Namun Indonesia berhasil bertahan, bahkan tahun 2016 ini katanya, beras telah ada stok sebanyak dua juta ton yang akan bertahan sampai dengan bulan Mei. Padahal di bulan Maret akan terjadi panen raya kembali. Sehingga menurut Mentan, dirinya yakin beras tahun ini aman. 

Menteri Andi menjelaskan bahwa dirinya bangga dengan apa yang ditampilkan di gelaran HPS tahun ini. Dirinya memamerkan kehebatan produksi Indonesia kepada perwakilan Food And Agriculture Organization (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulder. Adanya tanaman jagung setinggi 3 meter menunjukkan bahwa produksi Jagung Boyolali berkualitas. Selain itu Mentan juga menunjukkan sapi besar hasil peternakan Indonesia. 

Terkait dengan kedaulatan pangan daging, Mentan juga mengagas program SIWAB (Sapi Betina Wajib Bunting). Program ini akan mewajibkan setiap sapi betina yang ada di Indonesia agar selalu terbuahi. Bila ada sapi yang belum terbuahi, maka harus segera dibuahi. Bila selama dua tahun tidak juga terbuahi, maka sapi tersebut harus dipotong. Menurut Mentan, program ini telah meningkatkan stok sapi di Indonesia secara signifikan. 

Ketahanan pangan merupakan isu yang menjadi perhatian di Indonesia sebab negeri ini selama beberapa tahun harus melakukan import secara masif untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Peringatan HPS ke-36 ini merupakan salah satu upaya menunjukkan bahwa hasil pertanian, perikanan dan peternakan Indonesia mampu untuk unggul. 

Sumber : GNFI
Sumber Gambar Sampul :Bagus DR / GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu