Lupa Sandi?

Gelora Semangat Perjuangan dalam Aransemen Melodi Ismail Marzuki

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Gelora Semangat Perjuangan dalam Aransemen Melodi Ismail Marzuki

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja sepanjang masa

Baca Juga

***

Siapa tak kenal lagu Rayuan Pulau Kelapa itu? Lagu wajib nasional yang sering kita nyanyikan di sekolah ini merupakan salah satu maha karya Ismail Marzuki, anak Betawi penggelora semangat perjuangan. Lahir di Kwitang pada 11 Mei 1914, Ismail Marzuki yang semasa kecil dipanggil dengan sebutan Maing ini merupakan salah satu maestro musik legendaris yang bakat seninya memang sulit dicari bandingannya.

Kesukaannya pada musik sudah ada sejak ia masih belia. Orang tua Ismail Marzuki termasuk golongan masyarakat Betawi yang berpikiran maju. Oleh ayahnya ia disekolahkan di Sekolah Kristen HIS Idenburg, Menteng. Namun, karena khawatir pola pikirnya jadi kebarat-baratan, iapun dipindahkan ke Madrasah Unwanil-Falah di Kwitang. Karena kesukaannya pada musik, setiap Ismail naik kelas ia selalu diberikan instrumen-instrumen musik baru seperti harmonika, mandolin, dan gitar. Lulus dari madrasah, ia pun masuk sekolah MULO dan membentuk grup musik sendiri.

Sejak kecil Ismail Marzuki sudah jatuh cinta dengan musik
Sejak kecil Ismail Marzuki sudah jatuh cinta dengan musik

Pada awalnya, Ismail Marzuki bekerja sebagai penjual piringan hitam kemudian karena telah mengenal banyak artis dan musisi, ia pun meningkatkan jenjang karirnya sebagai musisi. Ia bergabung dengan perkumpulan orkes musik Lief Jawa sebagai pemain gitar, saksofon, dan harmonium pompa. Tahun 1934, Belanda membentuk Nederlands Indische Radio Omroep Maatshappij (NIROM) dan orkes musik Lief Java mendapat kesempatan untuk mengisi acara siaran musik. Tapi Ma'ing mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu Barat, kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri antara lain "Ali Baba Rumba", "Ohle le di Kotaraja", dan "Ya Aini". Lagu ciptaannya kemudian direkam ke dalam piringan hitam di Singapura. Orkes musiknya punya sebuah lagu pembukaan yang mereka namakan Sweet Jaya Islander.

Sejak saat itu, pada tahun 1937 Ismail mulai mempelajari berbagai jenis lagu tradisional dan lagu barat. Dari situlah ia banyak menciptakan lagu-lagu bernuansa romantisme. Kemudian, pada awal perang Dunia II tahun 1940, kehidupan Indonesia mulai terpengaruh. Radio NIROM mulai membatasi acara siaran musiknya sehingga membuat para aktivis musik Betawi mendirikan radio sendiri bernama Vereneging Oostersche Radio Omroep (VORO).

Ismail Marzuki menjadi pahlawan nasional lantaran semangat juangnya melawan penjajah melalui musik
Ismail Marzuki menjadi pahlawan nasional lantaran semangat juangnya melawan penjajah melalui musik

Pada kurun waktu tahun 1943-1944 ketika tentara Jepang mulai masuk ke Indonesia, Ismail pun mulai menuliskan lagu-lagu perjuangan. Namun, lagu-lagu Ismail Marzuki kala masa penjajahan Jepang itu dianggap sebagai bentuk provokasi oleh para penjajah. Oleh karenanya, Ismail Marzuki juga pernah ditangkap oleh Kenpetai karena lagunya yang berjudul Indonesia Pusaka dan Bisikan Tanah Air dianggap memprovokasi masyarakat untuk melawan penjajah Jepang. Namun, meski mendapatkan ancaman dari Kenpetai, Ismail tidak takut dan terus menulis lagu-lagu perjuangan khususnya pada saat pecahnya Perang Dunia II, Ismail semakin produktif menulis lagu perjuangan.

Ismail Marzuki selalu terinspirasi dari berbagai peristiwa perlawanan pasukan Indonesia terhadap para penjajah dalam penciptaan lagunya. Karya yang membuat para perwira bergelora untuk berjuang pada masa penjajahan Jepang di antaranya adalah lagu Mars Gagah Perwira yang diciptakan untuk memberi semangat perjuangan kepada para pasukan Peta dan pada tahun 1944 ia menulis lagu Rayuan Pulau Kelapa. Begitu pula dengan lagu Halo-halo Bandung yang diciptakannya pada tahun 1948 ketika Ismail bersama istri pindah ke Bandung.

Untuk mengenang jasa-jasanya, didirikan Taman Ismail Marzuki di Jakarta dan sering menjadi tempat pertemuan para sastrawan dan seniman Indonesia
Untuk mengenang jasa-jasanya, didirikan Taman Ismail Marzuki di Jakarta dan sering menjadi tempat pertemuan para sastrawan dan seniman Indonesia

Semangat perjuangan yang dilakukan Ismail Marzuki melalui musik pun terus mengalir dalam tubuhnya hingga akhir hayatnya. Sesaat sebelum meninggal pada 25 Mei 1958, Ismail masih sempat menciptakan lagu ciptaannya yang ke-103 namun tidak sempat diberi judul dan syair. Pada tahun 2004 Ismail Marzuki memperoleh gelar pahlawan nasional dari pemerintah Indonesia.

Gelar tersebut memang pantas disematkan pada Ismail Marzuki karena selama hidupnya ia memperjuangkan kemerdekaan melalui syair lagu. Lagu-lagu yang diciptakannya mampu membakar semangat perlawanan para pribumi terhadap para penjajah. Tak hanya itu, nama Ismail Marzuki juga diabadikan dalam sebuah pusat kesenian dan kebudayaan bernama Taman Ismail Marzuki di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.


Sumber Gambar : alchetron.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie