Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya perjalanan lintas Ambarawa-Bedono yang diaktifkan kembali dan menggunakan alternatif objek wisata khusus yang sangat langka, yakni menggunakan lokomotif uap. Jalur ini memiliki keunikan yaitu merupakan ada jalur bergerigi sepanjang empat kilometer, dari Stasiun Jambu ke Bedono. Jallur bergerigi ini hanya ada tiga di dunia, yakni Indonesia, India, dan Swiss.

Penumpang di dalam kereta api Ambarawa | sumber : KOMPAS.com / FITRI PRAWITASARI
Penumpang di dalam kereta api Ambarawa | sumber : KOMPAS.com / FITRI PRAWITASARI

Kereta yang dioperasikan terdiri dari satu unit lokomotif uap seri B2503 dan dua gerbong kayu, berkapasitas 80 orang dan mencapai 20 kilometer per jam. Lokomotif uap beroda gigi ini digunakan karena jalannya menanjak agar saat jalan menanjak, fungsi lokomotif sebagai pendorong gerbong, bukan penarik. Setelah melintas jalur tanjakan tersebut, kereta akan berhenti sejenak untuk mengisi air ke dalam lokomotif. Air yang digunakan merupakan aliran air irigasi di sekitar jalur kereta api.

Lokomotif B 2503 saat melintasi rel bergerigi di antara Stasiun Jambu menuju Stasiun Bedono saat launching jalur kereta api | sumber: KOMPAS.COM/SYAHRUL MUNIR
Lokomotif B 2503 saat melintasi rel bergerigi di antara Stasiun Jambu menuju Stasiun Bedono saat launching jalur kereta api | sumber: KOMPAS.COM/SYAHRUL MUNIR

Eko Sri Mulyanto, sang manajer museum Unit Preservation dan Museum PT Kereta Api Indonesia (Persero), mengemukakan bahwa tarif sewa kereta wisata ini senilai Rp 15 juta.

Jalur ini dulunya pernah aktif beroperasi pada tanggal 1 Februari 1905 dan dilakukan oleh perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Jalur ini mulanya dibangun untuk mengangkut hasil bumi, misalnya kopi.


Sumber : Travel Kompas
Sumber Gambar Sampul : KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu