Kreativitas orang Indonesia dikagumi banyak orang luar. Salah satu di antara orang Indonesia yang mampu meraih simpati dari luar negeri adalah Ivan Mulia. Berbekal ide, imajinasi, dan kreativitas di bidang seni, Ivan mampu menarik minat pasar dan musisi, terutama di Eropa, dengan gitar resonator buatannya.

SEORANG seniman di bidang pembuatan alat musik seperti gitar acap disebut dengan luthier. Jika rujukannya di Indonesia, sudah ada beberapa luthier yang memiliki nama. Namun, untuk yang berfokus di genre delta blues, mungkin hanya Ivan Mulia yang sudah dikenal sampai luar negeri. Gitar handmade Ivan adalah gitar resonator. Gitar itu memang dipakai banyak musisi yang berfokus di delta blues. Ciri khas gitar tersebut, terbuat dari logam dan berbodi lebih tebal karena memiliki sebuah cone atau lubang berbentuk kerucut di tengah bodi. Cone dari logam itu memberikan nuansa sengau di gitar resonator, yang menjadi ciri khas musik delta blues yang lebih banyak berkembang di Eropa. ”Memang saya dari dulu pengin punya gitar resonator, sejak main musik di kampus,” kata Ivan saat ditemui di workshop-nya di kawasan Cibeureum, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Ivan di Galleri-nya | surabayaonlline.co.id
Ivan di Galleri-nya | surabayaonlline.co.id

Workshop Ivee Guitars, merek gitar resonator made in Ivan, dibangun menjadi satu dengan Aluminium Art Casting, bengkel pengecoran logam yang juga dimiliki pria berambut gondrong itu. Pengecoran logam ditempatkan di lantai dasar. Di lantai atas, Ivan membuat sebuah workshop mini yang khusus sebagai tempat eksplorasi ide dan pembuatan Ivee. Alat-alat ukir, alat casting untuk logam, berjajar rapi di meja kerja Ivan. Musik delta blues sayup-sayup juga mengalun sepanjang wawancara. Di etalase kaca, terpajang beberapa gitar resonator yang sudah dibuat Ivan. Tepat di depan pintu masuk, tergeletak tiga boks gitar dengan balutan kulit elegan. Salah satu di antaranya adalah gitar resonator berwarna ungu dengan motif gambar anak-anak yang terukir di bagian bodi. ”Ini pesanan dari Australia, sebentar lagi dikirim,” kata Ivan sambil menunjukkan karyanya itu.

Berbicara soal minat memiliki gitar resonator, Ivan menyebut keinginan itu muncul saat dirinya bersama beberapa teman kuliah menggeluti musik eksperimental ’70-an. Alumnus Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia (STISI) Bandung (kini STISI Telkom) itu menyebutkan, kegiatannya di musik eksperimental sudah menghasilkan beberapa master. ”Tapi, masternya juga nggak jalan. Sampai kami frustrasi waktu itu,” kenang Ivan. Karena musik tidak berjalan, pada 1999 Ivan beralih untuk menggeluti dunia pengecoran logam. Kebetulan, sang adik adalah lulusan teknik pengecoran logam. Karena itu, keduanya membuat bisnis bersama. Ivan bertugas di bidang kreatif, yakni membuat suvenir, sementara adiknya berfokus di bidang teknis. ”Banyak pesanan piala, patung, sampai lupa sama gitar,” ujar bapak tiga anak itu. Usaha Ivan di bidang pengecoran logam ternyata berjalan lancar. Setelah merasa stabil pada 2009, dia mulai memikirkan keinginan lamanya untuk memiliki gitar resonator. Tidak dengan membeli, pengalaman di bidang logam membuat Ivan ingin membikin sendiri gitar resonator sekaligus menjadikannya potensi usaha baru. ”Saya mulai browsing, masuk forum delta blues di luar negeri, forum pembuat gitar resonator, minta feedback dari sana, lalu mulai coba bikin,” terang Ivan.

Ivan Mulia | radarbangka.com
Ivan Mulia | radarbangka.com

Berbekal hobi musik dan keahlian membuat suvenir logam, Ivan mengembangkan idenya untuk membikin gitar resonator ala Indonesia. Karya pertama Ivan dari sisi bentuk tidak jauh berbeda dengan gitar resonator buatan luar negeri. Namun, dia menambahkan ciri khas, yakni motif-motif khas Indonesia di bodi gitar itu. ”Saya kasih motif batik, motif ulos, atau apa pun yang mengambil khas Indonesia,” kata Ivan. Selama proses membuat gitar, Ivan terus menyampaikan perkembangan produksinya di forum delta blues. Saat prototipe pertama jadi, tak disangka, ada penghargaan tersendiri terhadap karya Ivan dari forum itu. ”Mereka menilai itu karya yang beda sehingga bisa mengangkat delta blues ke level tersendiri,” papar Ivan. Dari sisi desain, gitar resonator buatan Ivan memiliki keindahan tersendiri karena dibuat dengan teknik ukir dan pengecoran dengan logam. Dari sisi suara, Ivan menyebut gitar buatannya memiliki karakter tersendiri. Ivan mengatakan bahwa cara pembuatan gitarnya berbeda dengan cara konvensional. ”Saya pakai cara sendiri. Biar ada warna baru di teknik pembuatan gitar,” ujarnya.

Cara yang dia maksud terkait dengan pembuatan gitar dari logam itu sendiri. Yaitu, memadukan aluminium dengan kuningan. Dengan keterbatasan alat, Ivan masih mampu memaksimalkan idenya menjadi sebuah gitar resonator. ”Dari sistem jointing dan assembling pelat-pelat itu, karakter suaranya ternyata berbeda,” jelasnya. Dari sisi harga, Ivan menyebut gitar buatannya berada di rentang 4.000 euro hingga 7.000 euro atau lebih dari seratus juta rupiah. Dia mengatakan, harga tersebut bukan patokan darinya. Semua penilaian soal harga gitar buatan Ivan juga berasal dari orang-orang yang terlibat di forum delta blues. ”Dengan kualitas yang saya buat, orang luar ngeset gitar saya di rentang harga segitu,” ujarnya.

Ivan Mulia | Google+ Ivan Mulia
Ivan Mulia | Google+ Ivan Mulia

Dengan lingkup genre delta blues yang terbilang kecil bila dibandingkan dengan genre lain, nama Ivan di dunia musik eksperimental itu sudah terkenal. Setelah dia punya nama di luar negeri, barulah pada 2011 Indonesia melihat kemampuannya. Hal itu terjadi saat Ivan mendapat kesempatan untuk memamerkan karyanya di ajang Mahakarya Indonesia pada 2011. Dalam ajang tahunan yang digelar sebuah produk rokok itu, Ivan memajang prototipe gitar Ivee Telecans pertamanya. Ivan menyebutkan, gitar itu kini disimpan pihak Philip Morris untuk masuk hall of fame. Namun, dari ajang itulah, papar Ivan, banyak yang tidak percaya bahwa gitar tersebut buatan orang Indonesia. ”Memang ada penghargaan terhadap buatan lokal. Eh, ini bagus. Tapi, dengan harga segitu, banyak orang balik kanan,” ujarnya, lantas tersenyum. Beberapa gitar yang dibeli orang Indonesia memang dijual lebih ”terjangkau”, yakni Rp 18 juta sampai Rp 36 juta. Dengan Ivan terlibat di ajang Mahakarya, minat terhadap gitar buatannya terus bertambah. Meski pesanan dari dalam negeri sudah bermunculan, kebanyakan tetap dari luar negeri. Saat ini saja pesanan untuk mendapatkan gitar buatan Ivan sudah antre hingga 2017.

Bukan hanya gitar resonator, Ivan kini juga memenuhi pesanan gitar elektrik dari logam. Adanya inden disebabkan Ivan sengaja membatasi produksi gitarnya. Maksimal, selama setahun, ditambah proyek pribadi, ada 20 sampai 30 gitar yang diproduksi Ivan. ”Saya memang buka order setiap awal tahun maksimal 12. Sisanya adalah proyek saya sendiri, kalau ada waktu,” kata Ivan. Produksi selama setahun itu dibagi dalam beberapa sesi. Enam bulan pertama dilalui Ivan dengan pematangan ide dan konsep. Dia menuturkan, selama enam bulan pertama dilaluinya untuk ngobrol banyak dengan pemesan. Sebagai contoh, gitar resonator ungu pesanan dari Australia tersebut adalah produk dari interaksi Ivan dengan pemesan. ”Itu setengah tahun bisa ngobrol saja. Supaya saya tahu orangnya, style dia seperti apa, nanti kebaca pola main sama setting dia. Lama-lama, akhirnya malah berteman,” ujar Ivan.

Setelah konsep terbangun, barulah Ivan menuangkan hasil perbincangan berbulan-bulan ke dalam motif. Dia mengirimkan gambar desain gitar hasil pemikirannya kepada konsumen. Setelah disetujui, barulah tiga bulan terakhir dalam satu tahun gitar diselesaikan melalui proses produksi. ”Soal desain, saya nggak mau bikin duplikat gitar merek lain. Bentuk dasar sih boleh, tapi nanti kami modif lagi. Biar tidak kelihatan menjiplak,” ujarnya. Berbicara soal pengguna, Ivan menyebut sudah ada musisi delta blues yang menggunakan gitarnya. Untuk ukuran musik pop, musisi delta blues memang tidak terkenal. Namun, nama seperti Justin Johnson dan band Sirius Plan asal Prancis saat ini sudah menggunakan gitar Ivee. Untuk gitaris tanah air, musisi blues Adrian Adioetomo juga sudah memakai gitar buatan Ivan.

Gitaris selevel Steve Vai juga pernah menggunakan produk Ivan. Memang bukan gitar. Sebab, Steve sudah terikat kontrak dengan Ibanez. Menurut Ivan, Steve pernah memesan aksesori pelat buatannya untuk dipasang dalam rangka anniversary Evo, gitar kesayangan Steve. Selain di gitar Steve, rencananya, pelat tersebut diproduksi masal untuk dipasang di semua replika gitar Evo produksi Ibanez. Namun sayang, untuk produksi masal, pihak Ibanez telat menghubungi Ivan, sementara replika sudah memasuki proses akhir produksi. ”Akhirnya, yang produksi masal nggak jadi. Namun, pelat awal tetap terpasang di gitar yang dipakai Steve,” ujar Ivan. Memasuki 2016, karya Ivan selangkah lagi akan makin dikenal dunia. Sebab, rencananya, Oktober mendatang dia mengikuti The Holy Grail Guitar Show (HGGS), yang biasa digelar di Kota Berlin, Jerman. Sejak tiga tahun lalu, HGGS tidak hanya eksklusif menampilkan karya 20 legenda pembuat gitar dunia, tapi sudah memamerkan karya sekitar 100 pembuat gitar. ”Saya sudah diminta sejak tiga tahun lalu. Tapi, saya merasa tidak siap. Sebab, selain selama ini saya memang berguru kepada mereka melalui forum, saya belum siap produk yang memenuhi syarat,” papar Ivan.

Karena itu, Ivan sejak tahun lalu memutuskan untuk membuat dua karya yang dinilai bisa menjadi tolok ukur kemampuan dirinya. Satu gitar yang sempat ditunjukkan kepada Jawa Pos adalah gitar elektrik dengan ukiran logam kuningan berbentuk naga yang sangat detail. Gambar naga itu dikombinasikan dengan ukiran naga lain yang menyatu dengan bodi gitar. ”Kenapa saya pilih naga? Karena kebetulan memang suka naga,” ujarnya, lalu tersenyum. Karya kedua yang tak kalah fenomenal adalah gitar resonator. Kali ini Ivan membangun sebuah bodi gitar dari aluminium padat yang dicetak sedemikian rupa. Untuk pelatnya, Ivan membuat ukiran dengan berbalut lapisan emas. ”Mudah-mudahan ini cukup untuk ditunjukkan di Berlin nanti,” ucap dia. 

Radarbangka.com

 Gambar utama : nurannisaa7.files.wordpress.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu