Lupa Sandi?

Abu-abu 10 November 1945: Pahlawan dan Jiwa Kepahlawanan

Ranu Jiwa
Ranu Jiwa
0 Komentar
Abu-abu 10 November 1945: Pahlawan dan Jiwa Kepahlawanan

10 November 1945 menjadi tonggak sejarah perjuangan Bangsa Indonesia khususnya arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang kala itu masih seumur jagung. Patriotisme pemuda Surabaya kala itu memang patut diacungi jempol dan sudah selayaknya menjadi contoh semangat anti ditindas.

Sedikit menyinggung terkait sejarah yang terjadi, kala itu arek-arek Suroboyo tidak senang dengan kehadiran tentara Sekutu di Surabaya yang bertujuan mengurus tahanan perang dan memulangkan mereka. Dipimpin oleh Brigjen A.W.S Mallaby, mereka berkantor di Gedung Internatio dekat Jembatan Merah. Ketidak senangan arek-arek Suroboyo bermula dari kecurigaan mereka bahwa ada maksud lain dari kedatangan tentara Sekutu ini, yaki juga melucuti senjata mereka yang diperoleh sebagai rampasan perang kemerdekaan baik dari tentara Belanda maupun Jepang. Kecurigaan ini makin memuncak karena tentara Sekutu terlihat di tempat-tempat strategis di Kota Surabaya. Sebagai penduduk asli Surabaya, mereka merasa semakin terintimidasi dan terpojokkan, akhirnya meletuslah perang antara pemuda Surabaya melawan tentara Sekutu selama tiga hari yaitu 28, 29 dan 30 Oktober 1945 yang dimenangkan oleh arek-arek Suroboyo.

Singkat cerita, setelah melewati perundingan yang juga melibatkan Presiden Soekarno bersama jajarannya maka diadakan gencatan senjata yang akhirnya juga dikhianati oleh tentara Sekutu pimpinan Brigjen A.W.S Mallaby sehingga meletuslah perang yang memuncak pada tanggal 10 November 1945. Serangan sendiri dimulai oleh tentara Sekutu yang membombardir Surabaya. Adapun peristiwa penting dalam pertempuran berhari-hari itu adalah tewasnya Brigjen A.W.S Mallaby dan perobekan kain biru pada bendera Belanda di Hotel Yamato.

Keseluruhan rangkaian pertempuran ini tidak lepas dari jasa Bung Tomo (Soetomo) yang mengobarkan semangat juang rakyat Surabaya lewat orasinya baik di lapangan maupun lewat radio. MERDEKA ATAU MATI! ya, kalimat itu merupakan judul orasi yang melecut semangat arek-arek Suroboyo untuk mempertahankan kemeredekaan Indonesia hingga titik darah penghabisan. Orasi atau pidato Bung Tomo kala itu membangkitkan jiwa patriotisme rakyat Surabaya untuk tidak tunduk begitu saja pada tentara Sekutu yang dicurigai ingin menebar teror di Surabaya bahkan hingga melucuti senjata dan ditakutkan menjajah kembali Indonesia.

Baca Juga

Hal menarik ketika lebih jauh ditelisik ternyata Bung Tomo sang orator ulung tidak memimpin perjuangan rakyat Surabaya dalam pertempuran lapangan. Bung Tomo memimpin "serangan udara" lewat orasi MERDEKA ATAU MATI! Lantas siapa yang memimpin serangan lapangan hingga menewaskan Brigjen A.W.S Mallaby dan terjadi perobekkan bendera Belanda di Hotel Yamato?

Ia adalah Soemarsono, pemimpin organisasi PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang menghimpun seluruh kekuatan pemuda di Surabaya. Bung Tomo kala itu juga tergabung dalam PRI sebagai ketua bidang penerangan. Jasa Soemarsono juga sangat besar, ia memimpin komando serangan darat yang bertujuan mengusir tentara Sekutu dari tanah Surabaya. Soemarsono menghimpun rakyat Surabaya untuk menyerang Hotel Yamato dan melakukan perobekkan bendera. Hal ini tentunya tidak mudah, mengingat saat itu mereka harus berhadapan dengan tentara Sekutu. Tidak sekedar memimpin perobekkan bendera, pertempuran berhari-hari yang dimulai pada tanggal 28 Oktober 1945 juga dipimpin oleh Soemarsono. Ia juga merupakan sosok yang tidak senang ketika terjadi perundingan gencatan senjata antara Presiden Soekarno dengan D.C. Hawtorn sebagai komandan tertinggi tentara Sekutu di Singapura. Menurutnya perjuangan arek-arek Suroboyo harus dilakukan dengan pertempuran demi mengusir tentara Sekutu.

Soemarsono sendiri hingga saat ini tidak pernah disebutkan dalam buku sejarah. Hanya Bung Tomo yang kita kenal sebagai ikon pertempuran yang memuncak pada 10 November 1945. Pengabu-abuan sejarah ini tidak terlepas dari latar belakang Soemarsono yang merupakan anggota PKI ilegal (Partai Komunis Indonesia). Ia "disingkirkan" dari arsip perjuangan arek-arek Suroboyo bngaahkan harus hidup dipenjara selama bertahun-tahun akibat keterlibatnya dalam organisasi sayap kiri tersebut.

Menarik untuk diketahui bahwa jiwa kepahlawanan yang selama ini kita pahami adalah berbesar hati menerima kenyataan. Jiwa kepahlawanan merupakan esensi yang jauh lebih penting daripada mempersoalkan siapa yang paling berjasa apakah Bung Tomo atau Soemarsono. Jiwa kepahlawanan adalah berani membuka tabir sejarah sepelik apapun itu, semata-mata untuk mengajarkan arti kebenaran dan keadilan kepada generasi selanjutnya. Biarlah mereka paham bahwa sejarah perjuangan Indonesia merupakan hasil jerih payah seluruh golongan, organisasi, lapisan bahkan agama yang ada di Indonesia. Semangat ini yang perlu ditanamkan dalam-dalam pada generasi muda Indonesia sehingga tidak mudah tersulut emosi berujung perpecahan dan saling menjatuhkan yang belakangan santer terdengar.

Selamat Hari Pahlawan 10 November.

Jasa para pahlawan menjadi teladan.
Jiwa kepahlawanan menjadi semangat persatuan.

Sumber: Tulisan Pribadi

kejelasan artikel silakan kunjungi: http://www.kaskus.co.id/thread/545ff40a0d8b46e1058b456b/soemarsono-tokoh-kunci-dalam-pertempuran-surabaya/

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi80%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RANU JIWA

Another human being. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie