Lupa Sandi?

Deru Perjuangan Yang Mulia dalam Karya Sastranya

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Deru Perjuangan Yang Mulia dalam Karya Sastranya

I Gusti Ngurah Made Agung bersikeras mengusir Belanda dari tanah Badung yang dikuasainya. Ia baru saja diangkat menjadi Raja Badung VII pada 1902 dan menolak keras melanjutkan isi Perjanjian Kuta antara raja-raja di Bali dengan colonial Belanda yang telah ditandatangani sejak 13 Juli 1849.

Made Agung kala itu sudah menyadari bahwa isi perjanjian tersebut amat merugikan kemerdekaan semua kerajaan di Bali. Terlebih, isi perjanjian itu menyebutkan kolonial juga bisa ikut campur dalam internal kerajaan Bali. Satu hal yang membuat Made Agung murka terhadap Belanda adalah ketika pemerintah Belanda melarang pelaksanaan upacara ‘Mesatye’ atau pengorbanan bunuh diri permaisuri dalam upacara pembakaran jenazah Raja Tabanan pada 1903.

I Gusti Ngurah Made Agung sangat terkenal dengan upayanya mempertahankan tanah Badung dari rebutan Belanda
I Gusti Ngurah Made Agung sangat terkenal dengan upayanya mempertahankan tanah Badung dari rebutan Belanda

Made Agung bukanlah sekadar raja bagi masyarakat Badung. Ia juga dikenal sebagai seniman terutama di bidang kesusastraan. Kebenciannya terhadap Belanda banyak dituangkan ke dalam karya-karya sastra dan dari situlah ia membangkitkan semangat perjuangan masyarakat Bali untuk melawan para penjajah. Mengusirnya dan membersihkan Bali dari tangan-tangan Belanda.

Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi atau Cok Rat, salah seorang cicit I Gusti Ngurah Made Agung, berkisah, buyutnya tersebut memang sangat menyukai sastra. Selama hidupnya, Made Agung telah melahirkan banyak karya besar seperti Geguritan Dharma Sasana, Niti Raja Sasana, Nengah Jimbaran, Kidung Loda, Kakawin Atlas, Geguritan Purwa Senghara, dan Hredaya Sastra.

Kata Cok Rat, isi dari karya-karya buyutnya itu berisi kata-kata penyemangat perjuangan. “Satu kalimat yang saya sukai adalah ‘Makin banyak orang kaya saya senang, asal jangan kekayaan itu karena mencuri’,” ujar Cok Rat.

Di bidang sastra, ia dikatakan sebagai sosok pembahari yang memberikan sumbangan berharga bagi perkembangan sastra Bali pada zamannya. Ia tidak semata-mata melakukan pembaruan tersebut lantaran telah populer dengan karyanya Geguritan I Nengah Jimbaran yang berbahasa Melayu. Lebih dari itu, Made Agung tengah berupaya menumbuhkan kesadaran dalam menafsirkan kembali tradisi dan nilai-nilai tradisional yang bersumber pada sastra.

Tak cukup hanya berjuang melalui sastra, Made Agung yang sudah geram dengan tingkah Belanda lantaran mendesak Kerajaan Badung untuk membayar ganti rugi atas tuduhan pencurian barang-barang dari kapal Sri Kumala milik Kwee Tik Tjiang, seorang pelaut dari Banjarmasin yang tengah melaut di Sanur, memutuskan untuk turun ke medan perang. Ia betul-betul tak sudi tanahnya dijajah.

Raja Badung VII ini rela turun langsung dan berada di garda depan dalam Perang Puputan, Bali
Raja Badung VII ini rela turun langsung dan berada di garda depan dalam Perang Puputan, Bali

Puncaknya pada Perang Puputan yang menjadi perang besar di Bali. Kala itu Made Agung masih berusia 30 tahun, namun ia tak gentar berada di garda depan pasukan perang demi mengusir penjajah. Sang Raja yang tak gentar itu pun gugur di medan perang tersebut pada 22 September 1922.

“Beliau telah melakukan perjuangan mati-matian. Nilai perjuangan beliau adalah cita cita keteguhan bahwa kita harus terbebas dari negeri terjajah. Apapun akan lebih baik menjadi negeri yang tidak terjajah,” ungkap Cok Rat.

Made Agung pun kala itu terus menyuarakan semangat perjuangan kepada masyarakat di Badung. Ia mengumumkan kepada rakyatnya, bagi siapa saja yang mau ikut berperang silakan ikut, sementara bagi yang tidak ingin turun silakan menjaga anak dan istri di rumah.

Keteguhan hati I Gusti Ngurah Made Agung tersebut diapresiasi besar oleh pemerintah Indonesia. Atas perjuangannya, Raja Badung VII tersebut mendapatkan gelar pahlawan nasional pada 4 November 2015 dan dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo.

*

GNFI

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara