Lupa Sandi?

Kepercayaan Dan Tradisi Yang Tak Lepas Dari Tana Torja

dwi andayani
dwi andayani
0 Komentar
Kepercayaan Dan Tradisi Yang Tak Lepas Dari Tana Torja

Tana Toraja, Kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini menjadi salah satu bukti akan kayanya budaya yang terdapat di Indonesia. Keelokan alam dan kentalnya budaya yang dimiliki membuat nama Tana Toraja dikenal hingga ke Internasional.

Masyarakat suku Toraja masih memegang teguh keyakinan serta adat yang mereka punya, hal ini yang membuat Tana Toraja menjadi salah satu situs warisan budaya dunia yang terdaftar di UNESCO. Salah satu hal yang menjadi daya tarik Tana Toraja adalah upacara pemakaman atau ritual penguburan, yang dapat dikatan menyeramkan dan terbilang rumit untuk dilakukan.

Upacara adat serta ritual yang digelar oleh masyarakat Tana Toraja sebagai bentuk pelestarian tradisi dan penghormatan kepada nenek moyangnya, beberapa upacara adat hingga tempat pemakaman yang unik tersebut diantaranya Tradisi Ma’nene, Upacara Rambu Solo, Londa, Bori Parinding dan Pohon Tarra.

Penasaran seperti apa upacara adat dan tempat pemakaman tersebut ? Berikut ulasannya.

Tradisi Ma’nene

Tradisi Ma’nene dilakukan untuk mengenang para leluhur, yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Isi dari tradisi ini adalah melakukan pembersihan terhadap jenazah atau mayat dari keluarga serta kerabat mereka. Caranya yaitu dengan mengeluarkan mumi jenazah dari dalam peti, kemudian dibersihkan dan digantikan pakaiannya dengan pakaian yang baru. Tradisi Ma’nene ini secara khusus dilakukan oleh masyarakat Baruppu yang tinggal dipedalaman Toraja.

Peti Jenazah para leluhur yang akan dibersihkan dikeluarkan dari dalam liang gunung batu, kemudian mayat dikeluarkan dengan diiringi pembacaan doa-doa dalam bahasa Toraja kuno. Mayat yang sudah dikeluarkan akan dibersihkan dengan menggunakan kain bersih, setelah dibersihkan mayat didandani serta dipakaikan baju baru dan kemudian di dirikan.

Menariknya mayat tersebut dapat berdiri tegak bahkan berjalan, hal ini diyakini terjadi berkat pembacaan doa dan mantra yang dipanjatkan oleh para tetua dan pemimpin tradisi sebelum tradisi tersebut dimulai. Tradisi ini lah yang menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Upacara Rambu Solo

Selain tradisi Ma’nene destinasi yang tak kalah populer di Tana Toraja bagi para wisatawan adalah upacara Rambu Solo, upacara ini merupakan ritual penguburan khusus bagi orang yang telah meninggal. Bagi masyarakat Toraja orang yang telah meninggal dianggap sebagai orang yang sedang sakit, sehingga masih terus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup. Seperti diberikan makanan, minuman, sirih, rokok dan berbagai sesajen lainnya yang digemari oleh mayat tersebut semasa hidupnya.

Kepercayaan lain yang diyakini yaitu bahwa orang telah meninggal dunia harus diberikan upacara penguburan yang layak dengan aturan-aturan yang ada, konon bila upacara Rambu Solo tidak dilakukan maka akan terjadinya kemalangan dan bencana yang diberikan oleh arwah yang telah meninggal bagi orang atau kerabat yang ditinggalkan.

Upacara Rambu Solo memiliki rangkaian kegiatan yang cukup banyak, membutuhkan persiapan waktu hingga berbulan-bulan dan biaya yang tidak sedikit. Salah satu yang menjadi cirikhas dalam tradisi ini yaitu adanya kegiatan wajib memotong kerbau dan babi dengan jumlah yang ditentukan oleh tetua adat, semakin kaya dan tingginya pangkat seseorang maka semakin mahal pula biaya yang dikeluarkan untuk upacara penguburan.

Kegiatan lain yang terdapat pada Upacara Rambu Solo adalah menyiapkan kuburan bagi jenazah, kuburan tersebut dibuat dibagian atas tebing batu yang tinggi. Masyarakat Tana Toraja meyakini bahwa semakin tinggi jenazah tersebut dimakamkan maka semakin cepat pula arwah mereka untuk sampai ke surga. Upacara ini juga diiringi dengan musik, nyanyian, lagu-lagu serta lain sebagainya. Selama upacara penguburan ini berlangsung, jenazah disimpan di dalam rumah leluhur (Tongkonan) dengan dibalut kain.

Setelah upacara selesai jenazah baru akan dibawa dan dikuburkan di tempat yang sudah disiapkan, mereka percaya bahwa selama upacara belum selesai maka arwah jenazah tersebut masih terus berada di desa dan sekitar tempat tinggalnya sampai upacara selesai. Biasanya upacara penguburan ini berlangsung selama 2-3 hari yang dimulai di siang hari, lain halnya dengan golongan bangsawan upacara dapat berlangsung hingga hampir 2 minggu.

Londa

Belum ke Toraja bila belum ke Londa, hal inilah yang kerap kali kita dengar. Londa adalah sebuah kompleks pemakaman yang terletak disebuah tebing batu, letaknya yang dikelilingi pegunungan membuat suasana di sekitar Londa menjadi sejuk bahkan cenderung dingin.

Sepanjang tebing di kompleks pemakaman Londa terdapat gua atau lubang-lubang yang memang sengaja dibuat atau dipahat untuk meletakkan peti jenazah, penempatan peti pada londa diatur dan disesuaikan berdasarkan garis keluarga. Yang membuat lebih menarik adalah adanya patung kayu atau biasa disebut dengan Tau-Tau, patung ini diletakkan disetiap gua atau lubang yang terdapat di tebing batu.

Patung-patung tersebut dipahat menyerupai orang yang telah meninggal dan diletakkan di dalam goa tersebut, setiap detail pada wajah sangat diperhatikan dalam proses pembuatan patung, seperti kerut dan kendur pada wajah. Deretan patung ini seolah menjadi penjaga dan identitas untuk jenazah yang terdapat disana.

Di sekitar Tau-Tau juga terdapat makam gantung, makam yang biasa disebut erong memiliki posisi peti yang disangggah dengan kayu-kayu, sehingga peti mati yang berada diatas tebing ini aman dan tidak jatuh. Makam gantung ini merupakan makam yang diperuntukan bagi para bangsawan dan kaum terhormat yang meninggal. Dimana tempat diletakkannya peti mati ini di ukur berdasarkan tingkat jabatan atau derajatnya.

Bori Parinding

Beragam keunikan makam terdapat di Toraja, selain Londa terdapat pula komplek pemakaman Bori Parinding. Pemakaman ini merupakan komplek pemakaman kuno yang telah digunakan sejak tahun 1717, namu berbeda dengan Londa komplek pemakaman ini hanya diperuntukkan untuk keluarga bangsawan yang merupakan keturunan Ramba.

Keunikan lain yang menjadi sorotan di Bori Parinding, yaitu adanya batu- batu menhir raksasa yang terdapat di depan Bori Parinding. Batu- batu ini difungsikan untuk mengikat hewan yang akan disembelih dalam upacara Rambu Solo, seperti kerbau, babi, sapi dan anoa.

Pohon Tarra

Masih dengan keunikan makam yang terdapat di Tana Toraja, di sekitar Bori Parinding juga terdapat Pohon Tarra yang merupakan makam khusus yang diperuntukan bagi bayi yang meninggal. Tidak seperti pemakaman lain yang berada di tebing, pemakaman ini berada di sebuah pohon yang di sebut Pohon Tarra dan area pohon tersebut diberi nama Passiliran atau Kambira Baby Grave.

Pohon Tarra merupakan Pohon yang diperkirakan berumur ratusan tahun, pada pohon ini terdapat beberapa ijuk yang berasal dari tanaman enau yang menempel ppada batang pokon Tarra. Pohon ini juga memiliki kandungan getah yang sangat banyak, getah tersebut dianggap sebagai pengganti air susu ibu bagi bayi yang meninggal.

Namun tidak semua bayi yang meninggal di makamkan di pohon ini, melainkan hanya bayi yang belum memiliki gigi, masyarakat Toraja mempercayai bahwa bayi yang belum memiliki gigi merupakan bayi yang masih suci. Proses pemakaman pada pohon Tarra ini yaitu dengan membuat lubang pada pohon kemudian jenazah bayi diletakkan di dalamnya dan lubang akan ditutup dengan menggunakan ijuk dari tanaman enau.

Tana Toraja memang terkenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang masih memiliki kepercayaan kuat terhadap hal gaib dan mistis, namun hal inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk mengunjungi Tana Toraja. Bagi anda yang senang mencari tau bergam budaya yang terdapat di Indonesia, anda wajib datang ke Tana Toraja!

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG DWI ANDAYANI

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas