Lupa Sandi?

Makhluk ini Jadi Simbol Persatuan Tiga Etnis Besar di Semarang

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
0 Komentar
Makhluk ini Jadi Simbol Persatuan Tiga Etnis Besar di Semarang
Keterangan Gambar Utama ©akshadew.blogspot.co.id

Berbicara tentang Semarang tidak hanya berkisar seputar Lawang Sewu  dan Lumpia Gang Lombok saja yang memang sudah dikenal dimana – mana. Sebagai salah satu kota dengan mobilitas yang cukup tinggi di Indonesia, Semarang menyimpan berbagai macam hal yang tidak hanya menarik, namun juga memiliki nilai dan makna yang cukup mendalam. Kota ini memang dikenal sebagai kota multi etnis yang hidup berdampingan sejak ratusan tahun yang lalu.

Harmonisasi kehidupan antar etnis ini menimbulkan terjadinya akulturasi dan asimilasi budaya yang secara turun – temurun tetap dilestarikan dan menjadi poros kehidupan warga Semarang. Selain terwujud dalam kuliner dan kesenian, Semarang juga memiliki makhluk mitologi yang menjadi identitas kota ini. Makhluk ini bukan makhluk biasa, karena ia mewakili keberagaman yang ada di Kota Semarang. Warak Ngendog, namanya.

Warak Ngendhog, simbol diversitas yang diarak pada perayaan Dugderan (sumber : fofografi.net)
Warak Ngendhog, simbol diversitas yang diarak pada perayaan Dugderan (sumber : fofografi.net)

Warak Ngendhog berwujud binatang dengan tiga bagian tubuh yang merepresentasikan tiga etnis besar di Kota Semarang yaitu Tionghoa, Arab, dan Jawa. Representasi Tionghoa diwujudkan lewat bentuk kepala Warak Ngendhog yang serupa dengan Barongsai, sementara sosok tubuhnya yang serupa dengan Buraq melambangkan etnis Arab. Etnis Jawa sendiri diwakili lewat keempat kaki Warak Ngendhog yang mirip dengan kaki kambing. Selain itu, ciri yang khas dari Warak Ngendhog ini adalah bentuk lehernya yang lurus. Bentuk ini mengandung filosofi yang mendalam, yaitu bahwa masyarakat Semarang merupakan orang – orang yang terbuka lurus dan berbicara apa adanya.

Tidak ada yang tahu asal muasal datangnya Warak Ngendog. Namun sejatinya, makhluk ini dipercaya merupakan simbol Kota Semarang dan dikenal secara meluas oleh para warganya. Warak Ngendhod berasal dari dua kata yang berasal dari dua bahasa. Warak merupakan turunan dari kata Warai yang berarti suci, sementara ngendhog berasal dari bahasa Jawa yang artinya bertelur. Jika diartikan, Warak Ngendhog memiliki arti hasil pahala yang didapatkan oleh seseorang setelah menjalani bulan suci. Artinya bahwa siapa yang menjaga kesucian/kebaikan selama bulan Ramadhan maka akan mendapatkan pahala di hari lebaran.

Baca Juga

Warak Ngendhog hanya muncul satu kali dalam setahun, yaitu pada perayaan tradisi Dugderan, sebuah perayaan yang dilakukan oleh warga Semarang untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Pada perayaan Dugderan, warga akan melakukan kirab budaya dam mengarak Warak Ngendhog sebagai simbol dari perayaan festival tersebut. tidak hanya menjadi penanda awal bulan puasa, kirab budaya Dugderan juga menjadi simbol persatuan dan kesatuan masyarakat lintas etnis di Semarang.  Warak Ngendhog menjadi simbol bagaimana masyarakat Semarang hidup secara berdampingan di tengah begitu banyak perbedaan yang ada, namun tetap menjunjung tinggi nilai – nilai persatuan yang patut untuk dipertahankan dan dilestarikan sebagai kearifan lokal yang bernilai tinggi. Betapa perbedaan itu indah..  


Sumber : visitsemarang.com, boombastis.com, 

Pilih BanggaBangga82%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang9%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau9%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas